Cinta Di Balik Pintu Gerbang

Penulis: Tami Sulistyo

Diterjemahkan oleh: Api Sulistyo

Saat saya mengunci sepeda motorku yang ‘berharga’ dini hari itu, saya ingat dengan jelas cara berpikirku bahwa jika sepeda motor saya dicuri, itu kerena kesalahan saya dan saya tidak akan bisa menyalahkan siapa pun kecuali diri sendiri.

Malam itu saya pulang ke tempat kos jauh melewati batas waktu yang ditentukan. Saya meluangkan waktu bersama seorang cowok yang saya sukai. Cowok itu sekarang telah menjadi suami saya selama 22 tahun. Saya bekerja sebagai guru/dosen, tinggal di Yogyakarta, Indonesia. Saya membayar uang kos and uang makan kepada ibu kos yang ketat. Dia menyewakan kamar kos dan mempersiapkan makan malam setiap hari di rumahnya untuk beberapa mahasiswi atau cewek yang barusan lulus kuliah seperti saya dan memulai karirnya. Rumahnya memiliki halaman yang cukup luas, teras yang nyaman, dan dikelilingi oleh pagar tinggi dan pintu gerbang dengan kawat berduri di atas untuk menambah rasa aman.

Saya tahu jam berapa saya harus pulang. Saya tahu bahwa saya harus patuh. Saya tahu saya adalah seorang tamu yang tinggal di budaya yang masih memegang teguh norma-norma sosial tradisional dan konservatif mereka untuk secara kolektif melindungi keselamatan dan reputasi wanita muda yang belum menikah. Tapi saya pikir itu tidak akan ada masalah. Saya sudah dewasa, ya kan? Dan saya dibesarkan di Minnesota dengan orangtua yang mendorong saya dari usia yang sangat dini untuk berwawasan independen dan berpikir ‘outside the box’. Saya hanya ingin manjadi diri saya sendiri. Saya akhirnya bergegas pulang, melaju mengendari sepeda motor saya, menikmati udara malam yang sejuk, di jalan yang lenggang, bebas dari keramaian hiruk pikuk lalu lintas. Saya merasa nyaman dengan diri saya sendiri, walaupun sedikit khawatir di belakang pikiran saya tentang jam malam yang telah ditentukan. Aku mengangguk sopan kepada bapak-bapak peronda yang sedang merokok dan bermain kartu di pos ronda. Sambil terus melaju saya senang bahwa ada sistem keamanan lingkungan (siskamling).

pagar-kawat-berduri-untuk-perlindungan-maksimum-di-belakang-rumahSaat mendekati pintu gerbang rumah yang kokoh dan tinggi, saya langsung tahu bahwa pintu terkunci rapat. Anak-anak kos biasanya tidak diberi kunci, karena kita sepenuhnya diharapkan pulang sebelum jam malam. Saya menyadari hal ini adalah pernyataan yang jelas ditujukan langsung pada saya oleh ibu kos.  Saya tahu tanpa ragu bahwa ibu kok menyadari bahwa aku belum pulang.  Saya langsung bisa merasakan sikap diamnya sebagai tanda ketidaksetujuannya. Saya melihat inilah cara dia menunjukkan bahwa saya tidak patuh. Saya mempertimbangkan beberapa pilihan sambil duduk di sepeda motor di luar pintu gerbang di bawah sinar lembut lampu jalan. Ini terjadi sebelum ada HP. Saya tidak punya uang untuk nginap di hotel. Saya pasti tidak mau kembali ke rumah teman saya karena kami belum pacaran. Saya masih cukup baru di Indonesia dan tidak tahu harus pergi ke mana.

Saya harus masuk rumah. Saya melihat ke atas dan memutuskan untuk lompat pagar. Melihat adanya kawat berduri, saya teringat hal ini adalah yang kedua kalinya saya harus lompat pagar. Sewaktu kuliah tahun ke tiga, saya belajar di Beijing selama musim panas. Suatu malam dengan teman kos saya, kami keluar malam sampai larut dan waktu kembali ke asrama, pintu gerbang sudah terkunci. Kami memanjat pagar dan dengan hati-hati menghindari kawat berduri. Setelah lompat pagar kami baru menyadari bahwa kami tidak berada di hotel kami dan kami tidak mengenali tempat itu. Sialan! Salah alamat. Untungnya kami bisa keluar lagi dan semua nggak ada masalah. Belakangan kami ketahui bahwa malam itu kami memasuki gedung pemerintah. Bisa menjadi gara-gara.

Sementara ingatan melintas di kepalaku, saya kunci motorku yang berharga sampai terdengar suara klik. “Jika sepeda motor ini hilang malam ini, itu semua karena kesalahan saya dan saya tidak akan bisa menyalahkan siapa pun kecuali diriku sendiri,” pikir saya. Saya akan tanggung sendiri. Saya kira  saya sudah punya rasa tanggung jawab pribadi saat itu, meskipun saya tidak dikenal seperti itu. Saya pastikan sepeda motorku jauh dari jalan, kudorong ke dekat pintu gerbang, jauh dari bayangan dan di bawah cahaya lampu. Saya menarik napas dalam-dalam dan entah bagaimana, saya benar-benar tidak ingat bagaimana, saya bisa memanjat pagar yang tinggi dan melompat tanpa goresan atau luka sedikitpun dari pagar kawat berduri. Wah, aman deh. Setelah mengamati keadaan sekeliling, saya tidak melihat siapapun. Saya bergegas ke pintu depan, tapi sayang sekali pintunya terkunci rapat juga. Tak satupun anak asrama diberi kunci rumah karena selalu ada orang sebelum jam malam.

Sekarang mau apa? Saya bayangkan tidur tak nyaman di kursi teras karena nyamuk akan menyerbu saya. Saya pikir saya punya sebersit gagasan yang jitu. Saya ingat ada satu kamar sewaan kosong di sisi rumah yang memiliki pintu sendiri. Saya putar gagang pintu, mengharapkan akan dikunci juga, tapi dengan tahan napas saya tetap mencoba, dan sim sala bim! Pintu terbuka. Rasa lega lagi. Saya masuk, menutup pintu, menguncinya, dan langsung pergi tidur. Merasa bersyukur karena akhirnya bisa membaringkan badanku.

honda-astrea-starMungkin satu jam kemudian, saat tertidur nyenyak, saya dikejutkan dan terbangun oleh teriakan-teriakan  dicampur dengan ketak-sabaran dan kemarahan. Ada yang menggedor pintu kamar di mana saya tidur. Saya bangun dan loncat dari tempat tidur, dan cepat-cepat membuka pintu. Seorang wanita tua  menatapku penuh kemarahan dan belum pernah melihatnya. Saya tidak tahu siapa dia, tapi saya bisa lihat dari sudut mata saya bahwa pintu gerbang ke jalan sekarang terbuka lebar. Wanita tua ini menuding-nuding ke arah saya, menggerakan jari telunjuknya dengan amarah besar persis di depan wajahku. Dia tak henti-hentinya berteriak pada saya dengan hamburan kata-kata keluar secepat kilat dan sama sekali tak kumengerti maksudnya. Saya juga tidak tahu apakah dia berbicara bahasa nasional atau dialek lokal, dan pada saat itu kemampuan bahasa Indonesia saya baru tingkat dasar.

Saya sangat terkejut karena yang saya ingat waktu membaca, mendengar dan menyaksikan langsung di masyarakat, salah satu nilai di Indonesia yang sangat kuat adalah harmoni dan kecenderungan untuk menghindari konflik. Seperti tersambar petir karena saya mengalami yang sebaliknya dari nilai harmoni dan secara tak terduga, tiba-tiba, saya mulai tertawa. Oh tidak baik ini jadinya! Saya sama sekali tidak bermaksud menghina, tapi saya punya kecenderungan untuk tertawa di saat ada krisis yang parah. Mungkin ini cara naluriah tubuh saya menghadapi serangan mendadak yang bikin stress. Jadi memang tidak pantas, tapi saya tidak mampu mengendalikannya. Wanita tua itu langsung berhenti berteriak saat mendengar saya tertawa. Kami hanya saling memandang, menilai satu sama lain dari rambut sampai ujung kaki; kami berdua masih shock, saat ibu kos mendekati kami dari belakang dan mengambil alih situasi.

Dia menjelaskan kepada saya dalam bahasa Inggris. Karena saya pulang terlmbat, sebagai wanita lajang, dan juga karena telah meninggalkan sepeda motor di luar pintu gerbang, jika ada apa-apa yang terjadi yang membahayakan saya ataupun sepeda motor, itu akan menjadi refleksi yang sangat buruk dari seluruh lingkungan. Masyarakat ini merupakan komunitas kolektif dengan satu reputasi kelompok dan tanggung jawab kelompok untuk menjaga keamanan anggota masyarakat dan harta milik. Saya terpesona. Nilai yang baik dan indah, dan saya belum memahaminya dalam segala implikasinya karena saya tidak dibesarkan dengan nilai-nilai seperti itu.

Saya masih tetap berpegang pada nilai bahwa saya tidak bisa menyalahkan siapa pun kecuali diri saya sendiri jika sepeda motor saya rusak atau dicuri. Wanita tua itu tentu tidak tahu saya tidak akan menyalahkan siapa pun jika sepeda motor saya dicuri. Kalau saya menyalahkan orang lain, seluruh lingkungan akan kehilangan muka. Saya ingat ini adalah nilai kuat Indonesia lainnya yang telah saya pelajari, “menyelamatkan muka” – yang berarti melindungi martabat masyarakat dari seseorang, atau dalam hal ini kelompok orang yaitu masyarakat baru saya. Dengan pulang sangat terlambat, dan dengan meninggalkan sepeda motor saya di lokasi di mana itu bisa dicuri, saya akan menyebabkan lingkungan kehilangan muka jika sesuatu yang buruk terjadi. Menjaga martabat adalah kesepakatan yang sangat besar, seperti yang ditunjukkan kepada saya oleh ibu tua itu sampai dia harus melanggar kode etik harmoni dengan berteriak padaku dengan begitu kerasnya. Saya bersyukur atas pelajaran yang saya dapatkan malam itu. Saya memohon maaf secara publik dari para tetua desa keesokan harinya, yang dengan demikian memulihkan “wajah” mereka – dan kita semua melupakannya. Saya merasa tersanjung karena boleh tetap tinggal dengan nyaman di lingkungan itu, dan tidak diusir oleh masyarakat. Yang lebih penting lagi, saya boleh bersyukur karena sempat mengalami hidup dalam sebuah komunitas yang bertanggung jawab demi kesejahteraan seluruh anggotanya. Malam itu aku jatuh cinta dengan negara dan rakyat Indonesia.

Refleksi:

  • Coba megingat kembali saat anda punya masalah dan berakhir dengan mendapatkan pelajaran yang berharga, selalu diingat, dan berguna secara positive sejak kejadian itu. Apa yang anda sadari and pelajari dan bagaimana kejadian itu berguna untuk menghadapi tantangan anda sekarang?
  • Cerita apa yang anda ingat dimana anda belajar dari orang tua yang membantu membentuk anda dalam tata nilai, dan yang menjadi contoh bagaimana tingkah laku anda terpengaruhi dalam tahun terakhir?
Silahkan berbagi jawaban anda kalau tertarik dengan munuliskan jawaban di akhir halaman ini atau email storylighthouse@gmail.com
Copyright@2017StoryLighthouse

Tami Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/tamisulistyo/

 

Foto-foto pendukung:

Pagar rumah

http://typerumahidaman.com/model-desain-pagar-rumah-mewah/

kawat berduri

http://www.wirefencetrade.com/wire-mesh-fence/barbed-wire-fence.html

sepeda motor

http://modifikasimotor-ceper.blogspot.com/2010/04/honda-beat-modifikasi-ceper.html

mawar berduri

http://www.clipartvision.com/barbed-wire-corner-clipart/

red heart

https://pixabay.com/en/heart-butterfly-barbed-wire-red-1209425/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s