Untuk Anak Gadis Yang Meminta Uang Dari Saya Ketika Saya Berusia Empat Tahun

Oleh Tami Sulistyo

Diterjemahkan oleh: Api Sulistyo

bus“Jika Anda memiliki keterbatasan waktu, jangan ikut.” “Jika Anda ingin mengetahui di mana Anda akan tidur malam berikutnya, perjalanan ini bukan untuk Anda.” “Jika Anda mau jadwal harian yang pasti, jangan repot-repot mau ikut.” ” Jika Anda ingin bepergian dengan nyaman, silahkan berkhayal!” Tidak sekalipun disebutkan dalam daftar 12 halaman itu tentang alasan untuk tidak ikut perjalanan keliling dunia yang diiklankan di dinding di University of Minnesota, “Jangan membawa anak kecil. ” Maka orangtua saya mengemas koper penuh susu bubuk, dan kami berangkat keliling dunia meskipun terlihat wajah kekhawatiran dan nada ketidaksetujuan dari kakek-nenek yang sebetulnya bermaksud baik.

Dua orang lulusan dari sekolah kedokteran gigi, satu dari Australia dan satu dari Selandia Baru, memutuskan untuk melakukan perjalanan mengelilingi Eropa sebelum kembali untuk menetap ke dalam kehidupan profesional mereka. Mereka kehabisan uang untuk pulang dan berakhir dengan dua bis rusak dan mekanik, mantan angkatan darat Inggris yang berjanji bisa memperbaiki kendaraan apapun kapan saja di mana saja dengan peralatan apapun. Iklan yang dipajang di universitas di beberapa negara menghasilkan 70 orang dewasa dari seluruh dunia, berkumpul di Luxembourg untuk memulai petualangan melalui Eropa, Timur Tengah dan ke Asia. Oh, dan saya ikut juga. Umur empat tahun. Saya beruntung, beruntung, beruntung. Bayangkan betapa terkejutna pemandu wisatanya, yang tidak mau mengijinkan anak-anak untuk ikut dalam perjalanan itu. Dan mereka pikir mereka telah begitu rinci dalam menuliskan daftar larangan 12-halaman mereka untuk seharusnya tidak ikut petualangan mereka. Tapi mereka tidak bisa lagi mengirim saya pulang pada saat itu, dan sebaliknya saya memiliki kekayaan besar yaitu untuk meluangkan banyak waktu dengan puluhan orang dewasa dari berbagai latar belakang budaya, yang akan mengunjungi saya dan memberi saya banyak cerita. Mudah-mudahan saya memberikan imbal balik yang menyenangkan mereka.

Serpihan Kenangan

ky0555Hal pertama yang saya rasa saya ingat, adalah kesan atau perasaan berlari-lari di sekitar dan melalui reruntuhan arkeologi magis putih di Yunani, sambil menatap langit biru yang memukau saat aku aku berlari, merasa bebas, hidup, dan seolah-olah saya mengambang. Saya membayangkan seakan saya ini kombinasi antara dewi Yunani dengan gaun pajang terjuntai mengikuti di belakang saya dan karakter fiktif detektif Nancy Drew. Belakangan saya punya pengalaman serupa di Taj Mahal di India. Berlari dengan gembira sepanjang saluran air yang mengalir ke gedung mistis itu, berkilauan di kejauhan, mata saya terbuka lebar terkagum-kagum dengan pengalaman baru ketika memasuki kesejukan yang agak gelap dan kami diminta untuk melepaskan sepatu jalanan kami dan ganti dengan sandal untuk bisa mengunjungi tempat yang suci itu. Saya memiliki gambaran lain tentang ruangan dalam yang gelap di sebuah gedung di India, tapi yang satu ini terlalu gelap, terlalu luas, terlalu menakutkan bagi saya, meskipun tempat itu semacam kuil.  Saya nempel erat ke orangtua demi keselamatan saat kami berjalan bersama.

Aku ingat berbaring di kebahagiaan di gundukan pasir lembut di bawah bintang-bintang di gurun yang sedikit berangin dan dingin, di samping orangtua saya, berbicara, berbisik, dan menonton langit berkedip pada kami sementara mekanis kami membongkar pasang mesin dari salah satu bis kami. Semuanya sempurna. Sampai. Sampai kami  lama sekali melewati padang pasir yang kosong,  dan akhirnya kami tiba di sebuah kompleks bangunan yang besar. Sampai juga akhirnya! Sesuatu untuk dilihat, sesuatu untuk dipotret. Tapi sayang. Ide yang buruk. 70 orang terkagum-kagum, memotret sana-sini, karena tidak ada kegiatan lain. Sampai akhirnya kami berhenti dan ayah saya bersama dengan beberapa orang lainnya bersama dengan sopir bus disuruh masuk ke dalam dan dipaksa untuk membawa semua kamera, dikawal oleh pejabat laki-laki yang marah-marah, yang bergegas keluar kepada kami dan menuntut penjelasan mengapa kami memotret kompleks militer rahasia di Suriah. Siapa yang tahu?

Terasa seakan jutaan jam bagi saya, kami semua disuruh menunggu di luar di bawah terik matahari, di bawah tatapan penjaga yang mengancam. Ibuku dengan sangat jelas membuat saya diam seribu bahasa seperti tikus kecil. Saya harus berperilaku yang terbaik sesuai anjuran nenek Erna apapun yang terjadi. Dan saya melakukannya. Terlalu menakutkan untuk melakukan yang lain, yang ada hanyalah patuh. Saya haus. Lelah. Panas. Ditakut-takuti. Ketika ayah saya dan yang lainnya kembali, mereka tampak tegang tapi lega. Semua kamera disita, tapi kami semua dibebaskan setelah dimarahi dan diberi peringatan keras. Pada akhirnya kami semua hanyalah wisatawan yang bodoh. Tak satu pun dari kedua belah pihak, baik pihak Suriah maupun pihak wisatawan, cukup bisa percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Saat kami dengan senang hati pergi ke kejauhan, dua anak laki-laki mengejar kami menunggang unta dan melempari  kami dengan batu, memecahkan jendela belakang bus yang saya tumpangi. Batu jatuh dengan suara keras di kursi yang baru saja saya kosongkan. Saya menikmati  jalan terjal yang membuat saya terpental naik turun, naik turun, naik turun di kursi belakang bis. Itulah sumber utama hiburan saya tiap hari, membuat saya tertawa keras-keras. Semakin tinggi saya terpental semakin baik. Akhirnya setelah pertemuan yang tak menyenangkan di pangkalan militer Suriah, saya lari ke kursi belakang dan duduk di sana, tapi karena beberapa alasan saya berubah pikiran dan  pindah ke bagian depan bis yang lebih tenang. Saya nyaris terhempas tapi tidak terjadi. Saya beruntung, beruntung, beruntung.

four-girls-sitting-outside_ec-930x623Bermain dengan anak-anak di setiap negara yang kami kunjungi, saya tidak pernah menyadari bahwa bahasa bisa menjadi penghalang. Konsep itu ada di luar pemahaman saya sebagai anak yang berusia empat tahun. Jadi tidak ada halangan sama sekali. Saya mendambakan bergaul dengan anak-anak lain, karena saya adalah satu-satunya anak di perjalanan bis itu. Setiap kali ada kesempatan, saya akan bersemangat mendekati setiap anak yang saya lihat dan mulai ngoceh dalam bahasa Inggris, mengajak mereka untuk bermain dengan saya, dengan asumsi yang polos bahwa mereka ingin bermain dengan saya, dan dengan senang orangtua mengijinkan mereka. Ibu saya mengatakan ini adalah kesempatan yang fantastis untuk orangtua saya, karena itu berarti mereka secara otomatis harus bertemu banyak orang dewasa lokal di semua negara yang kami kunjungi. Saya manjadi sarana perkenalan mereka.

Gadis Kecil

Ketika anak-anak yang saya dekati itu tidak sungkan mau bermain dengan saya, kami akan bermain, meskipun tidak memahami kata-kata satu sama lain, kita akan selalu, selalu mencari cara untuk berkomunikasi cukup untuk bergaul dan meluangkan waktu yang baik bersama-sama, tidak ada rasa khawatir, dan saling menerima. Tapi ada satu kekecualian. Suatu kali, ada seorang gadis yang seusia saya, menarik perhatianku dan dengan niat tertentu dia mendekati saya dan meminta uang dari saya. Setelah dewasa, saya menyadari apa yang terjadi, tapi pada saat itu saya ingat saya benar-benar terkejut dan bingung mengapa dia berpikir bahwa saya punya uang. Saya berpikir sendiri, “Orangtua saya punya uang, tetapi saya tidak. Bagaimana saya punya uang? Saya hanya ingin bermain dengan dia. Kenapa dia meminta dari saya? Saya hanyalah seorang anak, seperti dia.” Saya ingat yang saya rasakan tentang matanya yang indah melihat saya, mengamati saya, bukan pada saya. Entah bagaimana aku tahu dia tidak benar-benar melihat saya, tapi melihat sesuatu yang saya tampilkan padanya. Saya merasa seakan saya ini kasat mata. Dan bingung. Dia membekas di hati saya, dan saya tidak pernah melupakannya. Saya sangat berharap saya bisa mengenalnya dan menjangkaunya, agar kita bisa mengenal satu sama lain. Saya bertanya-tanya bagaimana kehidupan dia sekarang dan saya berharap semoga dia menerima banyak berkah.

yi-peng-lantern-festivalIbu saya sedang melakukan penelitian untuk tesisnya tentang Cina dan tentang setiap negara yang kami kunjungi. Dia mencoba untuk mendapatkan visa untuk bisa masuk ke Cina, tetapi tidak berhasil. Ini terjadi di awal tahun 1970 dan orang asing tidak diterima di Cina. Tak  berharap untuk dapat berkunjung ke Cina daratan, kami membuat perhentian terakhir di Afghanistan sebelum menuju ke Singapura. Orangtua saya cukup yakin untuk meninggalkan saya dengan misionaris yang belum pernah kenal untuk pergi semalam mengunjungi tempat wisata bersejarah di wilayah yang tidak aman (masih tidak yakin bagaimana saya merasa tentang itu? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka atau saya?)

Singapura

answer_detail_thumb_152Setelah kumpul kembali, kami menuju ke Singapura supaya ibuku bisa penelitian di sana. Saya ingat berbaring terjaga di kamar yang kami sewa di YMCA, menonton tokek merangkak di sepanjang langit-langit kamar, berharap, berharap, berharap mereka tidak akan jatuh ke kepala saya. Pada saat yang sama, saya terpesona, terhibur, dan ngeri. Saya ingat berlari melalui lapangan di malam hari saat ada festival lampu, menyaksikan ratusan lampion berwarna cerah menari di langit seperti kupu-kupu mengepakkan sayapnya. Saya mulai masuk sekolah di sana dan beberapa tahun kemudian anak perempuan saya juga mulai sekolah di sana, di Singapura. Saya selalu menghargai suatu kebetulan yang tak pernah terencanakan. Apel jutuh tidak jauh dari pohonnya.

Apa gunanya berbagi peristiwa-peristiwa kecil tentang kenangan yang berakar dalam pikiran saya yang berumur empat tahun? Tidak yakin, tapi jelas perjalanan sembilan bulan yang kami  lakukan itu menjadi dasar dari siapa diri saya sekarang. Meski tidak mengingat lebih dari serpihan-serpihan, kumpulan pengalaman yang membuat kita berkeinginan dan rasa cinta seumur hidup  untuk mengeksplorasi harta dan nilai-nilai yang belum kita ketahui, suara, dan interaksi antar manusia yang menunggu di sekitar kita, bahkan di dalam komunitas kita sendiri, siap untuk kita seandainya kita mau berupaya untuk bangkit dari sofa dan pergi menemukannya.

Refleksi:

  • Pengalaman apa yang telah menjadi dasar atas siapa diri anda sekarang ini dan bagaimana anda meluangkan waktu dan memusatkan pikiran selama ini?
  • Buku “Ubuntu”, tulisan Nelson dan Lundin, memperkenalkan sapaan dari Afrika yang artinya “Saya di sini untuk melihat Anda dan dilihat oleh Anda.” Bayangkan kita akan menjadi orang macam apa jika pada setiap interaksi mengatakan kepada diri kita sendiri “Ubuntu”, seperti diigingatkan untuk selalu terbuka, hadir dan terfokus pada sama-sama “melihat” orang lain sepenuhnya dan memungkinkan diri kita sendiri juga sepenuhnya Sampai sejauh mana anda memberi kesempatan pada orang lain untuk melihat anda dalam diri anda – kesukaan anda, nilai-nilai, harapan dan impian? Ini adalah keakraban yang nyata. Ini adalah pilihan yang kita buat setiap hari. Ingat-ingatlah saat Anda benar-benar “melihat” seseorang sepenuhnya dan Anda tahu mereka merasakannya – rasakan bahwa Anda tidak melihat melalui mereka, rasakan bahwa mereka itu nyata. Apa dampak darinya?

Silahkan berbagi jawaban anda kalau tertarik dengan munuliskan jawaban di akhir halaman ini atau email storylighthouse@gmail.com

Copyright@2017StoryLighthouse

 

Tami Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/tamisulistyo/

 

bis

http://www.usd497.org/Domain/54

girls playing barbie

http://library.duke.edu/digitalcollections/gedney_KY0555/

soccer girls

http://wellatl.com/prissy-tomboy/

lantern festival

http://www.partypeers.com/party/post/yi-peng-lantern-festival

gecko

http://www.whyzz.com/how-do-geckos-climb-on-walls

four girls

https://blog.compassion.com/author/ceciliayepez/

 

 

Advertisements

One thought on “Untuk Anak Gadis Yang Meminta Uang Dari Saya Ketika Saya Berusia Empat Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s