Kumpul-kumpul Dan “Harus” Makan-makan

Ditulis oleh Api Sulistyo

Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman Pat Madyana, MS, dosen bidang studi Pembangunan Masyarakat (Community Developement, Dh. Sosiatri) di universitas Gunung Kidul Yogyakarta (UGKY). Sekarang Pat Madyana sedang merampungkan disertasinya untuk program doktoralnya dalam bidang Inter-Religious Studies, Sekolah pascasarjana, UGM. Informasi untuk cerita ini dikirimkan lewat sound recording tilpun seluler.

 

Kampung Melayu

Pada tahun 1992 saya (A. Pat Madyana) meninggalkan kampung halaman dan anak istri saya, mengarungi lautan Pacific dengan transit di Hawaii, untuk mengenyam pendidikan S2 Dept of City and Regional Planning, School of Architecture di Ohio State Univeristy (OSU) di kota Columbus, Ohio, Amerika Serikat. Bidang studi ini tidak sama dengan bidang studi S1 yang saya selesaikan di alma mater saya, Universitas Gajah Mada yaitu ilmu Sosial Politik pada Prodi Ilmu Hubungan International (International Relations), Fisipol. OSU yang terletak di kota Columbus ini menampung lebih dari 45,000 mahasiswa/i program S1 dan lebih dari 13,000 mahasiswa/i program studi lanjut tingkat masters dan doktoral.

Pada waktu itu populasi masyarakat Indonesia di Columbus sudah lebih dari 1.000 orang yang mencakup students, spouses dan keluarganya. OSU menjadi universitas pilihan bagi mahasiswa/idari berbagai negara karena banayaknya program studi yang ditawarkan, uang kuliah yang relatip lebih murah serta tesedianya bea siswa. Kala itu saya mendapat beasiswa dari program OTO-Bappenas yang didanai oleh IBRD/World Bank, bagi para karyasiswa dari berbagai departemen, Perguruan tinggi dan bahkan terbuka untuk kalangan NGOs. Selain itu OSU juga ramah dengan kebutuhan mahasiswa/i internasional untuk bisa berhasil menyelesaikan studi mereka. Para Mahasiswa dengan dana OTO-Bappenas pada waktu itu diurusi oleh lembaga mitranya yang berkantor di Columbus yaitu MUCIA. Dibanding banyak universitas lain, OSU juga terletak di daerah yang cuacanya tidak terlalu dingin (mild) di musim dingin.

Selama studi di OSU antara tahun 1992 – 1994 saya tinggal di sebuah apartmen, Le Chateau de Chanson yang terletak di dekat kampus utama dan dihuni oleh sebagian besar mahasiswa/i dari Asia seperti Malaysia, Brunai, Indonesia, Thailand, Bangladesh, India dan Korea. Banyak juga mahasiswa/i dari Timur Tengah seperti Afghanistan, Jordan, Yaman, Iran, dan Irak yang tinggal di daerah ini. Oleh karena orang dari rumpun Melayu itu daerah ini mendapat julukan “Kampung Melayu”.

Orang akan tahu kalau mereka mulai memasuki daerah Kampung Melayu karena biasanya ada aroma khusus masakan Asia yang menggugah nafsu makan. Aroma kuat ini sering melekat di pakaian kita sehingga orang lain bisa dengan mudah menciumnya. Pemandangan di daerah Kampung Melayu juga didominasi oleh masyarakat kulit berwarna dan rambut hitam. Dan tentunya setiap hari terdengar aneka bahasa dari berbagai belahan dunia. Kita tidak tahu bahasa yang kita dengar, tetapi biasanya bukan bahasa Inggris. Suasana ini kadang memberikan rasa seakan kita berada di negara kita sendiri. Orang Indonesia yang kebanyakan Muslim juga nyaman tinggal di situ karena ada Mesjid kampung di kawasan itu.

Masjid Bekas Gereja

Di depan apartemen kami ada sebuah masjid yang kemungkinan besar dulunya adalah sebuah gereja, karena ada bekas konstruksi altarnya. Banyak kegiatan sosial-keagamaan berlangsung di masjid ini selain acara sholat dan pengajian. Mahasiswa/i dari berbagai negara memakai masjid ini untuk tempat berdiskusi baik tentang topik yang akademis maupun hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan keseharian mereka. Walaupun saya seorang Kristiani, saya ikut aktip terlibat dalam kegiatan mereka kecuali sholat dan pengajian. Komunitas Indonesia Muslim memiliki Group Pengajian yang juga diikuti orang seperti saya karena rindu kampung halaman tadi. Kadang kami menjadi panas karena perbedaan pendapat tentang topik yang kami bahas. Tetapi kami tetap menghargai perbedaan pendapat yang ada tanpa menganggap diri yang paling benar. Proses ini menjadi sarana belajar yang efektip pula di luar ruang kuliah.

Saya benyak belajar dari diskusi-diskusi dengan mereka dalam komunitas pengajian yang tempatnya berpindah-pindah di apartemen anggota kelompok pengajian dan kadang di Masjid juga. Acara makan-makan tentu saja menjadi acara favorit saya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa lidah Jawa saya terpuaskan dengan rempah Asia di komunitas ini. Pokoknya kalau ada makanan pedas, seakan berada di tanah air. Seorang teman bilang, “Kalau kumpul-kumpul yang harus ada makan-makan juga.” Kalau nggak ada makan-makan rasanya jadi malas untuk datang. Apalagi kalau ada anggota baru pulang dari tanah air selalu dikerubungi para penggemar kuliner kampung dari Indonesia, dan makanan paling favorit Adalah “Sambel terasi”. Pernah kami kena denda dari dinas pemadam kebakaran county kami gara-gara alarm anti kebakaran di atas dapur teman kami bercuitan terus lantaran lagi goreng terasi. Sang petugas mencari tahu penyebab “berteriaknya” alarm dapur. Waktu dia mencium bau menyengat dari sambel terasi bakar itu komentarnya: “You cooked shit!” Reaksi spontan kami: “Ini bule gebleg gak tahu makanan enak Melayu!!”

Sesuatu yang masih saya ingat dengan jelas dan sangat saya rasakan adalah kebiasaan tegur sapa di antara kami. Mahasiswa/i dari Timur Tengah biasa menyapa orang Indonesia dengan sebutan “brother” atau “saudara”, hanya karena anggapan bahwa semua orang Melayu selalu dianggap Muslim. Sebutan ini membuat kami merasa dekat dan bersahabat walaupun tidak ingat lagi atau belum tahu nama-nama mereka. Mungkin karena mereka menganggap orang Indonesia itu semua muslim, jadi disebut “brother” yang seiman. Apapun alasannya, sapaan itu membuat saya merasa diterima sebagai saudara dan merasa aman bersama mereka. “We are OK with each other, no problem,” begitu rasanya. Dalam pergaulan kami saat itu, saya merasakan sentuhan persaudaraan yang sejati, tidak melihat warna kulit, agama, latar belakang budaya, dst.

Di sisi lain, sebagai seorang Kristiani, saya juga pernah ikut kegiatan koor atau kebaktian gerja serta komunitas layanan gerejani lainnya bersama mahasiswa/i dari Indonesia dan kebanyakan anggotanya adalah berdarah/keturunan China. Waktu isteri dan anakku yang menyusul kemudian datang di Columbus, kami ikut KKI, Karismatik, Legio Maria dan bahkan pernah menjadi Godfather (emban baptis) bagi seorang calon permandian asal Indonesia. Kalau mengikuti kegiatan orang Indonesia umum lainnya, kebanyakan datang dari Jawa dan beragama Islam. Malah saya pernah menjadi anggota ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) di kampus kami karena saya sangat tertarik untuk berkumpul dan berdiskusi dengan mereka. Saya masih ingat beberapa nama yang dulu sangat aktip dalam ikatan ini seperti Hermawan Diapayana, Machfud dan Rizal Mallarangeng. Suatu hari ada salah satu anggota ICMI yang pingin tahu, “Pak Pat, apakah anda tunduk pada sang Khalik?”

“Ya, tentu saja saya tunduk pada sang Khalik? Jawab saya dengan sedikit terkejut karena pertanyaan ini bersifat pribadi menurut saya. Orang itu kemudian melanjutkan, “Berarti anda itu Muslim tapi beragama Katholik”. Saya tidak menanggapi penyataan itu dan tidak ada kelanjutan dari percapakan singkat kami, tapi sejak saat itu saya “boleh” bergabung di komunitas ICM lokal Columbus. Perbedaan-perbedaan pemahaman ini memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda dan memperkaya saya untuk bisa saling menerima dan menghargai. Setiap bulan kelompok Pengajian Columbus selalu adakan gathering dan berdiskusi tentang perkembangan berbagai hal di tanah air dan yang paling panas adalah “ngrasani” rejim Orde Baru. Kami punya mentor Indonesianis yaitu Prof. Bill Liddle yang beken sebagai “puak” melayu itu.

PERMIAS

Asian American Association at OSU

Saya juga pernah menjadi anggota pengurus PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) di OSU. Saya ditunjuk untuk mengurusi bagian Education-Training (Pendidikan/Pelatihan) anggota baru PERMIAS. Anggota kami tentu saja semua mahasiswa/i dari berbagai daerah di Indonesia baik yang belajar di tingkat S1, S2, maupun S3. Kami sangat aktip dengan berbagai kegiatan budaya untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat kampus. Termasuk dalam kegiatan kami adalah pertemuan bulanan untuk membahas kinerja kami dan bagaimana kami membantu anggota yang mengalami kesulitan terutama dalam bidang akademis maupun masalah penyesuaian diri dalam hal sosial budaya di kampus OSU. Kami diasuh (dimoderatori) oleh Professor Dr. R William (Bill) Liddle, yang tadi saya sebutkan.  Waktu itu beliau adalah pakar tentang dunia politik Indonesia dan banyak mahasiswa Indonesia menjadikannya sebagai pembimbing akademis mereka, beberapa di antaranya adalah Prof. Affan Ghafar, Prof. Mohtar masoed, Prof Slamet Prawiroharto, Makarim Wibisono, Rizal Mallarangeng dan Ketut Erawan. Bill Liddle adalah professor bidang Ilmu Politik di Ohio State University.

Pada bulan Agustus tahun 1993 seperti biasanya kami merayakan hari kemerdekaan kita. Kami berkumpul di sebuah lapangan baseball di sekitar kampus di tepian Olentangy River. Bulan Agustus di Ohio sangat panas dan lembab. Tanpa bertele-tele kami ingin acara cepat selesai dan segera disusul dengan acara makan-makan kulinary khas Indonesia dan tentu saja Melayu banget. Setiap anggota diharap membawa sesuatu (makanan, minuman, buah-buahan, kue, piring, sendok, garpu, dst). Di kampung kami ada pak Joko asal Klaten yang memproduksi tempe yang tetap produksi saat musim dingin. Acara berjalan lancar dan meriah karena banyak yang hadir. Tiba-tiba saya diprotes oleh beberapa anggota sehubungan dengan doa yang akan kami bacakan saat upacara bendera. Text doa kami terima dari KBRI dengan tata cara Islam. “Pak Pat, mestinya kita cari text doa yang lebih netral,” begitu protes mereka. Memang banyak dari anggota PERMIAS menganut Kristiani. Setelah dirembuk bersama akhirnya kami sepakat. Saya sampaikan kepada mereka, “Ya sudah, untuk sekarang kita terima dulu. Lain kali kita minta doa yang mewakili kita semua.” Memang baik juga kalau kita bisa mewakili semua pihak dalam hal berdoa di depan umum. Kelompok mayoritas dan minoritas selalu ada dalam setiap masyarakat. Apapun yang kita lakukan sebaiknya membuat semua bagian merasa diterima dan dihargai.

Begitu kentalnya semangat ke-Indonesia-an kami hingga suatu ketika kami pernah mengadakan bazaar bertajuk Indonesian Cultural Night di kampus OSU dengan sponsor utama Bp Arifn Siregar, Dubes RI di Washington, D.C. saat itu. Kami tampilkan pakaian, masakan, kerajinan dan tentu saja musik dan tarian dari Indonesia termasuk tari Bali yang menghebohkan bagi para warga mancanegara lainnya di Columbus. Saya masih ingat, saya pajang baju batik bekas ku yang sudah pudar warnanya, eee masih laku $50,-. Saat itu saya pakai blangkon dan surjan lengkap dengan jarik Malioboro dan keris mantenannya. Masih dipakai saja itu ditawar orang, tapi tidak saya lepas karena mau kujadikan tinggalan untuk Prof. DR. Burkhard von Rabenau, academic advisor ku yang baik hati.

Isteriku, Maria Susiani yang resign dari BRI karena nyusul aku, menjadi nanny bagiku selama 2 tahun studi. Dia punya kerjaan sambilan dengan upah lumayan yaitu jadi pengasuh bayi jam-jaman dari keluarga Indonesia yang bawa baby. Dia juga aktif di International Wives Club dan dapat kenalan dan pengalaman dari para isteri komunitas internasional termasuk resep masakan mereka seperti burger, pizza dan macaroni. Dia tidak minder untuk berbahasa Inggris ala kadarnya karena yang lain juga senasib di negeri orang. Acara favorit kami kalau liburan adalah “Red-white and boom”, yaitu nonton kembang api di city park kala peringatan Independence day nya America. Olahraga yang digemari untuk ditonton adalah american football dengan yell-yell “Let’s go Bucks”. Club andalan kami di OSU adalah The Buckeyes.

Ohio Stadium yang berkapasitas hampir 105,000 penonton

Cerita akan saya lanjutkan dengan pengalaman menghadapi tantangan akademis di kampus.

 

Copyright©2017StoryLighthouse.com

Foto-foto untuk tulisan ini diambil dari OSU website.

Ohio State University

https://www.osu.edu/

PERMIAS Ohio State University

http://permias.org.ohio-state.edu/Home/Home.html

Mosque/Masjid

http://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=V26y3b8V&id=CFE89E51132CD8495DC3867E5D9CA571A5B4F8CB&thid=OIP.V26y3b8VkDYwI1YMvhUnRwEsC3&q=mosque+ohio+state+university&simid=608055439413415217&selectedindex=3&mode=overlay&first=1

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s