Saya Akan Gagal Kalau Begini

Ditulis oleh Api Sulistyo

Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman Pat Madyana, MS, dosen bidang studi Pembangunan Masyarakat (Community Developement, Dh. Sosiatri) di Universitas Gunung Kidul Yogyakarta (UGKY). Pat Madyana sedang merampungkan disertasinya untuk program doktoralnya dalam bidang Inter-Religious Studies, Sekolah pascasarjana, UGM. Informasi untuk cerita ini dikirimkan lewat sound recording tilpun seluler.

Mengejar Ketinggalan

Saya kuliah S2 dalam bidang studi City and Regional Planning (Perencanaan Kota dan Daerah Pemukiman) yang masuk di bawah School of Architecture (Cabang Ilmu Arsitektur) di Ohio State University, Amerika Serikat. Padahal saya itu lulusan Sosial Politik, UGM bagian dari studi bidang International Relations. Jadi saya itu lompat pagar.Ada beberapa mata kuliah yang sama sekali baru bagi saya dan saya tidak punya bekal pendidikan, pengetahuan, maupun pengalaman sebelumnya. Saya mengalami ‘gegar budaya” atau culture shock yang sangat berat. “Very very severe.” Salah satu contohnya, saya ambil mata kuliah dari Profesor Gordon yang mengajar tentang “Physical Elements of Urban Planning.” Saya tidak mudheng dia itu ngomong apa selama mata pelajaran itu. Binatang macam apa pula ini… culdesac….. curbcut ….facade …. etc.

Dia akhir pelajaran dia bilang, “Yang tidak mengerti silahkan datang ke kantor saya”.Dia mau memberi kesempatkan kepada mahasiswa/i nya yang kesulitan, punya pertanyaan, atau bahan yang ingin dibicarakan dengannya. Dan tentu saja saya menjadi mahasiswa yang paling pertama untuk bertemu dia.

“Prof, saya tidak mengerti yang bapak bicarakan di dalam kelas.” Saya memulai pembicaraan kami.

Dia menatap tajam ke saya dan bilang, “Apa masalahnya?”

“Lha latar belakang saya itu ilmu sosial-politik, bukan perencanaan kota.”

Dengan cepat dia membalas, “Ya itu masalahmu. Kamu sudah membaca deskripsi mata kuliah saya dan kamu memutuskan untuk ndaftar. Pergilah ke pembimbing akademismu.”

“Bagaimana saya bisa berhasil di mata kuliah ini?”

Prof Gordon akhirnya agak iba juga dengan saya, “Ambillah mata kuliah program S1 (undergraduate) seperti dasar-dasar arsitektur, kritik design, Urban Design, dst.”

Saya menjadi semakin khawatir akan studi saya karena akan berlarut-larut dan memakan waktu lebih lama. Konsekwensinya akan merambat ke beaya kuliah. Tetapi paling tidak saya mendapatkan nasihat praktis dari dosen dari mata kuliah yang bersangkutan. Sesuai nasihatnya, pertemuan itu saya lanjutkan dengan menemui pembimbing studi saya.

“Kamu harus ambil mata kuliah dasar itu seperti anjurannya. Tapi kamu tidak akan dapat kredit dan harus lulus,” begitu anjuran dan ‘warning’nya untuk saya. Dari dosen di program S1 saya mendapatkan daftar referensi yang harus saya baca. “Ternyata bukunya sak bantal-bantal (tebal sekali). Bagaimana saya bisa membaca dan mengerti semua?” keluhku dalam hati.

Kesulitan saya dalam bidang akademis tercermin pada hasil studi saya. Waktu kwartal pertama selesai, GPA (grade point average/nilai rata-rata) saya di bawah 3 dan saya dipanggil oleh pembimbing saya. Dalam pertemuan itu saya sampaikan, “Saya bisa gagal kalau begini. Bagaimana kalau saya pindah ke sekolah lain di bagian Public Administration di Pittsburg University?” Saya telah melakukan riset tentang bidang studi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya sekalipun mencari universitas yang menawarkan program itu.

Saya bisa melihat kekecewaan di wajahnya, tetapi dia sudah memikirkan keputusannya tentang bidang studi saya. “Yang menerima kamu kuliah di sini itu saya. Saya cukup tahu tentang Indonesia. Saya ikut mendesign Pulau Batam atas perintah BJ Habibie (ketua otorita batam saat itu) dan saya di OSU dipercaya untuk membimbing mahasiswa/i dari Indonesia.”

“Kau boleh pindah kalau sudah lulus dari sini.” Pernyataan dia ini memang keras tetapi justru memberi semangat baru untuk saya. Kami pun mulai semakin nyaman berbicara tentang keadaan saya.

Di lain kesempatan ketika kami ketemu lagi saya bilang,”Saya bisa berhasil kalau ada orang yang membantu saya. Saya tidak mau terganggu dengan urusan masak, cuci pakaian, seterika, dst.sehingga saya bisa konsentrasi belajar.” Waktu itu saya masih sendirian, istri dan anak saya masih di Indonesia.

Saya dikejutkan oleh jawabannya, “OK, kalau gitu akan saya carikan nanny (pembantu) untuk kamu. Tapi, dia harus tinggal serumah dengan kamu dan membayarnya, beberapa ratus dollar per bulan.” Sesaat saya kira dia bercanda, tapi raut mukanya tampak serius. Menurut saya ini usulan yang tidak baik. Pertama, saya akan bangkrut untuk membayar pembantu karena uang saku yang pas-pasan. Bagaimana saya bisa makan dan membayar pengeluaran lainnya. Yang kedua, saya akan ada di posisi yang sulit untuk serumah dengan seorang wanita. Mungkin saya malah tidak bisa tidur and tak bisa konsentrasi belajar.

Dukungan Keluarga

Setelah terdiam sebentar, pembimbing saya bertanya, “Mengapa kamu tidak mengajak istrimu?”

“Saya tidak pernah memikirkannya karena tidak tahu kalau ada kemungkinan seperti itu” jawabku. Saya pun diberi nasihat untuk datang ke International Student Office dan mencari informasi tentang proses dan peraturan tentang membawa istri selama studi di Amerika. Saya merasa lega karena sebagai mahasiswa/i asing diperbolehkan mengajak anggota keluarga selama studi. Mereka tidak diperbolehkan bekerja selama di Amerika dan harus kembali ke tanah air setelah saya lulus. Prosesnya cukup rumit dan panjang karena banyak dokumen yang harus dipersiapkan dan banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satu persyaratannya, saya harus punya cukup uang, paling sedikit $ 4.000 di bank selama tiga bulan terakhir (standing bank account).

Saya sempat bingung memikirkannya karena memang saya tidak punya uang. Masalah ini saya sampaikan dengan teman-teman di Pengajian Columbus, saat diskusi dan ternyata ada solusinya. Saya disarankan untuk pinjam uang dari beberapa teman sehingga data di bank memenuhi syarat. Selain itu saya juga menyampaikan kesulitan ini dengan pembimbing akademis saya.

Columbus, Ohio.

“Saya bisa mengajak anak istri saya ke sini kalau saya punya tabungan $4.000,” kata saya kepada pembimbing. Saya mengharap dia bersedia meminjamkan uang tersebut. Betapa terbebasnya perasaan saya ketika tiba-tiba dia menulis check untuk saya sebesar $2000. “Ini dipakai untuk membawa istrimu ke sini,” katanya sambil mengulurkan check depada saya. Suatu kebahagiaan tersendiri ketika akhirnya istri dan anak saya akhirnya menginjakkan kaki ke Columbus, Ohio untuk mendukung studi saya.

Tuntutan membaca referensi ini mengubah pola hidup saya. Saya datang ke Amerika untuk belajar. Status saya adalah seorang mahasiswa dan tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar. Saya mulai menghabiskan waktu saya di perpustakaan kampus yang sangat kaya dengan buku-buku, majalah, video, bulletin, dst. Tempatnya juga sangat nyaman sehingga kita betah tinggal di sana. Kalau ada kesulitan mencari buku yang kita butuhkan, ada mahasiswa/i atau petugas di sana yang siap membantu mencarikan. Ternyata bidang arsitektur itu sangat menarik juga. Sering saya lupa waktu dan berada di perpustakaan dari malam sampai pagi. Sering istri saya datang ke perpustakaan untuk menjemput saya dan mengajak pulang. “Pak, sudah pagi, ayo pulang dulu. Nanti ke kampus lagi untuk kuliah.”

Memang saya tidak tahu bahwa sudah pagi, waktunya untuk pulang mandi, makan pagi terus berangkat kuliah lagi. Saya menanggapi tugas belajar dengan serius dan penuh semangat. Tetapi, istri dan anak saya juga punya andil yang sangat berharga sehingga saya bisa selesai kuliah.Saya bersyukur bisa selesai kuliah sesuai rencana, tepat waktu, 2 tahun. Saya tidak tahu kok saya bisa melakukannya waktu itu. Kalau harus melakukannya lagi tentu saya tidak akan mampu.

Sebelum kembali ke Indonesia, saya bertemu dengan pembimbing akademis saya untuk berpamitan dan berterima kasih atas semua bantuannya. Secara khusus saya ingin mengembalikan uang pinjaman, $2,000 untuk membawa anak istri saya ke Amerika. Tak disangka-sangka, dia marah-marah dengan saya. “You, humiliate me,” katanya. Tentu saja saya kaget. Bagaimana saya bisa dianggap merendahkan martabatnya. Saya hanya mau mengembalikan hutang saya.

“Saya memberi kamu uang itu untuk membantu kamu supaya kamu bisa membawa istrimu ke sini, dan berhasil dalam studi di OSU ini” jelasnya. “Itu bukan uang pinjaman dan kamu tidak harus mengembalikannya,” lanjutnya. Dengan sedikit malu dan bingung, saya bilang, “Thank you Prof.”

“Pakai saja uang itu untuk kebutuhanmu. Congratulations!”

“Terima kasih Prof.” tanggapan saya sedikit kesal. Kenapa saya sampai nggak tahu bahwa uang itu adalah bantuan bukan pinjaman. Dalam hati saya berkata, “Kalau tahu itu uang bantuan, aku dulu minta $4000.”

Sebagai kenang-kenangan saya serahkan satu stel pakaian Jawa gaya Jogja yang pernah kupakai saat Indonesian cultural Night Permias 1993 tahun sebelumnya. Pulang dari rumah tinggal dosenku tercinta itu aku ke toko buku “Noble” dan memborong banyak buku teks termasuk majalah dan buku  anak-anak seperti Winnie the Pooh, Donald Duck, Teletubbies, Mickey Mouse, Mermaid, dan The Lion King yang kondang itu. Satu hal yang saya rasakan sangat mengesan, pelajar dan mahasiswa asal Indonesia di AS sangat terbantu dan terdukung dalam meyelesaiakan studinya karena keramahan dan kegotongroyongan kuat yang dimiliki oleh komunitas warga lokal di situ. Selama 2 kwartal pertama, saya sempat punya foster parent, orang tua angkat yang rajin menyambangi saya dan undang saya ke rumahnya pada hari-hari besar dan libur nasional seperti Thanksgiving day, independence day, natal, paskah, dll. Saya punya pengalaman makan turkey (kalkun) itu yang saat thanksgiving day mereka. Saat valentine’s day  dan halloween day saya diajak konco-konco America di daerah kami pakai kostum aneh dan keliling dari rumah ke rumah godain cewek-cewek di sorrority dan asrama putri di kampus kami. Senang kalau melihat mereka menjerit-jerit tapi kemudian peluk kami. Maunya sih berlama-lama tapi mereka lalu menampar kami. Itukah the real valentine’s dari cewek America?

 

Copyright©2017StoryLighthouse.com. All Rights Reserved.

Foto-foto untuk tulisan ini diambil dari OSU websites dan google images.

Ohio State University

https://www.osu.edu/

 

PERMIAS Ohio State University

http://permias.org.ohio-state.edu/Home/Home.html

 

Tuition/Beaya Kuliah

http://www.collegedata.com/cs/data/college/college_pg03_tmpl.jhtml?schoolId=1807

 

OSU Best University

http://www.universityprimetime.com/10-reasons-ohio-state-is-the-best-college-in-the-world/

 

Advertisements

3 thoughts on “Saya Akan Gagal Kalau Begini

  1. Terima kasih atas sumbangan tulisannya mas Pat Madyana. Saya ikut senang dan bangga dengan perjuangan anda menyelesaikan studi di OSU. Kalau ada cerita lain yang inspirational kami undang untuk berbagi lewat blog ini. Matur nuwun.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s