Pengalaman American Teenager di Perancis

Ditulis oleh Tami Sulistyo

Diterjemahkan oleh Api Sulistyo

31464032414_ddc20da881_bMusim Panas Bersama Anne

Saya tidak tahu persis mengapa, tetapi saya menjadi terobsesi dengan ide mempelajari bahasa Perancis cantic  bagai musik. Di kelas 6 kesempatan saya tiba. Saya mendaftar untuk satu mata pelajaran yang bisa saya ambil, di sebuah sekolah beberapa kilo dari SMP. Saya diberi izin untuk naik bis umum untuk sampai ke sana. Setiap hari sopir bis yang sama menyapaku di halte saya, dan setiap kali saya naik dia meminta saya untuk mengatakan sesuatu yang telah saya pelajari di kelas bahasa Prancis. Suatu kali dia lag ngemil sesuatu yang katanya adalah cokelat yang dikerubung semut, dan menawarkannya pada saya. Dia mengatakan cokelat itu lezat. Saya menolak. Saya masih tidak tahu apakah itu cokelat tertutup kismis dan dia melucu saya, atau apakah benar-benar cokelat dikerubung semut. Membuatku penasaran karena tidak tahu.

Di kelas 9 seorang dosen Perancis, teman kuliah ibuku, meminta rekomendasi tentang keluarga Amerika yang ingin menampung putrinya selama musim panas untuk berlatih kehidupan Inggris dan cari pengalamannya tinggal di Amerika Serikat. Kami menawarkan diri. Aku sangat bersemangat. Aku berharap bisa berlatih Bahasa Perancis saya dengan dia. Saya selalu ingin saudara perempuan. Anne dan saya epribadiannya sangat berbeda. Aku ingin mengajaknya ke mana-mana dan menunjukkan semuanya. Dia cukup puas dengan cara pelan-pelan dan santai. Saya tidak tahu apakah dia bereaksi terhadap gegar budaya, pemalu, tidak suka petualangan di luar rumah, atau gabungan dari semuanya. Saya menghargai dia untuk mencoba untuk bermuka bahagia ketika kutarik dia ke beberapa petualangan.

Saya ingat ingin sekali menelusuri sungai Minnehaha sepanjang hari, hanya untuk melihat seberapa jauh kami bisa berjalan. Tempatnya berlumpur dan melelahkan dan saya pikir Anne menderita dan muak dengan lumpur di sepatunya yang bagus, tapi dia mengikuti antusiasme saya. Saya ingat suatu kali kami berdiri di luar di halaman depan kami. Hari yang cerah dan hangat. Tepat pada saat ayah saya mendaki, Anne tersandung jempol kakinya dan berteriak “Merde!” dalam bahasa Prancis. Ayah saya mulai tertawa dan wajahnya berubah merah karena dia tidak berpikir ayah saya akan memahami kata makian itu. Kami mencoba untuk membuatnya merasa lebih baik dengan teriak “Merde!” bersama-sama. Saya harus mengatakan, setelah mampu mempelajari beberapa bahasa dan telah cukup beruntung bisa melakukan perjalanan internasional, saya sangat menyenangkan ketika orang berbicara tentang anda dalam bahasa yang mereka pikir anda tidak mengerti, dan anda tiba-tiba mengatakan sesuatu kepada mereka dalam bahasa mereka. Faktor kejutan sangat menyenangkan untuk dilihat. Sangat memuaskan.

Anne pernah sekali bersikap tegas, menolak kesempatan untuk pergi mendaki pegunungan di negara bagian Montana dan Idaho selama dua minggu dengan saya dan kelompok YMCA lokal. Hal ini bukan kesukaannya. Terima kasih, ibu, ayah dan Alex untuk menjamu Anne selama aku pergi. Mungkin ide yang baik bahwa dia tidak ikut saya. Dua pemandu telah melihat ramalan cuaca dan menyatakan kita tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian hangat karena pertengahan Juli dan kami kemungkinan kami akan kepanasan daripada kedinginan. Singkat cerita, salju turun di pegunungan Bitterroot. Banyak, banyak, banyak sekali salju. Kelompok kami 12 meringkuk di tenda-tenda di tempat yang sama selama beberapa hari selama badai salju di musim panas, mencoba untuk tetap merasa hangat meskipun sleeping bags kami basah. Main kartu berulang kali membuat kami lupa untuk tidak terlalu khawatir, namun kecemasan masih menggerogoti kami. Kemudian kami tersesat karena penunjuk jalan tertutup. Waktu itu belum ada HP.

bitterrootflickruserfsnrKami masing-masing harus mengambil satu hari untuk memimpin grup untuk maju. Mungkin saya hanya bisa mengatakan bahwa saya baik dulu maupun sekarang tidak tahu arah. Ketika kami akhirnya turun dari gunung beberapa hari terlambat, pizza hangat dan cokelat panas merupakan sajian yang terbaik. Mendengarkan CD Bob Marley berulang-ulang sementara kami meluncur melalui pemandangan terbuka di North Dakota tidak jadi masalah. Kami pulang dan saya senang melihat Anne dan keluarga saya lagi. Pada akhir musim panas tua Anne datang secara pribadi untuk menjemputnya. Saya pikir hanya untuk bersikap sopan mereka menawarkan bagi saya untuk datang mengunjungi mereka di Poitiers, Prancis suatu saat nanti. Saya langsung berseru, tanpa berpikir, “Bagaimana kalau sekarang?” Mereka tampak tertegun, tapi tidak tahu harus berkata apa selain “ok.” Ok! Orangtua saya setuju, saya berkemas-kemas dan kami langsung berangkat. Saya harus mengatakan bahwa saya merasa bangga memiliki orangtua yang akan mendukung keinginan seperti itu, padahal tidak direncanakan, disetujui atau diatur sebelumnya, dan semester musim gugua untuk kelas 10 hampir dimulai. Pihak SMA saya mengatakan saya boleh pergi kalau saya mau, tetapi mereka tidak akan menjamin saya akan dapat kredit untuk mata kuliah ayang akan saya ambil di SMA nya Anne di Perancis. Aku bersedia tanggung resikonya.

Musim Gugur di Poitiers

approaching-old-poitiers-from-the-north-2005Anne dan orangtuanya tinggal sendirian di sebuah desa pertanian kecil di luar kota Poitiers, Perancis, di sebuah rumah yang tinggi di jalan dan lingkungan yang tenang di satu sisi dan pertanian di di sisi lainnya. Aku diberi kamar sendiri, tempat untuk menyendiri ketika saya perlu untuk memproses semua yang baru, baik hal-hal yang menarik maupun bagian-bagian yang menantang. Saya berumur 14 tahun. Sekarang saya sedikit lebih mengerti apa yang dialami Anne selama musim panas. Pengalaman seumur hidup yang indah, penuh kejutan budaya dan pertumbuhan. Anne adalah anak tunggal, tanpa kerabat di dekat selain ibu dan ayahnya. Dia sangat senang untuk memiliki saya di sana sebagai teman bermain dan adik, seperti waktu dia di rumah saya. Sekarang giliran dia untuk  jadi nyonya rumah, ketika ia menentukan semuanya, saya merasa seperti wayang atau boneka hidup miliknya selama beberapa waktu, disuruh untuk melakukan ini itu seolah-olah saya ini harta miliknya.  Ini adalah sangat sulit bagi saya, anak yang dibesarkan untuk menjadi sangat independen, yang berani naik bis umum sendiri untuk berkeliling kota selama 4 tahun. Anne ingin semua kegiatan kami lakukan bersama. Saya merasa terjebak dan terkekang, tidak merasa bebas seperti biasanya. Maaf Anne, karena saya tidak memahami bahwa kamu  kemungkinan besar mengalami hal yang sama ketika kamu tinggal bersama kami.

Ini hampir untuk pertama kalinya saya jauh dari rumah selama lebih dari beberapa minggu, dan saya menjadi sangat rindu rumah tapi terlalu bangga untuk bilang mau pulang. Sekarang saya mengerti mengapa orang mengirim anak-anak mereka ke program resmi untuk belajar di luar negeri, supaya ada dukungan dari orang staf terdekat yang bisa mengawasi dan dapat membantu anda memahami apa yang anda alami dan dapat membantu anda belajar bagaimana untuk bisa mandiri. Saya tidak memiliki dan tidak tahu bagaimana menangani hubungan antar pribadi yang saya hadapi dengan Anne, jadi saya menuliskan semuanya di buku harian saya yang saya sembunyikan di bawah kasur saya. Dengan melebih-lebihkan saat saya metnlis segalanya membantu saya menghilangkan frustrasi dan melupakanna, jadi yang saya tulis hampir semuga berbeda dengan situasi sebenarnya, yang cukup normal ada pasang surutnya.

luxury-pyrographic-hard-cover-creative-magnet-button-diary-book-note-book-notepad-4-colors-sent-randomlyLalu suatu hari Anne dan ibunya menolak untuk berbicara kepada saya. Tak ada kata selama tiga hari penuh. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi atau apa yang harus saya lakukan tentang hal itu, dan ayahnya juga tidak memberi pertanda yang baik. Akhirnya, mereka duduk dengan saya dan berteriak pada saya. Mereka jadi sangat marah dan sakit hati karena yang saya tulis di buku harian saya. Saya putus asa mencoba untuk menjelaskan bahwa kenyataan tidak benar-benar berarti apa yang saya tulis – saya hanya ingin melampiaskan perasaan saya jadi saya membesar-besarkan dalam tulisan saya. Saya juga terkejut dan sakit hati karena mereka telah membaca buku harian pribadi saya, bahkan salah satu yang ada kuncinya. Saya hampir tidak pernah menulis buku harian sejak itu.

Kami akhirnya melupakan kejadian itu, tapi kami tidak pernah menjadi teman baik seumur hidup. Namun saya akan mencoba untuk menemukan dia sekarang. Saya akan senang untuk menyambung kembali hubungan kami. Saat mencari namanya di internet saya pikir kemungkinan besar dia menjadi guru di sebuah SMA di Le Guedeniau, Prancis. Saya berharap Anne telah memiliki kehidupan yang baik. Saya ingin bertemu kembali dan mau meminta maaf karena saya pasti telah menjadi tamu maupun nyonya rumah yang menyulitkan. Pada saat yang sama, saya kagum dengan diri saya sendiri, membuat impian saya jadi kenyataan,  bisa tinggal di Perancis jauh lebih cepat daripada yang saya angankan. Saya senang bisa mengeksplorasi budaya lokal dan berbicara bahasa Perancis patah-patah sepanjang hari dan setiap hari. Setiap hari Anne dan saya naik kereta untuk pergi ke SMA-nya di kota.

Hal terbaik tentang hari itu ketika kami masing-masing diberi sepotong roti Prancis dan sepotong cokelat Perancis untuk dibawa pergi sebagai camilan. Dalam banyak mata pelajaran saya biasanya tidak tahu apa yang sedang terjadi karena bahasa Perancis saya belum lancar. Tapi saya belajar dengan cepat, dan saya dapat nilai baik, mungkin guru merasa kasihan kepada saya dan meluluskan saya. Tidak yakin. Pada akhirnya, SMA saya di Amerika memberi kredit untuk pengalaman saya satu semester di Perancis, walaupun tidak tanpa perjuangan. Suatu hari di Perancis kami berada di kelas IPS, kami  menonton video yang katanya mewakili kehidupan khas sehari-hari di Amerika. Video menayangkan sebuah keluarga dengan empat anak yang berpakaian rapi dan ayah duduk di meja makan oval sementara ibu tersenyum dan mereka menikmati hidangan panas. Dari pakaian yang mereka kenakan, tampaknya video tersebut dibuat pada jamannya orangtua saya masih muda. Hidangan panas, fenomena Minnesota, seharusnya menjadi petunjuk bagi saya. Tapi aku benar-benar terkejut ketika seorang tamu berjalan ke dalam ruang makan malam keluarga di video, dan saya menatap layar ke mata pendeta dari gereja saya, yang saya kagumi, Pastor Youngdahl. Saya bernajak dari kursi saya dan berteriak, “Itu pendeta saya !!!!” Aku sangat bersemangat untuk melihatnya di video dan saya mulai menangis. Ini adalah saat yang menggembirakan yang membantu saya melewati kerinduan saya dan mengisi saya dengan kekuatan dan keberanian.

Suatu hari saya ada di luar memetik stroberi merah terang berair di taman yang luas di belakang rumah Anne ketika tetangga memanggil dari atas pagar, meminta saya untuk datang dan melihat kelinci mereka. Saya membawa mereka sekeranjang stroberi. Sambil menunjukkan padaku berbagai kelinci mereka, tetangga bertanya mana yang saya paling suka. Saya menunjukkan satu yang saya suka. Hari itu mereka mengundang kami untuk makan malam. Tebak apa yang ada di menu makan malam? Kelinci favorit saya. Saya merasa jelek sekali. Saya tidak tahu. Saya terlalu sopan untuk mengatakan tidak, meskipun saya sedikit ngeri. Lezat seperti ayam, seperti kata pepatah. Ini adalah makan malam tradisional yang berlangsung beberapa jam. Pada satu saat tuan rumah bertanya apakah saya ingin nambah. Saya bangga menggunakan bahasa Perancis untuk menolak tawarannya dengan menyatakan, “Tidak merci, je suis pleine” yang diterjemahkan secara harfiah berarti “Tidak, terima kasih saya penuh” tapi dalam bahasa Perancis berubah menjadi “Tidak, terima kasih saya hamil”. Untungnya saya memiliki rasa humor yang memadai dan tidak keberatan ditertawakan. Saya tersipu, belajar dari kesalahan, dan terus menggunakan bahasa Perancis saya. Saya yakin bahwa kunci untuk belajar bahasa kedua secara cepat adalah aktif berlatih tidak peduli seberapa memalukan anda merasa tentang pengetahuan dan tingkat keterampilan anda.

Saya menemukan cukup cepat bahwa banyak orang Perancis ingin berbicara politik dengan saya, dalam percakapan penuh semangat di mana saya sangat jelas merasa mereka melihat saya bukan untuk siapa saya, orang dengan pandangan politik saya sendiri, melainkan sebagai perwakilan dari pemerintah di rumah, terlepas dari yang saya rasakan tentang hal itu. Ini adalah sensasi yang aneh. Seolah-olah saya tidak benar-benar ada. Mereka berbicara pada saya dan melihat melalui saya. Saya seorang Amerika dan benar-benar bangga jadi orang Ameria, tapi itu tidak pernah dimaksudkan untuk saya sebagai refleksi dari Presiden saya saat ini. Saya adalah saya, saya orang Amerika, dengan identitas saya sendiri, dan saya adalah sesuatu yang terpisah dari tindakan politik Presiden saya. Pengalaman yang terjadi berualang kali ini dan perasaan terisolasi itu memperdalam niat saya untuk melihat setiap orang sebagai diri yang unik dan indah menjadi diri mereka sendiri, yang dipengaruhi oleh budaya, tetapi tidak sama dengan budaya asal mereka. Apakah itu masuk akal? Aku suka joging. Di rumah, saya jadi anggota tim cross-country and track. Saya akan tetap berlari karena saya selalu ingin melihat apa yang ada di tikungan berikutnya, dan berikutnya.

french-farmers-with-dog-working-on-old-straw-baler-machine-at-agricultural-b302j8Di pinggiran kota Poitiers, saya sering pergi joging sendiri menyusuri jalur umum di sekitarnya perumahan di desa pertanian. Saya suka suka melihat tanaman hijau dan hasil pertanian warna keemasan dan melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang dan hewan setempat ketita saya merasakan matahari, awan, angin atau hujan turun ke bahu saya saat saya berlari. Suatu kali ketika saya melewati rumah pertanian, seorang petani berhenti apa yang sedang ia lakukan di teras dan melongo melihat padaku. Saat ia melakukannya, istrinya melihat apa yang dia lakukan, dia bersandar keluar dari jendela dan memukul kepala suaminya dengan sapu. Saya tertawa riang dan terus berlari. Tapi kemudian saya berhenti di trek saya. Saya telah mencoba untuk melakukan seperti yang mereka lakukan di Roma, sementara di Roma, seperti yang mereka katakan. Itu berarti bahwa seperti gadis-gadis SMA lokal lainnya, saya tidak mencukur kaki saya dalam beberapa minggu. Saat aku sedang jogging, tiba-tiba aku merasa rambut di kaki saya melambai kena angin, bolak-balik, bolak-balik dan saya nggak habis pikir. Saya benar-benar terkejut. Saya tidak bisa tahan lebih lama, jadi saya berjalan sangat lambat kembali ke rumah, berusaha mati-matian untuk tidak merasakan gerakan rambut kaki saya diterpa angin. Perjalanan itu terasa lama sekali. Saya langsung ke kamar mandi dan mencukur rambut kaki saya. Kenapa repot-repot mengikuti kebiasaan setempat! Cukuplah untuk mengatakan saya selalu mencukur rambut kaki saya.

Suatu kali Anne dan orangtuanya membawa saya dengan mereka liburan pendek dengan mobil ke sebuah pantai di utara Spanyol. Anne dan saya berenang di laut ketika seorang anak yang tampan datang dengan surf board. Dia begitu cepat dan lancar di papan selancar angin sehingga saya terpikat. Terpaku olehnya, saya belum pernah mencoba selancar angin dan saya benar-benar ingin mencobanya. Akhirnya dia datang kepada saya dan bertanya apakah saya ingin mencoba. Saya pikir saya mengatakan kalimat antusias dalam bahasa Prancis yang termasuk “ya silahkan!” Tapi saya salah mengatakannya dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pantas karena dia menatapku jijik dan meninggalkan saya secepatnya, tidak pernah menoleh ke belakang, dan tidak pernah datang kembali. Aku masih tidak tahu apa yang terjadi. Aku begitu kecewa!

Setelah saya berada di Perancis selama sekitar tiga bulan, ibu saya datang untuk mengunjungi saya. Saya sangat senang, karena saya sangat rindu. Kami bepergian dengan kereta api ke Paris untuk melihat pemandangan. Kami berdua saja. Keita sedang jalan-jalan, kami tiba di sebuah lingkaran orang-orang dan kami berhenti untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ada pemain jalanan meminta seorang sukarelawan. Dia menunjuk langsung kepada saya ketika ibu dan aku mendekat, dan orang-orang bersorak. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, tapi aku menyerah dan ia memberi isyarat saya untuk masuk ke pusat lingkaran. Banyak sekali orang menyaksikan, dia mengatakan kepada supaya saya berdiri dengan kaki terpisah. “Got it!” Kataku, dan mengangguk tanda mengerti. Yang saya ketahui berikutnya, saya rasakan ada sesuatu seperti angin panas turun di antara pangkal kaki saya. Saya begitu terkejut saya segera melihat ke bawah, secara refleks, saya langsung melupakan peringatan dari pemanin sulap jalanan itu. Dia meniupkan api dari mulutnya melalui kaki saya. Hanya berlangsung dalam satu detik, dan tidak sakit. Tapi ketika aku melihat kembali, setiap orang di kerumunan, termasuk ibu saya, mereka menatap saya melongo dan diam.

lorenzo-street-magician-screen-shot-2014-08-06-at-11-35-50Saya benar-benar tidak tahu mengapa, tapi jelas ada sesuatu yang salah. Saya merasa seperti binatang dikurung di kebun binatang atau di arena sirkus. Itu menakutkan. Saya memisahkan diri, mendorong melalui kerumunan, dan berlari secepatnya menuju ke jalan dan ke restoran pertama yang saya temukan. Aku bergegas ke kamar kecil dan melihat diriku di cermin untuk melihat apa yang dilihat orang. Saya tidak punya bulu mata – mereka telah terbakar, dan alis saya juga hangus. Saya tidak sakit apapun tapi penampilan saya tidak ideal. waktu itu saya tidak menemukan sesuatu yang lucu. Saya marah, dan malu. Saya pulih dengan cukup cepat, tetapi tidak pernah lupa perasaan ditatap dan dikelilingi oleh banyak orang.

Tak terasa, satu semester telah berakhir dan sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal. Saya kemasi koperku dan saya pergi dengan kereta api melalui Perancis ke London, di mana salju turun dengan lebatnya. Saya naik kereta terakhir ke Manchester sebelum semua transportasi umum ditutup karena hujan salju yang dahsyat dan berat. Teman-teman keluarga, yang pernah ikut di tour pakai bus ke seluruh dunia adalah tuan rumah saya. Mereka tinggal di daerah pedesaan di sebuah pondok kayu yang dihangatkan sendiri oleh tungku pembakaran kuno mereka di lantai utama. Kamar tidur saya yang sangat menawan untuk beberapa hari berasama mereka ada di lantai atas, dan udara panas tidak cukup sampai di sana. Saya belum pernah merasa begitu dingin dalam hidup saya, dan berbaring menggigil sepanjang malam. Hadiah saya di pagi hari adalah sarapan hangat lezat dan diikuti oleh pendakian lama di sepanjang tebing di bawah sinar matahari yang indah dan langit biru, dikelilingi oleh kilauan putih bersihvsalju yang belum tersentuh, sejauh mata memandang.

Kembali ke rumah untuk Natal, saya sangat senang berada di sana, namun merasa sangat sulit untuk bertransisi kembali ke dalam hidup dengan teman-teman saya. Mereka tertarik pada anak laki-laki dan bintang rock dan ski dan gosip dan fashion. Bukannya aku tidak, tapi hidup mereka sudah berjalan selama berbulan-bulan tanpa saya sehongga mereka terbiasa tidak mengundang saya untuk bergabung dengan mereka. Untuk sementara mereka terus melupakan bahwa saya ada di rumah dan saya ditinggalkan. Saya ingin berbicara tentang dan berbagi petualangan saya, tapi mereka langsung tak tertarik setelah mendengarkan selama beberapa menit saja. Saya tidak merasa mapan, dan seperti ada yang memisahkan kami.

(Arnold Gold-New Haven Register) Hannah DeBalsi (right) of Staples breaks out in front at the start of the Class LL Girls CIAC Championship at Wickham Park in Manchester on 10/31/2015.

Saya merasa seperti saya telah berubah dan mereka tidak. Saya hanya tidak tahu bagaimana berhubungan dengan banyak teman-teman saya, dan saya tidak memiliki alat atau pemahaman untuk melewati suatu proses yang sekarang saya ketahui disebut kejutan budaya berbalik. Itu sangat sulit bagi saya untuk menyesuaikan kembali sehingga saya pindah SMA, dengan pemikiran bahwa mungkin akan menjadi solusi, tapi ternyata tantangannya berada dalam diri saya, tidak di sekitar saya. Saya harus mengubah dalam diriku, untuk menemukan tempat saya lagi, tidak kembali ke siapa saya sebelum tinggal satu semester di Perancis, tapi ke tempat kulit baru saya yang nyaman, yang tumbuh dan berubah sedikit selama setengah tahun lalu. Akhirnya saya menetap ke dengan saya lagi, tapi butuh waktu sekitar 9 bulan. Saya berlari dengan tim cross-county pada musim gugur berikutnya, pada sore yang cerah dan hangat, dengan kaki saya yang sepenuhnya dicukur, ketika saya menyadari saya telah menjadi diri saya lagi. Petualangan saya dengan Anne di Minnesota dan di Perancis tidak mudah, tapi saya tidak akan pernah mengubah mereka dalam satu juta tahun.

Refleksi:

• Apakah Anda pernah merasa seperti binatang yang terkurung, terjebak dan seolah-olah dunia menatap Anda di bawah mikroskop? Bagaimana Anda “keluar”? Apakah Anda pernah memberikan kontribusi untuk membuat orang lain merasa seperti itu?

• Apakah Anda pernah terlalu bangga dan keras kepala untuk menyerah pada sesuatu meskipun itu membuat hidup jauh lebih sulit untuk bertahan, dan mungkin jauh lebih cerdas untuk setidaknya berbicara tentang hal itu dengan seseorang yang bisa membantu dalam beberapa cara?

• Kapan Anda mampu menertawakan diri sendiri dengan cara yang sehat, yang telah mampu untuk membantu Anda dengan cara yang positif entah bagaimana?

Silahkan berbagi jawaban anda kalau tertarik dengan munuliskan jawaban di akhir halaman ini atau email storylighthouse@gmail.com

Copyright@2017StoryLighthouse

 

Tami Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/tamisulistyo/

 

Note: Pictures are taken from Google Images.

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman American Teenager di Perancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s