Pluralisme (3): Pengalaman Sebagai Formator dan Edukator

Ditulis oleh Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD

 Di Indonesia

Pulang dari studi saya mendapat tugas sebagai pembina (formator) di Seminari Tinggi, sekaligus dosen di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi. Tugas ini saya emban hampir dua puluh tahun sebelum saya dipindah ke satu Paroki dan akhirnya dikirim untuk bermisi di kota abadi Roma.

Para calon kami berasal dari pelbagai latar belakang suku di Indonesia. Perbedaan ini sangat sensitif dan bisa menimbulkan gesekan dan pertengkaran serta persaingan yang tidak sehat. Karena itu kami membantu integrasi mereka untuk belajar saling menerima dari sejak Novisiat. Dari pengalaman, sampai sekarang proses tersebut berjalan baik dan ini memberi pembekalan bagi mereka waktu mereka bekerja di daerah misi, baik di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Australia, Asia, dsb.

Umpan balik saya dapatkan waktu mereka cuti ke tanah air setelah beberapa waktu bekerja sebagai misionaris di pelbagai negara. Biasanya waktu cuti mereka mampir ke rumah-rumah formasi untuk berbagi pengalaman, sekaligus juga memotivasi adik-adik yang sedang menyiapkan diri menjadi misionaris-SVD di kemudian hari. Ada sebagian yang tidak tahan di misi, tetapi umumnya mereka merasa senang dan bangga menjadi misionaris di luar Tanah Air Indonesia. Tantangan pertama yang mereka hadapi adalah masalah bahasa. Setelah mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa di tempat mereka bermisi, lain-lain mengikutinya.

Seperti sudah saya sampaikan, saya juga mendapat tugas mengajar di STFT (Sekolah Tinggi Filsafat Teologi) Widya Sasana Malang. Para studen di STFT berasal dari pelbagai Tarekat Religius maupun pelbagai Keuskupan di Indonesia. Itu berarti juga dari macam-macam suku yang ada di Tanah Air Indonesia ini. Kami bisa mengatakan bahwa kami menyiapkan 1/3 tenaga imam dan tenaga Pastoral yang kemudian bekerja di pelbagai Keuskupan di Indonesia. Disamping itu juga alumni kami bekerja melayani Gereja di pelbagai negara, terutama mereka yang dikirim oleh pelbagai Tarekat Religius Misioner. Di STFT ada kuliah Filsafat Budaya. Isi dari kuliah ini antara lain soal Lintas Budaya dan Bagaimana mengolah perbedaan yang ada dalam budaya untuk membantu integrasi si mahasiswa dan juga untuk menyiapkan karya mereka di kemudian hari.

Waktu itu saya menjadi salah satu pengajar bidang ini bersama dengan rekan dosen lain. Bagi saya tugas ini bukan beban tetapi suatu panggilan dan berkat. Saya yang berlatar-belakang lintas suku dan budaya, kemudian dibentuk dalam lingkungan lintas budaya, kemudian bekerja dalam lingkungan yang tidak jauh berbeda. Bagi saya tugas ini juga merupakan kesempatan untuk mengembangkan talenta sekaligus berbagi pengalaman dan talenta dengan saudara-saudari adik-adik saya di kampus. Pertama kami mengajak para studen melihat dan menggali kekayaan budaya di Tanah Air Indonesia, kemudian kami ajak mereka melihat dalam lingkup yang lebih luas dalam skala internasional. Minat mereka luar biasa.

Globalisasi tidak bisa menutup diri dari komunikasi lintas budaya. Jaman sekarang tidak mungkin orang hidup dalam satu budaya. Itu sangat mustahil. Lintas budaya merupakan keharusan dan kenyataan yang tidak bisa dihindari dalam jaman global sekarang ini. Memang selalu akan muncul akibat negatif dan nilai-nilai positif yang dibawannya. Kesiapan dari masing-masing pribadi untuk menyerap dan menyaring merupakan suatu kebutuhan.

Di Lintas Negara

Dulu saya berpikir bahwa saya akan sampai mati menjadi pembina di Seminari Tinggi SVD maupun pengajar di STFT. Ternyata rencana Tuhan berbicara lain. Tahun 2011 pimpinan Provinsi SVD Jawa menawari saya untuk break sebentar dari tugas sebagai pembina dan dosen. Saya diminta melayani umat di satu Paroki di Jakarta untuk sementara, kemudian kembali menjadi dosen lagi. Sebelum saya bekerja di Paroki, saya diberi kesempatan mengambil kursus singkat berkaitan dengan pengelolaan Paroki di Manila – Philipina. Tugas belajar ini saya jalani dengan baik; dalam arti saya mengikuti sampai selesai.

Pengalaman di Manila juga merupakan pengalaman lintas budaya. Memang konteksnya lebih banyak konteks Asia, karena peserta kursus juga dari negara-negara Asia. Saya bisa menyebutkan beberapa asal negara mereka: Phillipina, Vietnam, Myanmar, China, Bangladesh, India, Pakistan, Srilangka, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Dari Eropa: Belanda, Inggris, Irlandia. Staff pengajar dari: Amerika, Jerman, Phillipina, Malaysia., Singapore. Memang bagi saya bukan pengalaman baru, tetapi cara hidup, budaya, mentalitas teman-teman serta lingkungan di Manila tempat kami tinggal betul-betul memerdalam pengalaman yang saya miliki. Bagi saya merupakan juga waktu istirahat untuk berefleksi setelah sekian tahun saya jarang mengambil liburan. Syukur kepada Allah atas pengalaman indah ini.

Selesai kursus di Manila (2012) saya diberi tugas untuk melayani umat di salah satu Paroki di Jakarta. Mayoritas umat kami memang dari etnis China yang berasal dari Pontianak, Bangka Belitung (orang bilang PBB). Boleh dikatakan 90 prosen umat kami adalah etnis China. Sayang sekali saya tidak sempat belajar bahasa mereka (bahasa China dari daerah mereka). Masalahnya karena pelayanan begitu padat dan tidak mempunyai waktu untuk belajar bahasa baru. Meski demikian saya sempat belajar budaya mereka, biarpun tidak maksimal.

Saya tidak lama melayani umat di Paroki ini karena setelah sekitar setahun saya dipanggil untuk datang ke Roma. Maka pada tahun 2014 setelah merayakan syukur 25 tahun imamat saya berangkat ke Roma. Suatu tugas yang tidak pernah saya mimpikan. Tetapi rencana Tuhan lewat para pimpinan kami memang jauh lebih hebat dari pikiran dan keinginan saya. Pertama saya minta waktu berpikir sambil mencari-cari alasan untuk menolaknya. Apa daya sampai waktu untuk berpikir habis dan saya hanya menemukan teks Kitab Suci yang amat indah, penuh kekuatan namun menantang “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1, 38). Dengan bantuan kekuatan Tuhan saya memersiapkan diri untuk berangkat ke Roma mengemban tugas dan perutusan baru. Bisa jadi akan berat, tetapi Tuhan yang telah memulai pasti Tuhan juga yang akan menyelesaikannya.

Begitu sampai di Roma saya ambil lagi kursus Bahasa Italia untuk penyegaran. Tempat kursus kami di kota Roma saja. Teman-teman kursus, seperti biasa, juga berasal dari macam-macam negara. Karena sudah terbiasa dengan hidup bersama dengan bangsa lain, bagi saya pengalaman sekarang ini tidak baru sama sekali. Saya ambil kursus selama sebulan saja karena hanya penyegaran dan melemaskan lidah lagi supaya omongnya lebih lancar.

Pusat Tersiat SVD

Selesai kursus bahasa Italia saya bertugas di Pusat Tersiat SVD. Tempatnya di luar kota Roma, namanya Nemi. Tempat bagus, sejuk dan sedikit jauh dari angkutan umum. Memang cocok tempatnya untuk kursus-kursus pembaruan hidup rohani. Sekarang tempat ini diberi nama Centro Ad Gentes. Ad Gentes adalah salah satu dokumen penting Konsili Vatikan II tentang Misi. Di sinilah dulu (1965) dokumen ini dihasilkan. Salah satu teolog muda waktu itu yang hadir dalam pembahasan selama Konsili Vatikan kedua adalah Paus Emeritus Benediktus XVI (Yosef Ratzinger). Teolog lain yaitu Yves Congar. Waktu itu Pimpinan SVD (Jenderal) adalah Yohanes Schuette. Seorang Jerman yang pintar dan berwawasan misi internasional yang juga diundang untuk pembahasan dokumen ini. Sayang sekali dia meninggal amat muda karena kecelakaan mobil.

Saya tinggal di dalam komunitas ini selama setahun bersama dengan 5 saudara saya yang berasal dari 5 bangsa. Jadi kami berenam dari enam bangsa (Irlandia, Inggris, Australia, India, Ghana dan Indonesia). Para karyawan kami sebagian besar dari Italia, lainnya dari Romania. Tamu-tamu kami yang mengikuti kursus atau menggunakan tempat ini bervariasi. Yang jelas amat lintas budaya. Maka kemampuan bicara dalam pelbagai bahasa sangat dibutuhkan di tempat ini. Untung saudara-saudara saya ada yang lancar bahasa Spanyol, Portugis, Jerman. Sehari-hari kami menggunakan Bahasa Italia dan Inggris dalam komunitas. Karena dari enam bangsa, maka dialek dan idiolek kami juga bermacam-macam dalam berkomunikasi. Itulah salah satu kekayaan yang kami miliki dan kembangkan di dalam komunitas kami. Kalau kelompok Tersiat datang, suasana lebih seru lagi. Dalam arti pasti ada pertemuan macam-macam budaya dan bahasa karena peserta juga amat internasional. Benar-benar suatu kehidupan yang menarik, indah, sekaligus juga menantang karena kadang terjadi salah paham dalam berkomunikasi.

Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD tinggal di Roma, Italia.

Copyright@2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

Foto-foto pendukung diambil dari google images:

Pluralisme and Pluralism

https://www.google.com/search?q=pluralisme&espv=2&site=webhp&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwim1um15o7TAhUM9YMKHSMJA58Q_AUICCgD&biw=1366&bih=613

http://www.foundationforpluralism.com/

Rome

https://www.google.com/search?q=rome&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjI9pnn-KLTAhWB6oMKHWSvBJkQ_AUIBygC&biw=1366&bih=613

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s