Pluralisme (2): Dalam Komunitas Internasional

Ditulis oleh Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD

Di Komunitas SVD Irlandia

Sebelum ke Roma saya diberi kesempatan memoles bahasa Inggris saya di negara Irlandia. Waktu itu bulan Januari 1991. Bulan-bulan musim dingin memang betul-betul dingin, utamanya bagi saya yang berasal dari daerah tropis. Baju hangat yang saya bawa dari Indonesia rasanya tidak mempan dan tidak mampu menahan udara dingin. Sang “dingin” menembus sampai tulang-tulang. Apalagi cuaca di Irlandia dikenal agak ganjil. Dalam sehari, orang bilang, bisa dijumpai lebih daripada 2 musim. Pagi mungkin cerah, tiba-tiba hujan, lalu mendung, lalu dingin dan bisa cerah lagi. Itulah yang dikatakan orang tentang “typical Irish weather”.

Pengalaman tinggal di Irlandia memang kadang menyenangkan, kadang juga membuat stress. Hari pertama setelah kedatangan disamping harus menghadapi udara dingin, juga persoalan dengan makanan yang sedikit lain; ditambah lagi dengan masalah bahasa Inggris yang belum/tidak lancar (sampai sekarang juga tidak lancar-lancar rasanya), perubahan waktu, ketemu orang baru yang belum saya kenal sama sekali, dsb. Saya biasa bangun pagi di Indonesia (biasa bangun sekitar jam 04.00 karena dibangunkan oleh adzan dari Masjid-masjid). Lalu di Irlandia orang biasa bangun agak siang (menurut saya). Setiap hari pagi saya harus menunggu sekitar 2-3 jam sebelum Misa Kudus karena anggota komunitas banyak yang belum bangun. Bagi saya terlalu siang sedangkan bagi yang lain terlalu pagi. Maka hari-hari pertama saya menghitung kalender: masih berapa lama lagi ya tinggal di sini, kapan ya bisa masuk Roma, dsb.

Itulah “cultural schock” yang saya alami. Dulu di tanah air Indonesia saya bisa mendapatkan apa saja yang saya butuhkan dengan gampang, di Irlandia sini setengah mati. Nilai mata uang rupiah juga rendah bila ditukar dengan Poundsterling Irlandia. Belum lagi waktu di komunitas sering salah mengerti karena faktor bahasa dan budaya. Perlu saya sampaikan bahwa rumah komunitas kami di Maynooth (sekitar sejam dari Dublin) itu menampung para studen internasional yang studi di Universitas St. Patrick dan juga yang belajar bahasa Inggris (mulai dari studen kelas pemula dari Amerika Selatan, Eropa Timur, Asia, dsb. sampai tingkat profesional yang mau studi di Universitas).

Banyak juga calon misionaris yang akan berkerja di daerah misi di Afrika maupun Asia dan Oseania. Saya bertemu dengan studen dari pelbagai latar belakang: Asia, Eropa, Amerika Selatan, Afrika. Bahasa Inggris mereka juga macam-macam aksennya. Untuk memahami saja sudah memerlukan ekstra energy. Lengkap sudah stress saya waktu itu. Untunglah saya mempunya modal “bonek atau bondho nekat ala Surabaya dan ndablek” sehingga biarpun sulit dan stress, saya jalan terus. Saya yakin bahwa badai pasti akan berlalu. Dan betul juga, akhirnya tibalah waktunya meninggalkan Irlandia menuju Roma untuk belajar lebih lanjut sesuai dengan tugas serta perutusan dari Tarekat SVD Jawa.

Di Komunitas SVD Roma

Begitu sampai di kota Roma dalam musim semi tahun 1991, saya menemukan suasana yang memang lain. Ada banyak saudara kami SVD dari Indonesia. Mereka sedang belajar di pelbagai Universitas Kepausan. Ada perasaan bangga, tetapi juga was-was karena harus menghadapi tantangan lain. Masalah lain yang muncul ialah bahwa saudara-saudara kami di komunitas kami tidak memakai bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, tetapi bahasa Italia. Saya berbekal nekat, dan bahasa Italia saya juga mulai dari nol. Jadi saya tidak tahu apa-apa. Saya harus mulai dari nol. Doa saya waktu ingin menjadi seorang misionaris adalah supaya Tuhan memerkenankan saya mulai banyak hal dari nol. Rupanya pelan-pelan doa saya dijawab oleh Tuhan. Ternyata jawaban dari sebuah doa itu juga punya konsekuensi berat. Mulai sesuatu dari nol ternyata juga tidak gampang. Orang Jerman bilang bahwa “Die Anfang ist immer schwierig” atau permulaan atau awal itu selalu sulit. Makanan dan cuaca bagi saya cocok lah waktu itu. Apalagi masuk musim semi yang indah dan udara di Roma tidak sedingin udara di Irlandia. Tidak ada ruginya juga memiliki perut seorang misionaris. Artinya bisa makan apa saja di mana-mana (alias omnivora … he..he..he..).

Sebelum mulai kuliah kami diberi kesempatan belajar bahasa Italia lebih dahulu. Saya mendapat kesempatan belajar bahasa Italia sekitar 3,5 bulan di kota Perugia di dekat Asisi. Di sana ada satu Universitas khusus untuk orang-orang asing yang ingin belajar bahasa Italia. Di sini saya bertemu lagi dengan pelbagai macam studen. Saya bisa menyebutkan beberapa: Philipina, Vietnam, Jepang, India, China, Korea, Palestina, Yahudi, Amerika, Belanda, Belgia, Jerman, Polandia, Slowakia, Austria, Perancis, Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, Argentina, Paraguay, Turki, Yunani, Albania, Swedia, Libanon, Kamerun, Tanzania, Ghana, Afrika Selatan, dsb. Pengalaman yang betul sangat indah, tetapi juga sangat menantang. Karena sama-sama belajar bahasa Italia dari nol, maka kami sama-sama bodoh dan sama-sama pintar juga.

Dari pengalaman ini saya bisa menarik satu kesimpulan kecil dan menggaris-bawahi bahwa setiap budaya dan bahasa itu memiliki keterbatasan, tetapi juga kelebihan. Ada yang cepat belajar bahasa dan ada yang pelan-pelan juga. Begitulah proses belajar hal-hal yang baru. Kemampuan berbahasa asing itu juga soal talenta. Keyakinan saya waktu itu adalah bahwa biarpun tidak pernah akan sempurna dalam penguasaan bahasa asing, tetapi yang penting bisa mengerti; baik dari pihak saya maupun dari pihak orang lain yang menggunakan bahasa tersebut. Pepatah lama mengatakan bahwa tetesan air yang jatuh ke batu secara rutin bisa membuat lubang pada batu, apalagi manusia pasti juga bisa asalkan tekun belajar bahasa tersebut, tidak takut salah untuk menggunakannya.

Selesai belajar Bahasa Italia di Perugia, kami kembali ke Roma untuk meneruskan studi. Saya belajar di Universitas Kepausan Gregoriana (Pontificia Università Gregoriana). Universitas ini umurnya sudah tua, dan para profesor serta studennya sangat internasional. Pemilik dan pengelola Universitas ini adalah Tarekat Jesuit. Hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan, bahkan semester pertama betul-betul membuat saya stres. Untuk berbicara dengan bahasa Italia sih rasanya tidak menjadi masalah waktu itu, tetapi untuk mengerti bahasa ilmiah betul-betul satu beban tersendiri bagi saya.

Suasana perkuliahan menyenangkan. Para profesor levelnya internasional. Kuliah umumnya memakai bahasa Italia sebagai bahasa pengantar. Kadang ada profesor tamu dengan pelbagai macam bahasa. Memang membanggakan, tetapi juga memaksa saya untuk belajar setengah mati. Para profesor dan para studen yang sangat internasional pun kadang menimbulkan salah pengertian dalam berkomunikasi. Di antara kami kadang tidak saling mengerti karena aksen bahasa yang berbeda dari masing-masing negara asal kami. Rasanya lucu kalau dipikir dan diingat-ingat kembali. Selama kuliah di Universitas Gregoriana, saya ambil bahasa pengantar dalam bahasa Italia dan paper serta thesis saya pergunakan bahasa Inggris. Bagi saya keduanya adalah bahasa asing.

Saya kuliah selama tiga tahun. Di sela-sela itu, kalau musim panas, saya belajar juga bahasa lain seperti Jerman dan Perancis. Saya belajar di negara Jerman (untuk bahasa Jerman) dan di Paris (untuk bahasa Perancis). Pengalaman di kedua negara tersebut juga tidak kalah menariknya. Semuanya saya awali dari nol. Saya tidak mengerti kedua bahasa tersebut waktu saya pertama kali menginjakkan kaki di kedua negara tersebut. Dengan bekal “bonek dan ndablek” akhirnya pelan-pelan juga mengerti dan bisa berbicara. Selama belajar kedua bahasa tersebut saya juga belajar budaya mereka: etiket, etika, cara bicara, cara pikir dan cara mereka makan, dsb. Sungguh, pengalaman tersebut tidak bisa saya lupakan.Terima kasih atas pengalaman indah tersebut yang telah membekali dan memerkaya hidup saya.

Selama studi saya tinggal di komunitas kami yang juga amat internasional. Paling tidak waktu itu ada 22 bangsa; baik saudara-saudara saya yang studen maupun saudara-saudara saya yang bekerja di Generalat kami. Hal biasa bila kadang muncul salah paham karena faktor bahasa, faktor budaya, dsb. Untunglah kami umumnya memiliki hati yang sama yaitu hati sebagai misionaris-SVD yang internasional dan plural dengan segala konsekuensinya. Salah satu motto dalam Tarekat kami adalah: “satu hati aneka wajah, one heart many faces

Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD tinggal di Roma, Italia.

Copyright@2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

Foto-foto pendukung diambil dari google images:

Pluralisme and Pluralism:

https://www.google.com/search?q=pluralisme&espv=2&site=webhp&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwim1um15o7TAhUM9YMKHSMJA58Q_AUICCgD&biw=1366&bih=613

http://www.foundationforpluralism.com/

Irlandia

https://www.google.com/search?q=irlandia&espv=2&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiZscblzZbTAhVr34MKHXgIDe0Q_AUIBygC&biw=1366&bih=613

Roma

https://www.google.com/search?q=roma&espv=2&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwiRloCKz5bTAhUO84MKHcqkDxkQ_AUICCgD&biw=1366&bih=613#imgrc=6aWw8_YUMOueqM:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s