Kenangan Adalah Inspirasi

Ditulis oleh Yohanes Berchmans Rosaryanto, OSC

Bagi saya, mengenang masa kecil selalu membangkitkan banyak gairah baru untuk menjalani hidup masa kini. Saya tidak ingat secara pasti sejak usia berapa tahun saya sudah mampu mengingat dengan baik kisah-kisah hidup saya. Yang masih tercatat baik dalam benak saya hanyalah pengalaman-pengalaman yang mengesankan. Ketika mulai menulis inipun peristiwa-peristiwa itu sudah terbayang.

Kenangan Pertama: Sepeda

Ada beberapa kisah yang berkaitan dengan sepeda. Ketika usia saya menginjak lima tahun, orang tua kami menempati rumah baru. Posisinya persis di tepi jalan desa yang kecil namun cukup ramai. Rumah itu memiliki halaman yang lumayan luas. Dari pelataran menuju rumah, saya harus menaiki undhak-undhakan yang terbuat dari batu bata. Sebelum memasuki pintu utama, saya melewati beranda yang nyaman dengan kursi-kursi besarnya. Saya suka duduk-duduk di salah satu kursi besar itu sambil memandang orang-orang berlalu-lalang di jalan, khususnya mereka yang bersepeda. Saya belum bisa mengendarai sepeda waktu itu. Bagai di atas panggung, saya menikmati pemandangan itu hampir setiap hari, tepatnya ketika sore menjelang senja, ketika orang-orang pulang dari kerja.

Salah satu hal yang menarik ialah ketika sebuah sepeda dikendarai oleh dua atau bahkan tiga orang bersamaan. Saya kagum dengan kelincahan mereka, terutama anak-anak yang lebih tua dari saya yang sudah mahir bersepeda. Anehnya, perhatian saya tidak tertuju pada pengemudi sepeda tetapi pada ulah orang-orang yang memboncengnya. Bagi saya waktu itu, mengendarai sepeda itu hal yang wajar. Yang tidak biasa ialah ketika seseorang meloncat dari boncengan di belakang sepeda dan langsung berjalan seperti biasa. Kok tidak jatuh ya? Saya gembira sekali melihatnya. Kadang-kadang  saya merasa lucu dan terkekeh sendiri. Saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya harus bisa meloncat seperti itu.

Kesempatan itu datang. Suatu hari saya dibonceng oleh ayah saya  dengan sepeda menuju ke sebuah toko kelontong. Sepulangnya, sekitar 100 meter sebelum mencapai gerbang rumah kami, saya meloncat ke arah belakang dari boncengan, bergaya seperti orang dewasa. Namun apa daya, saya jatuh tertelungkup karena kaki-kaki kecil saya tidak mampu menyeimbangkan badan saya dengan kecepatan laju sepeda. Ayah saya kaget dan segera berhenti. Beliau melempar sepedanya dan berlari menolong saya sembari bertanya, “Kamu ngantuk?” Saya diam saja, tidak berani menjawab. Saya terharu oleh reaksi ayah saya yang segera menolong saya sehingga saya kehilangan kata-kata. Sampai kini saya kira beliau masih mengira bahwa saya terjatuh karena mengantuk di boncengan sepedanya.

Menjelang kelas 4 SD, kira-kira usia 10 tahun, saya mulai bisa mengendarai sepeda sendiri. Saya belajar berkendara dengan menggunakan sepeda bapak, sepeda laki-laki dengan palang melintang pada kerangkanya. Meskipun bagi saya pada waktu itu sepeda tersebut masih terlalu tinggi, namun saya senang diijinkan menggunakannya untuk belajar. Betapa sulitnya menjaga keseimbangan dan mengayuh sepeda secara bersamaan. Adik-adik saya selalu bersorak-sorai ketika saya berhasil mencapai jarak yang lebih jauh. Berkali-kali saya jatuh. Kaki dan tangan saya mengalami lecet-lecet di banyak tempat. Bahkan, pernah suatu kali saya menyerempet pagar tembok dan muka saya mengalami banyak goresan. Namun, saya mencobanya lagi dan lagi sampai akhirnya saya bisa mengendarai dengan mantap.

Karena keberhasilan saya, orang tua saya membelikan saya sepeda baru. Pada jaman itu orang menyebutnya sepeda mini karena ukurannya yang kecil. Saya sering bergaya di depan adik-adik dan teman-teman saya. Mereka berlari-lari mengiringi saya.  Kadang-kadang saya juga mengajari mereka bagaimana bersepeda dengan sepeda mini itu. Setiap hari sepulang sekolah, tak pernah saya menyia-nyiakan waktu kosong saya. Bersepeda menjadi acara harian.

Perasaan bangga dan percaya diri bahwa saya bisa bersepeda semakin tebal menyelimuti saya. Saya suka pamer di depan teman-teman sepermainan. Ada satu peristiwa yang mengesankan pada waktu itu sehingga saya tidak lupa sampai kini. Bersama dengan beberapa teman saya bersepeda mengelilingi kampung. Saya bersepeda semakin kencang. Dan sambil melepaskan salah satu tangan saya, saya menunjukkan arah kepada teman-teman saya. Belum sempat saya berucap, kemudi sepeda saya meliuk dan keseimbangan saya hilang. Braaaakkk… Saya terjatuh dengan keras. Saya terduduk lemas di tepi jalan. Teman-teman saya menolong dan memeriksa luka-luka saya. Dalam ketidak-berdayaan, saya berpikir, “Betapa sombongnya saya. Baru juga bisa naik sepeda, sudah bergaya ‘lepas stang’ dan akhirnya jatuh dengan keras” Sejak itu saya tidak pernah melepaskan tangan saya dari kemudi sepeda ketika berkendara.  Lama setelah peristiwa itu, tiba-tiba saja saya menyadari bahwa saya bisa mengendarai sepeda dengan satu tangan dan bahkan tanpa tangan sekalipun. Saya heran sendiri. Ternyata ketika semakin mahir seseorang akan satu hal, kemahiran yang lain akan menyertai.

Bersepeda menjadi kesukaan saya. Ketika saya diterima di SMP Pangudiluhur I, Klaten, orang tua saya membelikan sepeda baru. Sepeda yang lama dipakai oleh adik-adik saya. Hahaha.. untungnya menjadi anak pertama, selalu mendapatkan yang baru. Sejak itu saya pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda. Banyak teman yang melakukan hal yang sama. Setiap pagi dan siang jalanan ramai penuh dengan anak-anak sekolah (SMP dan SMA) bersepeda. Saya juga memiliki teman-teman baru gara-gara bersepeda ke sekolah.

Masa itu juga menjadi masa saya mengenal kecantikan wanita. Ketika saya akan menilai apakah wanita itu cantik atau tidak, pertama-tama yang saya lihat adalah kakinya, terutama ketika mengayuh sepeda. Lucu juga mengenang masa itu. Setelah melihat kaki barulah saya menilai wajahnya. Wajah rupawan tidaklah cantik kalau kakinya tidak bagus hahaha… Salah satu akibat bersepeda ke sekolah!

Pada liburan sekolah antara kelas dua dan kelas tiga SMP, tahun 1983, bersama dengan dua orang teman saya memutuskan untuk bersepeda lintas kota. Orang tua saya memberi ijin begitu saja tanpa banyak bertanya. Saya juga heran. Itulah anugerah. Kami berangkat dari Klaten menuju Sukoharjo melalui Cawas, kemudian berlanjut terus sampai Karanganyar-Solo.  Perjalanan kami tempuh selama dua hari satu malam. Kami harus bermalam di tengah perjalanan. Namun kami sudah siap dengan tenda dan alat-alat masak yang biasa kami pakai juga ketika kami mengikuti acara perkemahan Pramuka. Kami bahkan membawa perlengkapan sederhana untuk membengkel sepeda, berikut alat-alat untuk menambal ban bila terjadi kebocoran.

Medan perjalanan ternyata cukup menantang. Menjelang sampai Karanganyar, jalan naik turun. Ketika jalan menanjak, kami harus menuntun sepeda. Ketika jalanan menurun, sepeda kami naiki. Entah bagaimana, kami tidak mengenal bahaya melakukannya. Rem sepeda kami habis karena aus. Kami  terpaksa membeli sandal cepit yang kemudian kami pakai untuk mengerem sepeda ketika menuruni bukit. Caranya ialah dengan menginjakkan sandal yang kami pakai pada ban belakang sepeda untuk mengurang kecepatan putaran roda dan memperlambat lajunya.  Dengan begitu perjalanan menuruni bukit tidak terlalu membahayakan. Sepuluh hari kemudian, hal yang sama kami lakukan ketika kami kembali ke Klaten, kota kelahiran kami. Setiap dari kami menghabiskan dua pasang sandal.

Kami menitipkan sepeda di Karanganyar lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Gunung Lawu, perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Melintasi puncaknya, kami menyusuri jalan menuju Sarangan, di mana kami temukan kawah gunung yang sudah menjadi sebuah telaga. Perjalanan memakan waktu sehari penuh. Kami berkemah di sana beberapa hari dan menikmati sate kelinci.

Perjalanan kami menggunakan sepeda sungguh menggembirakan. Banyak orang baik di sepanjang perjalanan kami. Mereka memberi tumpangan, makan dan minum. Kami juga sempat berbuat baik. Di sebuah jalan di antara sawah-sawah membentang, kami melewati dengan seorang ibu yang mengendong anak kecil menuntun sepedanya. Tiba-tiba kami mempunyai ide untuk kembali dan bertanya, mengapa sepedanya dituntun. Ternyata ban sepedanya bocor. Kami bertiga lalu sepakat untuk menambal ban sepeda ibu itu. Dalam waktu tiga puluh menit kami berhasil membereskan ban sepedanya. Ibu itu sangat berterimakasih karena dia tidak perlu berjalan lebih jauh lagi di bawah teriknya matahari untuk sampai ke bengkel sepeda. Kami juga merasa bersyukur karena akhirnya peralatan perbengkelan kami terpakai dan terutama karena bisa membuat seseorang bersukacita.

Kenangan akan sepeda memberi banyak cerita. Mungkin hanya tiga kisah itu saja yang sungguh-sungguh bermakna. Sepeda masa SMP itu masih ada sampai sekarang dan masih dipakai oleh bapak saya. Mungkin sekarang beliau tidak memakainya lagi sejak operasi hernia dua bulan yang lalu.

 

Yohanes Berchmans Rosaryanto, OSC berasal dari Klaten, Jawa Tengah, sekarang berkarya di Roma, Italia.

 

Copyrights©2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

 

Foto-foto untuk cerita ini diunggah dari Google Images – sepeda onthel, sepeda mini, sarangan

Advertisements

One thought on “Kenangan Adalah Inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s