Kanada, Aku Masih Merasakanmu!

Oleh: Api Sulistyo

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Nasihat ini saya dengar beribu kali terutama waktu saya masih duduk di SD maupun SMP. Menurut pemahaman saya, kita dididik untuk mempunyai cita-cita tinggi dan untuk mencapi cita-cita itu, kita perlu belajar keras. Tapi sayangnya, kita tidak diajari lebih lanjut tentang bagaimana menciptakan cita-cita itu sendiri. Yang paling sering saya dengar adalah, “Sekolah pinter, kalau besar jadi dokter.” Pernyataan ini seakan jadi mantra baik bagi anak-anak maupun bagi orangtua.

La terus cita-citaku itu apa? Saya tidak ingat bahwa saya betul-betul punya cita-cita karena memang tidak pernah diajari untuk merumuskan cita-cita. Untungnya saya punya seseorang yang menjadi idola saya. Pokoknya saya mau seperti dia. Orang itu tidak lain tidak bukan adalah sepupu saya sendiri, Sadimo, yang kemudian belakangan mengganti namanya menjadi Adimassana yang empat tahun lebih tua dari saya. Saya meluangkan banyak waktu dengan dia dan mau belajar dari dia seperti mencari ikan di sungai, membuat mobil-mobilan, membuat wayang dari kertas semen. Hidup terasa menyenangkan karena banyak main-mainya. Dalam hal sekolah pun saya mengikuti jejaknya. Kami pergi ke SD, SMP, dan SMA yang sama. Tapi akhirnya saya melanjutkan kuliah di kampus yang berbeda. Adimassana kuliah di Jakarta, dan saya masuk perguruan tinggi di Yogyakarta. Mau tidak mau saya harus mulai memikirkan lebih jelas cita-cita saya. Keinginan saya sangat sederhana. Saya ingin menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di daerah luar kota. Saya tidak tahu mengapa, yang ada di benak saya saat itu, saya ingin hidup sebagai guru di sekitar kota Malang, Jawa Timur.

Sambil menyelesaikan kuliah ternyata saya mendapat kesempatan kerja mengajar bahasa dan budaya Indonesia untuk orang asing di sebuah kursusan ternama Wisma Bahasa. Pekerjaan ini membuat saya tetap tinggal di Yogyakarta dan cita-cita saya untuk pergi ke Malang sedikit demi sedikit mulai menghilang. Tetapi paling tidak saya masih melakukan kegiatan serupa yaitu mengajar bahasa. Saya sangat senang dengan pekerjaan saya dan saya membayangkan bahwa saya akan bekerja di tempat yang sama untuk waktu yang cukup lama.

 Cita-cita

Suatu hari pada awal tahun 1988, saya bertemu dengan seorang teman kuliah, Usmanto Setiawan, yang barusan pulang dari Kanada mengikuti program pertukaran budaya yang disponsori oleh Canadian Crossroads International (CCI). Organisasi ini bersifat sosial dengan salah satu tujuannya adalah memerangi kelaparan, mewujudkan kesetaraan, dan memperjuangkan hak-hak kaum wanita dan anak-anak. CCI mendapatkan sebagian dananya dari CIDA (Canadian International Development Agency). Katanya Usmanto mendapatkan pengalaman yang sangat mengesan dari kunjungannya ke Kanada. Dalam hati saya membayangkan betapa senangnya seandainya saya bisa mendapatkan kesempatan ke luar negeri juga.

“Kamu coba mendaftar saja Pi” begitu Usmanto menyarankan.

“Akan saya pikirkan,” jawabku singkat. Dalam hati saya tidak yakin bahwa saya akan melakukannya. Di lain pihak suara hatiku mengatakan, “Dicoba saja!”

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar. Saya merasa bersemangat dan resah pada saat yang sama ketika mendapat panggilan untuk wawancara. Dan memang benar, paling tidak delapan orang mewawancari saya secara bersamaan dalam Bahasa Inggris. “Ini wawancara atau interogasi?” pikir saya. Perasaan campur aduk setelah wawancara selesai, antara ya dan tidak. Mungkinkah saya akan diterima? Kalau tidak diterima, ya tidak apa-apa, saya akan melanjutkan mengajar orang asing seperti biasanya.

Tangan saya gemetar, jantung saya berdebar keras dan cepat ketika saya menerima surat dari panitia perwakilan CCI di Yogyakarta. Untuk beberapa saat kutatapi surat itu, kubolak-balik, dan akhir kusobek amplopnya. Hampir tak percaya dengan yang kubaca. Seakan mimpi melihat surat itu. Saya diterima untuk menjadi “duta kecil” ke Kanada. Peserta memang diharapkan untuk menjadi duta untuk memperkenalkan nilai dan budaya Indonesia di Kanada.

Kegembiraan yang saya alami tidak berlangsung lama dan berubah menjadi pertanyaan sulit yang harus saya jawab. Darimana saya bisa mendapatkan uang saku? Memang CCI membeayai sebagian besar pengeluaran yang dibutuhkan seperti tiket pesawat, penginapan, dan bahwa sedikit uang saku. Tetapi, saya mesti harus membawa uang saya sendiri untuk pengeluaran pribadi. Saya tidak punya uang.

Saya tahu persis bahwa orangtua saya tidak punya uang dan saya tidak berani meminta karena alasan tertentu. Yang pertama karena saya tidak mau membebani mereka. Kalau saya meminta, mereka pasti akan pinjam uang dari orang lain dan ini akan menjadi beban bagi mereka untuk mengembalikan. Yang kedua, saya anak sulung yang sudah selesai kuliah. Mestinya sudah waktunya bagi saya untuk memberi kepada mereka, bukannya malah meminta. Anak sulung diharapkan menjadi contoh bagi adik-adik.

Untung saya berteman dengan orang-orang yang baik hati. Ada yang bersedia meminjami saya sejumlah uang tertentu dengan janji saya akan membayar kembali setelah pulang dari Kanada dan mulai bekerja lagi. Para pengurus di Wisma Bahasa juga terketuk hatinya untuk membantu saya dengan uang pinjaman. Memang jumlah keseluruhannya tidak sebanyak yang saya butuhkan, tapi paling tidak saya punya uang saku. Dalam keterbatasan pun cita-citaku mulai berubah.

 Keluargaku

Bersama dengan dua peserta lain, saya berangkat ke Kanada pada bulan September 1988 melalui jalur barat. Kami transit di Belanda. Otak saya bekerja keras untuk mengunyah banyak hal baru yang saya alami. Orang kampung yang sangat akrab dengan “kekampungannya” tiba-tiba berada di dunia yang sangat berbeda. Mungkin benar juga ungkapan, “Orang bisa keluar dari kampung, tapi ‘kampung’ tidak bisa keluar dari dirinya.”

Dalam keadaan masih capek karena perjalanan panjang dan perbedaan waktu, kami tiba di Toronto, Kanada. Udara setempat di bulan September sangat nyaman. Mengingatkan saya pada Kaliurang, Yogyakarta. Kami dijemput oleh relawan CCI yang membawa kami ke lokasi untuk orientasi. Si penjemput ini sangat ramah dan berusaha bercerita banyak tentang kota Toronto. Salah satunya dengan bangga dia bercerita tentang CN Tower, salah satu bangunan tertinggi di dunia waktu itu. Kami semua menoleh melihat CN Tower di pusat kota sementara jendela mobil terbuka menghempaskan angin sejuk ke tangan kami yang melambai, ber’kulo nuwun’ kepada Kanada.

Kami berkumpul di sebuah tempat peristirahatan di luar kota Toronto bersama dengan sekitar 20 peserta lainnya yang berasal dari paling tidak 10 negara. Kami mendapatkan sambutan dan orientasi tentang tata cara hidup di Kanada termasuk juga masalah logistik. Acara orientasi yang berlangsung selama tiga hari memberi kesan tersendiri karena kami dapat mengalami interaksi antar budaya dan mendengar berbagai bahasa yang berbeda. Memang kita memakai bahasa Inggris, tetapi dalam kelompok-kelompok kecil peserta masih memakai bahasa asal mereka. Dengan dua teman dari Indonesia, kami memakai bahasa campuran antara Inggris dan Indonesia.

Program pertukaran ini berlangsung selama tiga bulan dan selama program ini saya tinggal dengan tiga keluarga yang berbeda. Saya ditempatkan di sebuah kota kecil bernama Lethbridge. Kota besar terdekat adalah Calgary di provinsi Alberta. Banyak orang bereaksi kurang positip ketika mendengar bahwa saya ditempatkan di sana karena kota ini jauh dari keramaian di tengah-tengah dataran yang gersang. “Membosankan”. Padahal saya tidak keberatan sama sekali. Mungkin karena saya melihat dan mengalami banyak hal yang baru dalam hidup saya seperti salju, bison, permainan hockey, jalan-jalan besar lintas kota/provinsi dll.

Keluarga pertama yang menampung saya adalah pasangan yang sudah berumur yang aslinya dari Jepang. Ya benar, saya tinggal di kota terpencil di Kanada dengan keluarga dari Jepang. Anak-anak mereka sudah rampung kuliah dan bekerja di kota lain. Bapak keluarga bekerja sebagai dosen di University of Lethbridge dan ibu keluarga adalah seorang ibu rumah tangga yang baik hati dan penuh perhatian. Berhubung peristiwa ini terjadi hampir tiga puluh tahun yang lalu, saya tidak ingat lagi nama mereka. Masakan sang ibu selalu terasa istimewa bagi saya dan ibu ini selalu menyuruh saya makan banyak. Dia bahkan mempersiapkan makan siang saya kalau saya harus tinggal lebih lama di kampus. Saya sering melihat tamu datang ke rumah kami dan mereka juga asli dari Jepang. Bapak-bapak meluangkan waktu main kartu dan minum sake. Ibu-ibu biasanya ngobrol sendiri di tempat yang terpisah.

“Ayo main kartu dengan kami,” ajak sang ayah waktu saya mengamati mereka.

“Saya tertarik tapi saya tidak mau mengganggu karena saya tidak tahu permainan kalian. Bagaimana kalau saya duduk di sini dan menonton?” tanyaku sambil melangkah ke kursi kosong. Mereka menawarkan minuman juga dan saya menerimanya tapi tidak begitu suka rasanya.

Panitia CCI setempat sangat pintar dalam mengatur semuanya bagi saya. Waktu itu saya bekerja sebagai relawan di University of Lethbridge di jurusan Drama (Art). Saya membantu membuat panggung dan belajar untuk menggunakan alat-alat serba listrik. Hampir setiap pagi saya mbonceng bapak dosen dan pulangnya naik bis. Kami sedang mempersiapkan sebuah drama tentang seorang tentara dari suatu masyarakat tradisional yang kolot. Sang tentara pulang dari medan perang dan dikucilkan oleh masyarakatnya karena dia telah membunuh musuh. Pembunuhan masih dianggap dosa berat dan larangan keras bagi anggota masyarakat itu. Beberapa kali seminggu di sore hari saya mengajar bahasa Inggris kepada immigran dari Afghanistan and Vietnam.

Keluarga kedua yang menjadi tuan rumah saya, tinggal di daerah pemukiman dalam kota dengan dua anak. Yang sulung cewek dan dan adiknya cowok. Mereka mempersiapkan semuanya bagi saya dan berusaha supaya saya punya pengalaman yang positif. Anak-anak sering mengajak saya melihat-lihat kota atau pergi ke beberapa taman yang ada di sekitar rumah mereka. Yang masih saya ingat dengan penuh rasa terima kasih adalah hadiah ulang tahun untuk saya di bulan Nopember. Mereka mengajak saya makan di sebuah restoran. Sesuatu yang sangat istimewa bagi saya karena saya hampir tidak pernah merayakan ulang tahun. Saya diperlakukan seakan saya ini orang yang sangat istimewa dengan makanan yang lezat dan tentu saja mahal. Saya terkejut ketika saya sempat melirik bukti pembayaran lewat sudut mata saya, $105 Kanada untuk lima orang. Wah, berapa orang bisa makan dengan uang sebanyak itu di kampung saya waktu itu.

Keluarga ketiga yang menjadi tuan rumah adalah ketua pengurus CCI setempat, namanya Kathy. Orangnya ramah, baik hati, bicaranya pelan dan lembut, dan banyak senyum. Dia terkenal sangat sabar juga. Suatu karakter yang sangat cocok untuk seorang guru SD. Kathy mengajar di SD setempat dan setiap hari saya ikut dia untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada anak-anak melalui cerita, nyanyi, wayang, dan slide shows yang sudah saya siapkan sebelum meninggalkan Indonesia. Anak-anak terkesan sangat tertarik dan mereka mengajukan banyak pertanyaan sehingga suasana kelas tidak membosankan. Sebagai kenang-kenangan saya diberi souvenir koleksi foto yang ditempelkan di pigura yang ditanda-tangani bersama.

 Pelajaran Berharga

Sebagian besar dari pengalaman itu sudah hilang dari ingatan saya. Gambaran akan orang-orang yang saya temui, rumah-rumah yang saya tinggali, dan tempat-tempat yang saya kunjungi semakin samar dan kabur. Tetapi, ada perasaan yang masih membekas di hati saya.

Klaten, Central Java, Indonesia.

Jauh-jauh saya pergi dari kampung halaman di Klaten, Jawa Tengah, saya temukan ada banyak persamaan di antara kita. Bahasa kita berbeda, warna kulit kita berbeda, keyakinan kita tidak sama, dan masih banyak perbedaan lainnya. Tetapi kita sama-sama bercita-cita untuk memiliki hidup bahagia, ingin dicintai dan mencintai. Keluarga dengan dua anak yang menampung saya, ingin memiliki pendapatan yang tetap, mampu menyekolahkan anak-anak mereka dan hidup dalam keluarga yang harmonis. Pasangan keluarga dari Jepang dan Kathy, ibu guru SD yang ramah itu, menegaskan kembali bahwa di manapun kita hidup, kita adalah bagian dari suatu masyarakat dan kita perlu berperan serta sesuai talenta yang kita miliki. Tidak semua dari kita terlibat dalam menyelesaikan masalah dunia, tetapi cara berpikir dan tindakan kita berpengaruh terhadap dunia. Belakangan saya mengenal ungkapan “Think globally and act locally.”

Dari para immigran yang belajar bahasa Inggris, saya jadi paham tentang makna dan dampak dari pilihan dan keputusan yang kita ambil. Setiap keputusan mengandung resiko. Berat ringannya resiko tergantung pada diri kita masing-masing dalam menentukan sikap. Mereka berjuang untuk mendapatkan hidup yang lebih layak dengan semua tantangan yang harus di hadapi: kendala bahasa, tata nilai, cuaca yang sering tak ramah, makanan, pekerjaan dll. Mereka dituntut untuk selalu bisa menyesuaikan diri sementara tetap menjaga jati diri mereka.

Pengalaman saya tinggal di Kanada membuat saya menemukan kembali pemahaman sederhana tentang hidup dalam masyarakat di manapun berada. Perbuatan baik kepada orang lain, siapapun mereka, kemungkinan besar akan dibalas dengan kebaikan. Tidak perlu baca banyak buku untuk mengetahui prinsip dasar ini. Tidak perlu mempelajari atau bahkan hafal kitab suci untuk mengartikan kata-kata ini. Tidak perlu berpuasa tidak makan tidak minum tujuh hari tanpa henti. Tak perlu mengucilkan diri di tengah hutan yang sepi atau merendam diri di sungai untuk mendapatkan wangsit/pencerahan.

Cukup dengan merasakan perasaan kita ketika orang lain berbuat baik kepada kita dan kita membalas dengan berbuat baik kepada orang lain. Kanada telah berbuat baik kepada saya. Kanada, aku masih merasakanmu. Terima kasih Canadian Crossroads International (CCI).

 

Copyright@2017StoryLighthouse

Api Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/api-sulistyo-4700865/

Note: Sebagian besar foto untuk cerita ini diunggah dari Google Images.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s