Pluralisme (1): Indah Tetapi Menantang

Ditulis oleh: Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD

Bagian satu dari empat

Jaman sekarang orang tidak bisa hidup dalam mono-kultur atau eksklusif dalam lingkungan sempit bangsa atau budayanya sendiri. Jaman makin terbuka dan menglobal, teknologi komunikasi berkembang amat pesat. Ini juga memercepat proses globalisasi dengan segala akibat positif dan negatif. Semuanya bergantung juga pada bagaimana manusia atau kita menyikapinya.

Dalam tulisan berikut saya hanya akan membagikan pengalaman saya bagaimana hidup dalam lingkungan lintas budaya dan lintas bangsa. Bagaimana suka dan dukanya serta harapan ke depan. Saya akan memulai dari proses dalam keluarga saya, kemudian dalam pendidikan dan studi serta dalam tugas pelayanan di dalam komunitas internasional.

 Keluarga Yang Lintas Budaya

Saya lahir dalam suatu keluarga besar, suatu keluarga yang amat kental dengan latar-belakang budaya Jawa. Ayah, yang berprofesi sebagai seorang guru SD, berasal dari lingkungan budaya Jawa Jogya dan ibu dari lingkungan budaya Jawa daerah Solo dan sekitarnya. Ayah saya merantau ke daerah Solo dan ketemu ibu saya. Sebagai seorang guru SD di desa, ayah saya mempunyai banyak relasi, baik dalam lingkungan dunia pendidikan (dengan sekian banyak murid dan tenaga pendidik) maupun masyarakat. Jaman dulu, guru itu benar-benar digugu dan ditiru, ditaati, didengarkan dan dicontoh cara hidupnya.

Saya akui, sejauh saya masih ingat, ayah saya mempunyai pengetahuan banyak tentang sedikit. Artinya tahu sedikit-sedikit tentang banyak bidang. Ia memang banyak membaca dan membaca banyak hal, serta rajin mendengarkan berita-berita radio; meskipun harus saya akui, pengetahuannya tidak mendalam sekali. Tetapi waktu itu saya rasa cukup untuk menjadi tempat orang-orang bertanya tentang banyak hal kepadanya. Jadi tahu tetapi hanya sedikit-sedikit. Seperti sebuah kamus berjalan yang cukup untuk memuaskan rasa keingin-tahuan para tetangga dan masyarakat yang hidup di sekitar kami.

Ayah saya juga bergaul dengan macam-macam manusia dengan pelbagai latar belakang. Ini merupakan tuntutan karena tugasnya. Kami anak-anaknya mewarisi apa yang orang tua lakukan, ditambah lagi dengan pendidikan kami di pelbagai sekolah yang berbeda, di pelbagai kota, bahkan negara yang berbeda. Semua itu betul-betul memerkaya pengalaman hidup kami. Bahkan perkawinan saudara-saudari kami sampai dengan keponakan-keponakan serta sepupu kami juga sudah merupakan perkawinan campur antar suku. Pada awalnya sih ada rasa aneh, tetapi lama-lama juga terbiasa dan indah sekali pergaulan dan kontak dengan pelbagai suku yang ada di Indonesia ini. Kami saling belajar, saling menghargai, saling melengkapi.

Dulu kami mengira hanya budaya Jawa saja yang ada di Indonesia. Biasalah cara pikir orang yang berhorizon sempit. Maka waktu kami bertemu dengan budaya lain pada awalnya terasa aneh, ada yang kurang dalam budaya lain maupun budaya kami. Tetapi dengan sikap positif, akhirnya kami bisa melihat betapa perbedaan itu indah dan mungkin ini dikehendaki oleh Tuhan dari awal penciptaan dunia. Dengan kata lain, perbedaan memang dikehendaki dari sononya oleh Sang Pencipta supaya kita saling belajar, saling mengisi dan saling melengkapi. Semakin kita saling terbuka dan saling menerima, maka kita semakin diperkaya.

Setelah saya refleksi pengalaman ini, saya hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan orangtua kami yang telah mengajarkan kecintaan kami akan perbedaan dan pluralitas. Pendidikan dalam keluarga memang menentukan bagaimana seseorang bersikap di kemudian hari dalam menyikapi perbedaan dan persamaan. Untung juga mempunyai keluarga besar dengan sekian perbedaan, sehingga saya merasakan keluarga besar kami sebagai suatu sekolah lintas budaya.

Pengalaman Dibentuk Dalam Lingkungan Lintas Budaya

Waktu berjalan terus mengikuti garis lurus menuju ke masa depan yang tidak pernah jelas 100 %. Saya mengalami pembentukan dan pendidikan persiapan sebagai seorang biarawan-misionaris-imam dalam lingkungan multi-kultur atau lintas-budaya. Kami dibentuk demikian karena memang kami disiapkan untuk menjadi misionaris yang harus siap meninggalkan lingkungan kebudayaannya sendiri. Salah satu syarat bagi kami untuk menjadi seorang biarawan-misionaris-imam SVD (Societas Verbi Divini atau Serikat Sabda Allah) adalah harus siap dan bisa serta dengan suka rela mau hidup dalam dan di luar budayanya sendiri.

Misalnya: saya sebagai orang Jawa harus bisa hidup dalam lingkungan saudara-saudara kami yang dari Flores, Timor, Bali, Sumba, Batak. Dayak, Jerman, Polandia, Jepang, Belanda, Italia, Rumania, Rusia, India, Vietnam, PNG, Argentina, dsb. Pada awalnya saya juga takut dan merasa pesimis: “bisa nggak ya saya hidup sebagai seorang biarawan-misionaris-Imam SVD yang harus ke luar dari lingkungan budaya Jawa saya?” Filosofi hidup orang Jawa “mangan ora mangan asal kumpul atau makan tidak makan asal berkumpul dengan keluarga” masih melekat kental sekali dalam diri saya waktu itu. Apalagi saya adalah orang Jawa pertama yang masuk Kongregasi SVD.

Waktu itu saya juga tidak tahu apakah saya akan bertahan lama di SVD atau tidak, karena waktu baru masuk dan menghitung lamanya masa pendidikan kok lumayan. Waktu masuk Novisiat SVD kami bersepuluh: 5 orang Jawa, lainnya dari Bali, Flores, Maluku. Pembina sendiri orang Eropa (Polandia).

Waktu sepertinya mengalir begitu saja. Saya membuka diri dan siap dibentuk entah bagaimana caranya oleh para Pembina kami. Dalam proses pembentukan itu saya mengalami bahwa tidak ada satu budaya yang hebat dalam segala-galanya atau buruk dalam segala-galanya. Masing-masing budaya memiliki unsur positif (berkat) dan juga unsur kutuk (negatif). Ada kelebihan dan keterbatasan. Di sanalah seninya, setelah saling belajar, ternyata indah juga. Ada lubang-lubang yang perlu diisi dan diperkaya di sana.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa saya perlu banyak belajar dari alam. Di alam saya menemukan macam-macam tumbuhan dan mereka hidup harmonis dan indah. Memang harmoni itu karena muncul dari perbedaan. Misalnya dalam dunia musik, baik yang pentatonis maupun diatonis, dalam dunia dan kombinasi warna, dsb. Justru kombinasi dari instrumen yang berbeda-beda itu memunculkan simponi yang indah sekali.

Demikian juga dalam kehidupan bersama di dalam komunitas kami. Saudara-saudaraku berasal dari pelbagai latar belakang. Ada yang menyenangkan, ada yang kadang membuat jengkel, tetapi itulah realitas dalam komunitas kami. Kalau dibuat litani kesalahan dan kekurangan sih pasti akan sangat banyak ditemukan. Tetapi kenapa tidak juga membuat litani kelebihan atau litani talenta dari masing-masing anggota? Pasti akan menjadi jauh lebih indah dan memancarkan aura positif. Kombinasi talenta yang baik dan berbeda-beda akan menjadi sinergis (energi yang disatukan bersama-sama) dan sangat menarik. Komunitas itu bukan kumpulan orang yang sempurna, tetapi kumpulan dan kombinasi dari banyak keterbatasan; tiap-tiap anggota membawa sesuatu yang mewarnai kebersamaan.

Pengalaman selama masa pembentukan inilah yang mewarnai saya dalam mengemban tugas-tugas yang dipercayakan kepada saya di kemudian hari. Pengalaman memang guru yang paling joss! Tak ada bandingannya. Pengalaman tidak bisa dipelajari seperti pengetahuan akal budi yang dipelajari lewat sekolah.

Berkarya di Paroki

Setelah tahbisan imamat, saya diberi tugas sebagai pastor rekan di satu paroki di Jakarta. Umat paroki kami memang plural. Bisa dimengerti karena Jakarta itu tempat banyak orang dari macam-macam suku di Indonesia merantau untuk mengadu nasib. Di kota inilah dapat dijumpai masyarakat plural, lintas budaya. Dan dalam pertemuan antara budaya selalu ada ungkapan: tiap-tiap budaya membawa kebiasaan masing-masing. Itulah yang saya alami waktu sebagai pastor muda di Jakarta.

Ada umat kami dari kelompok Flores, Timor, Jawa, Manado, Batak, dan Chinese. Itu yang merupakan kelompok besar. Kalau tiba hari raya Natal, ada macam-macam perayaan yang namanya Natalan Warga NTT, Natalan Manado (Kawanua), ada Natalan daerah Jokja-Solo, Sumatra Utara, dsb. Tetapi itulah realitasnya. Saya kadang ikut acara mereka. Karena para pastor selalu mendapat undangan untuk hadir. Memang masing-masing memiliki kekhasannya: dari segi liturgi, nyanyian, acara pestanya, menu makanannya, dsb. Betapa kayanya negaraku Indonesia ini.

Sayang sekali saya tidak begitu lama diberi kesempatan melayani umat Paroki. Hanya sekitar dua tahun kemudian saya dikirim belajar ke Eropa, tepatnya di Roma. Pengalaman-pengalaman sebelumnya membuatku lebih terbuka lagi dengan budaya dan peradaban baru bagi saya waktu itu. Kuliah-kuliah di bangku sekolah memang bagus, tetapi pengalaman bergaul dengan macam-macam umat dari pelbagai latar belakang budaya juga tidak kalah bagus. Teori perlu dikombinasi dengan praktik supaya seimbang.

Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD tinggal di Roma, Italia.

Copyright@2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

Foto-foto pendukung diambil dari google images:

Pluralisme and Pluralism

https://www.google.com/search?q=pluralisme&espv=2&site=webhp&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwim1um15o7TAhUM9YMKHSMJA58Q_AUICCgD&biw=1366&bih=613

http://www.foundationforpluralism.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s