Kamu Itu Ngomong Apa?

Ditulis oleh Api Sulistyo

Unggah-ungguh

“Kalau dengan orang tua ya harus pakai kata “caos” supaya sopan,” begitu simbok saya yang sangat nJawani, mengajari berbahasa Jawa dengan unggah-ungguh yang benar.

Waktu itu saya masih duduk di bangku SD dan belum mengenal bahasa lain selain bahasa Jawa. Saya diminta untuk mengembalikan sesuatu ke ketangga kami. Dalam percakapan dengan tetangga saya, yang kebetulan adalah bulik saya, saya memakai kata “paring”. Seperti kita tahu kata “caos” berarti memberi sesuatu untuk orang yang lebih tua atau posisinya lebih tinggi. Sedangkan kata “paring” adalah sebaliknya. Jadi untuk percakapan waktu itu, kata ‘caos’ lebih tepat dan memberi rasa hormat.

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa di daerah Klaten, Jawa Tengah dan kami sangat kental dengan budaya Jawa walaupun di sekolah saya tidak selalu mendapat nilai 10 dalam pelajaran bahasa Jawa. Selalu ada teman sekelas yang lebih pinter dari saya. Peristiwa di atas hanyalah salah satu kejadian kecil dari proses panjang dalam belajar berbahasa Jawa dengan benar. Arti kata memang penting, tetapi tak kalah pentingnya adalah penggunaan kata yang tepat sehingga saya bisa memberikan rasa hormat seperlunya kepada orang lain. Kalau tidak, kita akan mendapat sebutan ‘njangkar’ yang bisa diartikan mendudukan lawan bicara kita pada posisi yang lebih rendah atau kurang tepat. Tingkatkan dalam bahasa Jawa: Ngoko, Kromo, dan Kromo Inggil, diterapkan untuk membantu pembicara dalam ber’unggah-ungguh’ ini sehingga komunikasi bisa lancar and rasa hormat tetap terjaga.

Di kelas 3 SD saya mulai belajar bahasa Indonesia. “Wis iso coro mlayu le?” kakek saya beberapa kali bertanya tentang kemampuan saya berbahasa Indonesia atau Melayu. “Sudah bisa bicara Melayu nak?” Saya rasakan bahasa Indonesia tidak memiliki ungguh-ungguh yang ketat seperti bahasa Jawa. Kata yang sama bisa dipakai dalam berbagai situasi tanpa mengurangi maknanya. Belakangan saya menemukan bahwa bahasa Inggris mempunyai unggah-ungguh yang lebih longgar lagi walaupun sopan santun tetep ada di setiap bahasa.

Ketika saya bersama orangtua di Jawa, tentu saja sangat pas kalau kami memakai bahasa Jawa kromo atau paling tidak campuran antara Kromo and Ngoko. Saya mengamati banyak orang yang sangat pinter atau ‘wasis’ dalam menggunakan campuran tingkatan bahasa ini bahkan ditambah dengan kata-kata bahasa Indonesia. Lalu bahasa apa yang sebaiknya kita pakai kalau tidak semua orang memahami bahasa kita? Saya masih merasa aneh atau ‘kaku’ kalau harus berbahasa Indonesia dengan orangtua saya karena memang sejak dulu terbiasa dengan bahasa Jawa dengan semua unggah-ungguhnya. Apa nggak njangkar kalau pakai bahasa Indonesia dengan orangtua?

Bahasa Asing

“Kamu berbicara bahasa apa?” hardik seorang tamu yang tidak begitu kami kenal kepada kami.

“Sebaiknya kamu berbahasa Inggris, sehingga kami mengerti yang kamu bicarakan” begitu lanjutnya sambil mendekati kami dari belakang. Saya kira dia mencoba melucu dengan kami, tetapi kok wajahnya kelihatan serius seakan kami mengganggu dan berlaku tidak sopan kepadanya. Kami tidak bisa menjelaskan apa yang ada di benak kami dan dengan rasa ‘terpaksa’ kami mulai bercakap dalam bahasa Inggris.

Peristiwa ini terjadi di awal tahun 90an pada musim panas di Minnesota, Amerika Serikat. Waktu itu saya dan sepupu saya, Adimassana, sedang berada di belakang rumah sebuah keluarga yang terletak di pinggir danau. Kami diundang ke rumah itu untuk menikmati pemandangan yang indah dan bertemu dengan anggota keluarga dari pihak istri saya. Mas Adi dan saya sedang asyik berbicara tentang mancing ikan sambil mengenang kegiatan kami waktu masih kecil cari ikan di sungai di belakang desa kami di Klaten. Kami memakai bahasa campuran antara Indonesia and Jawa. Begitu mendapat teguran itu, kami berdua hanya saling memandang dan tak bisa menjelaskan mengapa kami tidak berbahasa Inggris saat itu. Sejak kecil kami berbahasa Jawa atau campuran dengan bahasa Indonesia. Tapi sekarang situasinya lain karena kami berada di masyarakat yang tidak mengerti bahasa Jawa. Mengapa ya kok tetap ada kecenderungan untuk memakai bahasa asli atau bahasa-ibu kami?

Alasan yang pertama dan yang paling penting adalah hilangnya unggah-ungguh di antara kami terutama bagi saya karena Adimassana adalah ‘kakak’ saya, anak dari Pakdhe saya. Jadi ‘abu’nya lebih tua dari saya. Sangatlah tidak enak memanggil dia dengan sebutan “You” karena dengan kata itu berarti kami ada pada posisi yang sama. Dan tentu saja saya tidak bisa melepaskan kebiasaan memanggil dia “Mas Adi” yang mana sangat biasa dalam bahasa Inggris untuk memanggil seseorang dengan nama pertamanya. Malah hal itu menunjukkan suatu tingkat keakraban tertentu. Dengan mendudukan dia di posisi yang sama dengan saya berarti saya telah ‘njangkar’ dan merusak unggah-ungguh.

Dalam percakapan itu ada beberapa kata atau ungkapan yang memang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa Inggris kerena tidak ada kata sepadannya atau kalau ada, maknanya akan berubah. Waktu kecil kami sering ‘gawe rumpon’ (membuat rumah ikan) di pinggiran sungai kecil. Setelah beberapa hari ‘rumpon’ ini akan kami bongkar dengan harapan ada keluarga ikan di sana dan kami bawa pulang untuk dimasak. Kami tidak menemukan ungkapan ‘gawe rumpon’ dalam bahasa Inggris karena kegiatan ini menjadi bagian dari kebiasaan kami. Sejauh saya tahu orang Amerika tidak “gawe rumpon”. Kami juga tidak bisa meng-Inggris-kan kata-kata ini: wader, kutuk, nyuluh, blencong, kepis, dst. Inilah alasan kedua mengapa kami tidak berbahasa Inggris waktu itu.

Alasan ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah alasan praktis dalam berbahasa. Kami tahu kata-katanya dalam bahasa Inggris tetapi kata-kata dalam bahasa Indonesia atau Jawa memberikan rasa bahasa yang lebih tepat, seperti: walesan (fishing rod), umpan (bait), cacing (night crawlers atau worms). Ini hanyalah beberapa contoh kata-kata yang kurang praktis kalau harus diungkapkan dalam bahasa Inggris. Karenanya kami tetap berbahasa Indonesia atau Jawa. Itulah yang ada di dalam benak saya waktu kami asyik ngobrol dengan Mas Adi. Yang jelas kami tidak berbahasa Inggris bukan karena kami sombong dan tak menghormati dan tak mau berbaur dengan orang lain. Kami tidak bermaksud untuk menjadi eksklusip apalagi untuk menjaga kemurnian bahasa atau budaya kami.

Ada banyak yang hilang waktu kami berbicara dalam bahasa Inggris entah bergesernya arti lugas (denotative) kata-kata maupun arti budaya (connotative) ungkapan kita. Makanya bisa dimengerti kalau kita menjadi criwis dan crigis waktu bertemu dengan teman-teman dari Indonesia di negara lain karena kami merasa menemukan kembali nilai-nilai yang hilang waktu kita tidak memakai bahasa asli kita sendiri.

Gejala bahasa ini kiranya berlaku umum. Orang asing yang bahasa aslinya adalah bahasa Inggris, waktu berada di Indonesia akan merasa sungkan untuk berbahasa Indonesia karena akan kehilangan nilai-nilai bahasanya juga. Mereka akan cenderung berbahasa Inggris dan tidak berarti mereka sombong dan tidak mau berbahasa Indonesia. Tetapi apapun alasannya mengapa kita memakai bahasa tertentu, kita diharapkan untuk memakai bahasa yang mewakili sedapat mungkin semua peserta sehingga semua marasa disapa dan diikut-sertakan. Matur nuwun, terima kasih, thank you….

Copyright©2017StoryLighthouse.com. All Rights Reserved.

 

Api Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/api-sulistyo-4700865/

 

Catatan: Foto-foto untuk tulisan ini diunggah dari Google Images.

Advertisements

5 thoughts on “Kamu Itu Ngomong Apa?

  1. Menarik sekali mas tulisannya, sebagai orang yang memiliki kemampuan berbicara beberapa bahasa, kita mengalami hal hal seperti ini , sering alih terasi memiliki keterbatasan menerjemahkan sesuatu dalam bahasayang berbeda

    Liked by 1 person

    • Terima kasih atas tanggapannya. Silahkan datang kembali untuk membaca cerita-cerita kami lainnya. Kami juga mengundang anda untuk berbagi cerita di blog kami ini. Salam.

      Like

  2. Membaca Tulisan ini dalam anganku terbayang waktu kecil dulu,”Gawe Rumpon”.adalah kebenaran bahasa Ibu selalu di hati..,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s