Kumis Pemikat Cewek Bule

Ditulis oleh Api Sulistyo

Masa remaja menyimpan banyak kenangan, baik yang manis maupun yang sebaiknya dilupakan. Tetapi kenangan yang berhubungan dengan lawan jenis biasanya menarik untuk diceritakan. Sebagai remaja cowok waktu itu, saya ingin dekat dan diterima oleh cewekyang saya sukai. “Ada rasa” istilah dulunya.

Saya dibesarkan di lingkungan desa Jawa di daerah Klaten, Jawa Tengah. Saya belajar untuk menjadi pria idaman lewat orang-orang di desa kami. Saya belajar untuk menjadi petani yang bisa mengelola sawah dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, dan persiapan tahap berikutnya. Tentu saja saya juga ingin menjadi murid yang berhasil di sekolah. Tetapi, ada dua kriteria khusus yang saya pelajari dari para lelaki desa kami. Katanya, pria yang jantan itu harus bisa merokok dan berkumis tebal. Jadi singkatnya ingin seperti Raden Gatot Kaca, satria Pringgondani yang punya sayap dan bisa terbang. Kalau mau lebih keren, anak-anak muda ingin seperti The Marlboro Man.

Saya belajar merokok waktu masih di SMP dengan teman-teman sebaya. Kami merokok kulit jagung (klobot) kering tanpa tembakau. Tentu saja diikuti dengan batuk-batuk sampai muka merah dan ditertawakan oleh anak-anak lain. Akhirnya saya mulai terbiasa dan mulai membeli rokok halus (dengan filter) waktu di bangku SMA. Setelah bertahun merokok dan mencoba berhenti, akhirnya kebiasaan merokok ini saya akhiri lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kebiasan yang tidak baik untuk kesehatan ini telah kuubah menjadi kebiasaan lari jarak jauh sampai sekarang ini.

Sudah dari sononya, saya tidak punya banyak rambut. Jadi kumisku juga tidak tebal. Kadang merasa malu dan kurang percaya diri. Sering kalah bersaing dengan cowok lain dalam memikat cewek. Tema-teman di desa kami mengatakan bahwa kumis kita bisa tubuh subur kalau sering diolesi cairan dari kemiri yang dibakar. Saya tentu saja tertarik untuk mencobanya. Saya ambil sebutir kemiri dari tempat bumbu di dapur terus saya bakar di lampu minyak. Listrik belum masuk di desa kami pada awal tahun 80an. Saya sengaja melakukannya pada malam hari supaya tidak dilihat orang. Dan saya punya keyakinan tinggi bahwa usaha itu akan berhasil. Tetapi, akhirnya habis juga kesabaran saya dan kumis saya juga tetap tidak seperti pria idaman yang kubayangkan. Mau tidak mau saya tetap memelihara kumis saya apa adanya.

Subway di New York

Setelah mengikuti program pertukaran di Kanada, saya sempat berkunjung ke kota New York di Amerika Serikat. Saya menginap di rumah beberapa kenalan dan saya telah dinasihati supaya berhati-hati. “Sedapat mungkin jangan berada di subway (kereta bawah tanah) setelah jam 12 malam, demi keselamatan” nasihat dari seorang teman. Tapi, apa boleh buat, justru itu lah yang terjadi. Dalam pernjalanan menuju ke rumah teman, saya berada di subway hampir jam satu pagi. Sambil menggendong backpack saya menelusuri lorong-lorong subway sendirian. Saya lihat beberapa polisi berseragam biru. Mereka memberi saya rasa aman. Ada cukup banyak juga orang yang kelihatannya memang tinggal di subway itu. Mereka berdiri di beberapa tempat. “Hola Senor…..,” begitu yang kudengar ketika saya lewat di depan mereka. Kata-kata yang lain saya tidak mengerti. Setelah beberapa kali terjadi, saya mulai menjawab, “Oh ya aku ra mudheng.” (Oh ya, saya tidak mengerti). Mereka pun melihat saya keheranan karena saya tidak berbahasa Spanyol.

Hari berikutnya saya cerita dengan teman saya tentang kejadian di subway itu. Teman saya mengatakan bahwa mereka menyapa saya dengan bahasa Spanyol karena mengira saya dari Mexico. Saya jadi penasaran oleh jawaban itu. “Apa yang membuat saya kelihatan seperti orang Mexico?” Teman saya bilang pertama karena warnakulit saya dan yang kedua karena kumis saya. Wah, saya tidak percaya, tetapi mungkin ada benarnya. Saya mulai berpikir mungkin sebaiknya saya cukur saja kumis saya supaya tidak dikira orang Mexico dan karena saya tidak bisa bahasa Spanyol.

Beberapa tahun kemudian saya belajar di Arizona State University bidang studi Intercultural Communication (Komunikasi Antar Budaya). Arizona berbatasan dengan Mexico dan banyak orang di Arizona berbahasa Spanyol. Peristiwa di Subway New York sering terjadi di Arizona. Orang sering menyapa saya dalam bahasa Spanyol. Sebetulnya saya sangat tertarik untuk belajar bahasa Spanyol dan saya mulai bisa mengerti sebagian dari percakapan yang saya dengar. Tetapi mereka sering terkejut bahwa saya yang kelihatan seperti orang Mexico ini ternyata tidak bisa berbahasa Spanyol. Mungkin kalau saya cukur kumis saya, mereka tidak akan mengira saya orang Mexico. Setelah kupikirkan beberapa hari, akhirnya saya putuskan untuk mencukur kumis saya. Pudar sudah impian saya untuk menjadi seperti Raden Gatot Kaca atau The Marlboro Man. Sampai hari ini saya tidak berkumis lagi.

Pacar saya waktu itu – sekarang dia jadi istri saya – sering bercanda bahwa dia tertarik dengan saya karena kumis saya. Tetapi dia berkomentar bahwa kumis saya itu agak mencurigakan. Saya tidak tahu apa alasannya. Berhubung kemampuan bahasa Indonesianya waktu itu belumlancar, dia mengatakan, “mencurigalakan”.

Saya tidak perlu memelihara kumis lagi yang bisa menimbulkan kecurigaan. Tidak perlu repot-repot membakar kemiri di malam hari. Kumis saya cukur hampir tiap hari dan saya masih senang mempraktekan kemampuan terbatas saya dalam berbahasa Spanyol.

Copyright©2017StoryLighthouse.com. All Rights Reserved.

 

Api Sulistyo’s LinkedIn profile:

https://www.linkedin.com/in/api-sulistyo-4700865/

Catatan: Foto-foto untuk tulisan ini diunggah dari Google Images.

Gatot Kaca

https://www.google.com/search?q=mustache+styles&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj78cTukYXUAhWM5oMKHVbZA6cQ_AUICigB&biw=1366&bih=613#tbm=isch&q=gatot+kaca&imgrc=lkf6p-kSNLywTM:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s