Tidak Merokok Nggak Jantan?

Doctor breaking a cigarette

Penulis: Api Sulistyo

Suatu sore, musim panas tahun 2002, satu setengah tahun setelah saya pindah ke Amerika setelah kerja di Singapur, dalam perjalanan pulang kerja, sedikit sesudah jam lima, saya belok ke tempat parkir sebuah perusahaan di dekat rumah. Saya duduk di kursi depan mobil kecilku dua pintu. Segera kuambil sebatang rokok dari bungkus yang sudah terbuka dan mulai merokok. Setelah sehari tidak merokok, isapan pertama terasa sangat nikmat.

Tiba-tiba beberapa menit kemudian sebuah mobil keamanan tergesa datang menghampiri saya. Seorang anggota sekuriti yang tinggi besar menghardikku.

“Ngapain kamu di sini,” tanyanya setengah membentak.

“Merokok,” jawabku sambul menunjukkan rokok yang masih menyala.

“Ini bukan tempat parkir umum. Sebaiknya kamu pergi dari sini,” suruhnya sambil mengawasi sampai saya pergi.

Rokok segera kumatikan dan pergi dari tempat parkir itu. Dalam hati aku bertanya kenapa tidak boleh berada di tempat parkir itu. Belakangan aku ketahui bahwa aku berada di parkiran Lockheed Martin, perusahaan yang memproduksi peralatan perang. Perusahaan ini sudah tidak ada lagi di dekat tempat tinggal kami dan lokasinya telah berubah menjadi tempat belanja.

Tekanan dari Luar

Sebagai perokok waktu itu saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak merokok di lokasi kerja dan di sekitar rumah. Jadi dalam perjalanan pulang kerja saya sering berhenti di berbagai termpat parkir atau pinggir jalan untuk merokok.

Aku mulai merokok waktu duduk di kelas satu SMA di Indonesia. Tidak ada larangan merokok di sekolah dan tak begitu ada batasan umur untuk bole merokok. Saya terbiasa merokok di sembarang tempat dan tidak ada masalah. Saya biasa menghabiskan sebungkus rokok kreter sehari. Rokok kegemaranku adalah Djarum Super. Tapi kalau lagi nggak punya, rokok Gudang Garam boleh juga. Malah saya pernah membangunkan kakek saya untuk minta ‘udud’nya saat ketagihan. Kakek saya melinting rokoknya sendiri.

Teman sekampungku heran waktu saya bilang saya mau berhenti merokok. “Laki-laki kok nggak merokok. Nggak jantan,” begitu bantahnya. Susah bagi saya untuk menjelaskan bahwa merokok sangat bahaya bagi kesehatan. Saya takut dia akan tersinggung.

Memang saya berusaha untuk berhenti merokok semasa kuliah dan saya sempat bisa berhenti setahun lebih. Tetapi, keadaan sosial masyarakat kita tidak mendukung untuk berhenti merokok. Pada suatu malam ada pesta di rumah tetangga. Bapak-bapak dan para pemuda duduk di tikar di ruang tamu. Pada acara ‘jagongan’ ini para tamu ngobrol sana-sini sambil menikmati hidangan dan minuman. Dan tentu saja mereka merokok juga karena sudah menjadi adat istiadat.

“Silahkan rokoknya mas,” seorang bapak menawarkan rokoknya kepada saya.

“Terima kasih pak,” jawabku sambil sedikik mengangguk tapi saya tidak mengambil rokoknya.

Setelah ditawari kedua kalinya, akhirnya dengan agak sungkan saya ambil rokok dari bapak itu dan menyalakannya. Sebetulnya dia menawarkan korek apinya juga. Mestinya aku katanya bahwa aku lagi batuk dan tidak mau merokok. Malam itu saya mulai merokok lagi setelah berhenti setahun lebih.

Menurut Wikipedia, di Indonesia ada sekitar 57 juta perokok atau kira-kira 34% dari jumla penduduk. Berdasarkan jenis kelamin, 63% laki-laki merokok, sementara perokok wanita 5%. Lebih dari 180,000 orang bekerja di pabrik rokok kretek.

Warga Kelas Dua

Segera setelah kami menetap di Minnesota, Amerika, tempat asal istriku, saya amati bahwa tidak banyak orang merokok. Sering kulihat beberapa orang berkerumun di luar restoran atau di luar pekarangan kantor. Mereka sendang merokok. Saya mulai paham bahwa perokok dianggap sebagai pengganggu dan penyebar penyakit karena ikut menghirup asap dari perokok (second hand smoker). Karena alasan ini perokok seakan dianggap sebagai warga kelas dua di masyarakat.

Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit (Centers of Disease Control and Prevention), asap dari perokok menganggu kesehatan anak-anak dan orang dewasa. Cara satu-satunya untuk melindungi orang yang tidak merokok adalah dengan melarang merokok di rumah, di tempat kerja, dan tempat-tempat umum.

Saya mulai berkurang merokok, tetapi masih kadang merokok sembunyi-sembunyi. Saya sembunyikan rokok di mobil, tas kerja, garasi, dan tempat lainnya. Saya ingin terbebas dari rokok dan kesempatan itu tiba di bulan Juli, 2005.

Pada hari Minggu malam, saya membulatkan tekad untuk berhenti merokok mulai hari Senin. Malam itu saya merokok di garasi sambil mengumpulkan semua rokok dan korek yang saya sembunyikan. Saya tidak ingat lagi berapa batang rokok saya habiskan malam itu. Kepalaku mulai pusing dan tenggorakaku mulai serak.

Saya merasa muak dan mau muntah. Kuremas semua bungkus rokok dan beberapa korek api dan saya buang ke kotak sampah. Hari Senin adalah hari sampah di tempat tinggal kami. Truk sampah datang mengambil sampah dan daur ulang dari rumah kami.

Mulai hari Senin di pertengahan Juli 2005 itu tidak ada lagi rokok di rumah saya. Tak ada rokok di mobil maupun di tas kerja. Sepuluh tahun lebih saya berhenti merokok dan saya merasa lebih sehat. Tekanan dari luar di Amerika membuat saya bisa berhenti merokok.

Refleksi:
  • Kapan anda merasa penolakan dari masyarakat terhadap sesuatu yang menurut anda normal dan bisa diterima? Kapan anda menunjukkan penolakan pada orang lain untuk sesuatu yang mereka pikir tingkah laku yang baik
  • Kapan anda berhasil berhenti melakukan kebiasaan buruk atau menambahkan kebiasaan yang baik setelah nunggu cukup lama? Apa yang memberikan kekuatan untuk berubah, bagaimana anda melakukannya, dan apa yang anda lakukan supaya bisa berlangsung? Bagaimana anda bisa menerapkannya lagi untuk perubahan di masa depan?
Silahkan berbagi jawaban anda kalau tertarik dengan munuliskan jawaban di akhir halaman ini atau email storylighthouse@gmail.com
Copyright@2017StoryLighthouse

Api Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/api-sulistyo-4700865/

References:

http://www.tobaccofreekids.org/tobacco_unfiltered/post/2012_09_12_indonesia

https://en.wikipedia.org/wiki/Smoking_in_Indonesia

https://www.theguardian.com/world/2012/mar/22/indonesias-smoking-epidemic

https://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/secondhand_smoke/general_facts/

 

Featured foto dari website ini:

http://earmilk.com/2016/10/25/stay-sane-with-srno-naazs-new-release/

Foto artikel dari website ini:

http://blog.doctoroz.com/oz-experts/getting-cold-feet-quit-smoking

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s