Pluralisme (4): Pengalaman Sebagai Formator dan Edukator

Ditulis oleh Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD

Collegio Internasional Rama-rama Diosesan

Setelah setahun melayani saudara-saudara saya setarekat yang mengikuti Tersiat Internasional, tiba-tiba pimpinan saya (Jenderal) memanggil saya. Saya diminta menyiapkan diri untuk pindah tugas ke Collegio San Pietro Apostolo. Collegio ini menampung imam-imam keuskupan dari mana-mana (Afrika, Amerika Selatan, Asia, Oceania) yang sedang belajar di Roma. Mereka ambil program Masteral dan Doktoral atau S2 dan S3. Mereka mendapat beasiswa dari Propaganda Fide atau satu Departemen di dalam Gereja yang mengurusi Misi Gereja Universal. Saat ini jumlah rama yang tinggal ada 179 orang yang berasal dari kurang lebih 50 negara. Mereka berasal dari negara-negara yang berbahasa Inggris, Spanyol, Portugis, Perancis, China, Vietnam, Myanmar, dan Indonesia. Untuk komunikasi harian, kami dianjurkan memakai bahasa Italia. Memang di meja makan kecenderungan ngumpul sebangsa selalu ada. Sehingga jangan heran bila kita temukan satu meja berbahasa Perancis, Meja lain berbahasa Portugis, meja lain lagi berbahasa Inggris, meja lainnya lagi berbahasa China. Kecenderungan ini tidak bisa dihindari, karena sebagain besar dari mereka tidak pernah mengalami hidup di luar negara atau budayanya. Secara psikologis mereka merasa lebih aman dan nyaman bila berbahasa asal mereka.

Mengapa kami yang SVD yang melayani mereka? Kami SVD sudah bekerja sejak tahun 1947. Sejak Collegio ini berdiri, kami SVD dipercaya dan diminta Takhta Suci (Vatikan) untuk mendampingi para studen yang adalah para rama diosesan. Banyak dari alumni kemudian menjadi Uskup, dan bahkan beberapa menjadi Kardinal disamping menjadi para pembina di Seminari Tinggi atau rumah-rumah Formasi di Keuskupan mereka masing-masing. Staff atau pimpinan yang mengurus Collegio ada 4 orang (rektor, wakil rektor, pembimbing rohani dan ekonom atau bendahara rumah). Kebetulan kami berempat juga berasal dari empat bangsa. Rektornya dari Spanyol, Wakil rektornya dari Indonesia, ekonomnya dari Polandia dan Pembimbing Rohani dari Portugal.

Karyawan-karyawan kami juga sangat lintas bangsa dan budaya. Memang sebagian besar adalah orang-orang Italia.  Dulu waktu di Indonesia, karena lingkupnya hanya antar suku, tantangan lain. Sekarang di Italia, karena lingkupnya antar bangsa dengan macam-macam karakter dan mental, konsekuensinya tantangan juga jauh lebih berat. Kadang terjadi gesekan karena masalah bahasa, masalah kebudayaan, masalah mentalitas, dsb. Memang dibutuhkan banyak kesabaran, pemahaman, dan juga kehati-hatian. Salah sedikit bisa menimbulkan percikan api. Untuk menumbuhkan semangat saling pengertian dan saling belajar atau mengenal bangsa lain, kami membuat Perayaan Ekaristi Inkulturatif. Tetapi juga setahun sekali ada eksposisi tentang negara masing-masing. Kalau kita mau membuka mata dan hati, betapa luar biasanya kekayaan budaya dunia ini. Saya membayangkan kalau Collegio yang menampung sekitar 179 imam-mahasiswa saja sudah begitu kayanya kekayaan budaya yang ada, apalagi dalam konteks dunia lebih luas. Memang benarlah yang dikatakan tentang “hidup dalam lintas budaya itu indah sekaligus amat menantang”.

Pengalaman sebagai pembina di Seminari Tinggi memang bukanlah hal baru bagi saya, tetapi sekarang bekerja di antara para imam diosesan (keuskupan) yang berasal dari pelbagai penjuru dunia merupakan suatu ceritera tersendiri. Mereka bukan lagi Seminaris calon imam, tetapi sudah imam. Seperti yang dikeluhkan banyak pembina dan para Uskup juga, bahwa bekerja dengan dan untuk para imam sering menimbulkan sakit hati. Dengan lelucon kadang dikatakan bahwa mereka yang bekerja di Seminari atau Rumah-rumah formasi itu gizinya tinggi karena sering makan hati (ha..ha..). Kalau kita ingin cepat melihat hasil dari pekerjaan kita dalam hal ini bisa putus asa dan frustrasi. Mungkin hasilnya baru kita dengar atau kita saksikan 10 tahun, 15 tahun, bahkan 20 tahun ke depan. Inilah ridiko bekerja dalam Kerajaan Allah. Maka mesti perlu dilihat bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan Tuhan Allah sendiri sebenarnya, kami hanyalah alat-alat Tuhan untuk menyiapkan GerejaNya di pelbagai tempat dengan mendampingi para rama yang sedang studi. Kami hanya berbagi pengalaman hidup, mudah-mudahan ada gunanya untuk mereka dan semoga kami boleh ambil bagian dalam karya Kerajaan Allah. Nasehat Yesus bagus sekali dalam hal ini: “… Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Luk 17: 10)

Kalau kita membuka diri, membuka hati, bersikap rendah hati, mau melihat aspek positif dan negatif dari masing-masing budaya tanpa menyudutkan dan memokuskan diri pada aspek negatifnya, mau belajar dan saling melengkapi, tentu saja semua itu menjadi mungkin. Tentu saja kalau kita menyandarkan hanya pada kemampuan insani kita pasti akan gagal. Dari sononya Tuhan memang menghendaki perbedaan kok. Perbedaan ini mempunyai tujuan untuk saling melengkapi, saling belajar, saling meneguhkan. Betapa indahnya perbedaan. Maka bukan tidak mungkin bahwa seekor anak lembu akan berbaring dan bercanda dengan anak singa. Hal-hal yang awalnya saling curiga, menjadi saling mengasihi. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah mungkin atau tidak, tetapi maukah manusia menjadi rekan Tuhan dalam mengusahakan dan mewujudkan damai yang merupakan kerinduan setiap ciptaan Tuhan! Kalau manusia mau bekerja sama dengan Tuhan, tentu tidak ada yang mustahil di dunia ini. Bagi Tuhan semuanya adalah mungkin. Itulah berkat dari pluralism.

Penutup

Tidak terasa cerita pengalaman bagaimana saya hidup dalam lintas budaya sudah terlalu panjang. Mungkin ada yang jelas, mungkin ada juga yang membingungkan dan menimbulkan pertanyaan. Sekali lagi saya mau mengatakan bahwa pada awalnya waktu saya bertemu dengan budaya lain, muncul dua sikap dalam diri saya: pertama kadang menjadi arogan atau sombong dan melihat budaya lain lebih rendah daripada budayaku sendiri. Yang dilihat adalah unsur kekurangan dan negatifnya. Sikap kedua, merasa minder karena menganggap dan melihat budaya lain jauh lebih baik dan lebih hebat. Kemudian apa yang saya lakukan?

Setelah masuk lebih dalam ke dalam kedua budaya atau lebih, ternyata ada banyak mutiara indah di sana. Masing-masing budaya memiliki kelebihan dan keterbatasan. Perbedaan hendaknya menjadi motivasi untuk belajar lebih dalam dan lebih jauh lagi tentang apa yang belum saya kenal. Semoga apa yang saya bagikan ini bisa menjadi bacaan yang sedikit membantu para pembaca yang mengalami tantangan dalam berhadapan dengan perbedaan budaya. Ada banyak keindahan dalam budaya lain yang mungkin tidak kita miliki, dan sebaliknya budaya lain juga melihat ada banyak unsur baik dalam budaya kita yang tidak mereka miliki. Ingat bahwa harmoni itu bukan muncul dari keseragaman, tetapi dari perbedaan dan keragaman yang dikombinasikan secara estetis.

 

Yohannes Bosco Isdaryanto, SVD tinggal di Roma, Italia.

Copyright@2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

Foto-foto pendukung diambil dari google images:

Pluralisme and Pluralism

https://www.google.com/search?q=pluralisme&espv=2&site=webhp&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwim1um15o7TAhUM9YMKHSMJA58Q_AUICCgD&biw=1366&bih=613

http://www.foundationforpluralism.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s