Melangkah Bersama

Oleh Api Sulistyo

Hari Sabtu pagi adalah waktu yang biasanya saya pakai untuk lari jarak jauh dengan kelompok pelari marathon yang mengikuti program pelatihan. Program musim semi yang saya ikuti diselenggarakan oleh Minnesota Distance Running Association (MDRA) dimana saya telah menjadi anggotanya selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Rencananya kami akan lari 16 Km (10 mil) mengelilingi beberapa danau. Tetapi, suhu di Sabtu pagi kemarin sangat dingin dengan datangnya angin dari kutub utara, minus 18 derajat Celius. Jadi saya memutuskan untuk lari di dalam gedung di Eagan Community Center (ECC), seperti balai desa dan bisa dipakai untuk olahraga, pesta, pertunjukan, maupun peningkatan ketrampilan.

Hanya perlu waktu lima menit saya sudah sampai di ECC. Setelah membayar tiket masuk, saya langsung ke tempat ganti pakaian. Untuk bisa pakai indoor track selama seminggu harga tiketnya $10. Untuk menjadi anggota tetap dan menggunakan fasilitas olahraga lainya beayanya $30 per bulan. Saya tidak mau menjadi anggota tetap karena kalau cuaca sudah mulai ‘hangat’ saya lebih suka lari-lari di luar.

Tempat lari ada di lantai atas. Setelah menaiki tangga, saya melihat puluhan orang jalan-jalan, jalan cepat, atau lari-lari dan hari itu semua harus mengarah ke kiri. Arah ditentukan berdasarkan tanggal genap atau tanggal ganjil. Ada yang lari-lari sambil mendengarkan sesuatu dari HPnya. Ada yang jalan-jalan sambil ngobrol dengan pasangannya. Cukup banyak juga yang meluangkan waktu sendirian. Saya termasuk kelompok yang terakhir ini. Untuk menyelesaikan satu mil diperlukan lari 11 putaran. Jadi pagi itu saya harus merampungkan 110 putaran. “Apa kamu tidak bosan?” teman-teman saya sering bertanya begitu. Lari jarak jauh saya digunakan juga sebagai kesempatan untuk merenung atau refleksi dan saya tidak merasa bosan.

Pasangan Lansia

Perhatian saya tertuju pada pasangan lansia yang kira-kira berumur 80an tahun. Saya yakin mereka suami-istri. Sangat menakjubkan bahwa pada usia itu mereka masih aktip berolahraga. Olahraga memang sebetulnya tidak mengenal batas umur. Sang suami cukup tinggi, memakai pakaian warna gelap dan sepertinya mamakai sabuk pengaman. Entah untuk apa. Sepatunya berwarna hitam dan kelihatannya ditambahi alas empuk supaya lebih nyaman. Sang wanita agak kurus, memakai jaket warna merah tua dan sepatu putih dengan rambut pirang dipotong pendek.

Ketika saya melewati mereka, sang istri sedang menopang suaminya untuk bisa menyeberang ke jalur lambat. Saya hampir berhenti untuk bertanya kalau mereka perlu bantuan. Sang istri memberi aba-aba supaya saya terus berlari. Yang jelas sang suami tidak bisa berjalan sendiri dan kulihat ada tongkat di dekat tumpukan jaket mereka di atas kursi.

Pada kesempatan lain saya lihat sang istri membantu sang suami untuk bisa berpegangan paga pagar besi dan mereka berjalan bersama pelan-pelan sekali. Beberapa kali kulihat sang istri berjalan sendirian kemudian kembali lagi kepada suaminya. Saya tidak melihat senyum atau wajah cerianya. Tetapai saya juga tidak melihat keluhan di raut mukanya.

Saya amati sang suami berjalan sendirian. Tangan kanannya memegang erat pagar besi dan dengan usaha keras dia menyeret kaki kirinya yang bersepatu hitam itu. Setapak demi setapak dia melangkah maju. “Mungkinkah kakinya lumpuh?” tanyaku pada diriku sendiri. Pada kesempatan lain saya melihat bahwa lengan kirinya melambai tanpa daya. “Mungkinkah dia lumpuh di bagian kiri tubuhnya?” saya jadi ingin tahu.

Setelah lebih dari setengah jam, sang istri akhirnya mendudukan suaminya di kursi biru tua di mana mereka meletakkan jaket dan tongkat. Dia membantu suaminya memakai jaket tebal, kaos tangan, dan topi musim dingin. Dia mengangkatnya untuk bisa berdiri and memberikan tongkat ke tangan kanannya. Perlahan sekali mereka berdua berjalan meninggalkan indoor track melalui pintu atas sehingga sang suami tidak harus menuruni tangga.

Kesadaran

Sambil berlari merampungkan 16 Km saya merenungkan yang barusan saya amati. Pasangan lansia itu telah memberikan kesadaran pada saya. Kesadaran yang pertama adalah semangat mereka untuk tetap ingin hidup sehat. Saya tidak tahu berapa putaran yang bisa dilakukan oleh sang suami. Mungkin tak lebih dari lima putaran. Tetapi dia tidak mau hanya duduk-duduk di rumah dan hidup dalam kebosanan. Padahal dia punya anggota badan yang tak berfungsi seperti biasanya.

Kesadaran yang kedua, sang istri itu mengingatkan saya akan janji perkawinan yang kami ucapkan lebih dari duapuluh tahun yang lalu. Dalam upacara resmi itu kami berprasetya untuk membina keluarga dan menjadi satu dalam suka atau duka, kaya atau miskin, sehat atau sakit, untuk selalu mencintai dan menghargai sampai kematian memisahkan kita.

Sang istri itu menghidupi prasetya perkawinan mereka dengan mendampingi suaminya yang lemah dan sangat memerlukan bantuannya. Mungkin dia tidak suka harus menjagai suaminya 24 jam, 7 hari seminggu. Tetapi dia memegang janjinya dan tidak meninggalkan suaminya.

 

Copyright@2017StoryLighthouse

Api Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/api-sulistyo-4700865/

 

Note: Sebagian dari foto-foto untuk cerita ini diunggah dari Google Images.

Featured Picture:

https://www.pinterest.com/pin/508766089128489504/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s