Jangan Bergaul Dengan Kaum “Gypsies” Dari Rumania

Ditulis Oleh: Tami Sulistyo

Diterjemahkan oleh: Api Sulistyo

Saya tidak pernah ingin belajar Bahasa Jerman. Tetapi saya itu 50% keturuanan Jerman, jadi seakan ada suatu keharusan. Setelah belajar Bahasa Perancis yang kedengaran bagaikan alunan musik, saya punya anggapan bahwa Bahasa Jerman itu kasar dan serak, sangat tidak menarik. Tentu saja begitu saya mempelajarinya waktu saya kelas dua SMA, saya langsung mencintainya, karena setiap bahasa memiliki keindahannya masing-masing.

Pada musim panas berikutnya anggota keluarga yang tinggal di kota Bremen dan Neustadt, Jerman mengundang saya untuk datang dari Minnesota, Amerika dan tinggal bersama mereka. Saya belum pernah ketemu dengan mereka. Saya langsung terima undangan itu. Di suatu sore ketika sedang duduk-duduk di kursi di kebun belakang sambil barbeque, saya ingat secara tiba-tiba saya merasa saya menjadi bagian tak terpisahkan dengan nenek moyang saya yang datang dari tempat itu Saya berasal dari negara Jerman ini. Saya tidak pernah merasakannya lagi perasaan itu di Minnesota di mana saya tumbuh dan dibesarkan. Saya rasakan ikatan yang sangat kuat antara saya dan tempat itu. Hampir seperti Scarlet O’Hara ketika dia merasakan cikal bakalnya pada pekarangan keluarga yang bernama Tara.

Sangat menggariahkan waktu paman saya menawari saya minum bir dengan dia sambil makan sausage, keju, dan roti untuk makan pagi. Waktu itu saya berumur 17 tahun dan batasan umur untuk boleh minum alkohol waktu itu adalah 19 tahun. Di Jerman hal ini merupakan kejadian yang lumrah. Saya merasa seperti orang dewasa. Paman saya adalah pensiunan pimpinan akademi pelatihan polisi dan bersedia untuk bercerita tentang pengalamannya.

Dalam percakapan itu dia bertanya kalau saya punya pacar di Amerika. Saya jawab tidak punya tetapi saya ceritakan tentang seorang cowok pacar saya dua tahun sebelumnya yang saya yakini bahwa suatu hari kami akan menikah. Saat saya bicara, paman saya mendengarkan dengan seksama dan waktu tahu bahwa cowok itu berasal dari keluarga yang kaya raya, dia menatap saya dengan tajam dan melarang saya untuk menikahi cowok itu karena akan ada banyak masalah dan sarat dengan tantangan. Sangat tidak bijaksana menikah dengan orang dari kelas sosial ekonomi yang berbeda. Saya sangat kaget bahwa ada orang yang berbicara seperti itu.

Pada kesempatan lain paman saya mengamati saya dengan teliti dan tiba-tiba mengatakan bahwa saya secara phisik cocok sekali dengan ciri-ciri cewek Jerman yang ideal pada masanya Hitler. Tentu saja saya lebih terperanjat lagi oleh sebutan itu. Saya sama sekali tidak tahu bagaimana saya harus menanggapinya, saya hanya duduk saja dan diam seribu bahasa.

Saya suka jogging, menikmati rasa lepas dan mandiri jalan-jalan mengamati daerah di sekitar tempat tinggalku. Suatu hari ketika saya sedang lari-lari, saya melewati sebuah taman. Setelah saya amati lebih seksama, saya lihat kaum gypsies, banyak jumlahnya. Mereka tinggal di tenda-tenda. Mereka sedang masak-masak, ngobrol, kerja, ngawasi anak-anak. Mereka tak keberatan saya mengamati mereka. Saya sangat terkesima.

Gypsies

Saya ingat ibu saya pernah membuat baju kotak-kotak merah mutih yang saya pakai dengan rambut saya terikat kain bandana ke belakang, membayangkan dan berangan-angan bahwa saya adalah gypsy beneran. Itu adalah dandanan Halloween yang bisa saya pakai sepanjang tahun untuk main-main seakan saya memang gypsy. Makanya saya heran sekali bahwa saya beruntung, melihat langsung masyarakat gypsy beneran yang sedang melakukan kehidupan harian mereka.

Dengan agak sembunyi-sembunyi dari mereka, pandanganku terpaku pada mereka cukup lama. Saya mencoba membayangkan seandainya saya hidup dan jalan-jalan dengan mereka. Tentu saja mereka sama seperti masyarakat di tempat lain, memiliki senyum dan kebatikan hati, kekhawatiran dan suka-cita, masa-masa sulit dan pengharapan. Saya senang bisa mendapatkan secercah pengertian tentang hidup mereka walau sebentar. Kemudian saya cerita pengalaman ini dengan paman saya yang dengan amat keras melarang saya untuk tidak mendekati mereka lagi. Dia mengatakan bahwa kaum Gypsy dari Rumania itu berbondong-bondong datang ke Jerman dan menjadi masalah bagi masyarakat setempat dan dia tidak memperbolehkan saya bergaul dengan mereka. Dia khawatir bahwa mereka akan berbuat jahat kepada saya. Sekali lagi saya sangat kaget bahwa ada orang yang berucap begitu dan membuat saya diam tanpa kata-kata. Saya malu bahwa ada orang yang saya kenal, bahkan masih saudara saya, yang mengatakan hal yang buruk seperti itu. Sayang sekali saya tidak mampu membantah waktu itu, namun saat itu saya masih muda dan belum bisa menangani ketegangan di antara kami.

Tentu saja saya masih lari-lari melewati taman itu untuk bisa melihat kaum gypsy dari kejauhan dan masih masih membayakan menjadi bagian dari mereka. Tetapi saya tidak bicara apa-apa lagi tentang hal itu. Saya merasa sehat dan bugar musim panas itu. Selama tiga bulan saya menikmati kesempatan menjelajahi Jerman dan bersyukur terlah diberi kesempatan. Saya tidak memihak dengan pandangan paman saya, tidak pernah pura-pura setuju dengannya, dan tidak pernah terlibat debat dengan dia. Dia tidak mengubah saya dan saya tidak pula mengubahnya. Saya menerima anggota keluarga apa adanya dan mereka melakukan yang sama kepada saya. Mereka adalah tuan rumah yang baik dan murah hati. Kesan mendalam bagi saya dari musim panas itu adalah mata saya terbuka lebar untuk selamanya, terbuka akan kenyataan bahwa dalam masalah cara pandang kita akan hal-hal seperti tingkatan sosial masyarakat dan kesukuan, kita semua dipengaruhi oleh tempat, waktu, dan dengan siapa kita dibesarkan.

Tami’s LinkedIn profile

https://www.linkedin.com/in/tamisulistyo/

Copyright©2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

Catatan: Foto-foto diambil dari Google Images

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s