Mengalami Amerika (5): Pow Wow, Tarian Sakral Yang Menggoncang Bumi Lakota

Oleh: Api Sulistyo

Saya ingin melanjutkan cerita saya, hasil dari kunjungan kami ke South Dakota hampir dua minggu yang lalu. Seperti yang sudah saya sampaikan, saya dan istri saya tinggal di pastoran setempat. Pastor yang sudah saya kenal adalah Romo Vincent Suparman Scj. Pada hari sabtu pagi tanggal 12 Agustus kami diperkenalkan dengan dua pastor lain yang tinggal di pastoran. Yang pertama adalah pastor Joe yang asli Michigan dan sebetulnya sudah pensiun. Dia meluangkan waktunya dengan banyak membaca dan memang dia seorang pastor yang cerdas. Yang kedua adalah pastor Hendrik Christianus yang ternyata berasal dari Palembang, Sum-Sel. Seorang pribadi yang ramah, lembut tutur katanya, dan sangat trampil. Dia menikmati dunia pertukangan kayu, memasak, dan bermain guitar. Beliau ini yang mempersiapkan makan siang kami; pizza dengan bahan tambahan sehingga menjadi istimewa. Terima kasih Romo Hendrik.

Wacipi

Jarak arena powwow dari pastoran sebetulnya hanya sekitar satu kilometer. Romo Vincent mengantar kami ke sana dengan naik mobil kami. Begitu saya parkir dan membuka pintu mobil, saya langsung mendengar suara drum dan lengkingan tinggi lantunan orang Indian. Jantung saya mulai berdegup lebih kencang. Langkah kami menuju area powwow menjadi semakin cepat pula. Tak sabar lagi menikmati tarian sakral ini secara langsung.

Penari pertama yang kulihat adalah seorang anak remaja dengan dandanannya yang menawan. Kakinya bergerak ritmis. Badannya membukuk. Matanya menatap tajam ke tanah. Seakan dia berada di alam yang berbeda dari penari lainnya. Saya terpaksa terlentang di rerumputan untuk mengambil fotonya.

Lewat tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan kesan-kesan sebagai pengunjung tentang powwow. Dalam bahasa suku Indian Dakota, Lakota, dan Nakota, mereka memakai kata ‘wacipi’ untuk kata powwow yang artinya ‘tarian’. Acara tahunan ini terjadi di berbagai tempat sebagai pesta kebersamaan antara berbagai suku Indian. Mereka datang dari berbagai tempat di South Dakota. Dandanan mereka yang sangat indah dan memukai itu lebih tepat disebut ‘regalia’, bukan kostum dan perlu waktu tak kurang dari setahun untuk membuatnya. Bahan yang dipakai sering berupa hadiah dari orang atau suku lain sehingga regalia itu mempunyai arti khusus bagi mereka.

Berikut ini kesan-kesan yang saya dapatkan dari pengamatan langsung di arena berbentuk lingkaran dengan diameter antara 100 – 150 meter. Di bagian luar dipasang atap kayu untuk melindungi para penabuh drum yang bertugas secara begiliran. Saya pingin sekali untuk berfoto bersama mereka tetapi Romo Vincent mengatakan sebaiknya tidak usah. “Saat acara seperti ini mereka ada pada suasana sakral. Sebaiknya tidak menganggu mereka,” demikian penjelasannya. Dalam buku panduan dikatakan juga, “When attending, please remember to be respectful”. Sebagai pengunjung jangan lupa untuk selalu menghormati mereka.

Kesan Mendalam

Saya berdiri di bawah atap sambil menenteng kamera, menyaksikan para penari dari berbagai umur, wanita, pria, anak-anak. Menari mengikuti ritme drum mengelilingi tiang bendera di tengah lingkaran. Anak-anak belajar langsung dari orang-orang dewasa tentang gerak-gerik tarian serta meresapi makna ‘wacipi’ melewati indra mereka. Belajar dari yang mereka lihat. Mengerti dari yang mereka dengar. Menjiwai lewat yang mereka rasakan. Saya sangat terpesona.

Untuk anak-anak muda, pesta ini merupakan kesempatan untuk berkenalan dengan anak-anak muda dari suku lainnya. Mungkin cinta akan tumbuh di antara mereka. Para wanita muda mau kelihatan paling cantik dan indah. Yang cowok pingin tampak tampan dan perkasa. Dan bagi orang dewasa, powwow merupakan kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang mereka anut serta meneguhkan siapa jati diri mereka. Dari bendera Amerika yang dipasang di tengah arena, saya mendapat kesan bahwa mereka mau mengukuhkan keberadaan mereka sebagi bagian penting dari masyarakat umum yang lebih luas. Mereka punya sistem kepemimpinan dan tata nilai sendiri, tetapi masih menjadi bagian dari negara Amerika.

Romo Vincent yang sudah enam tahun melayani mereka memberikan cukup banyak penjelasan kepada kami. Sering saya amati beliau ini bercengkerama akrab dengan penduduk asli yang kebetulan juga menjadi anggota gerejanya.

Brosur yang dikeluarkan oleh dinas pariwisata setempat mengatakan bahwa ‘wacipi’ juga menjadi  ajang kompetisi dari segi keindahan, motif, maupun jenis regalia.Pemenang tentu saja mendapatkan penghargaan.  Pada acara tarian antar suku pengunjung sebetulnya boleh ikut nari juga. Tapi saya tidak ikut karena merasa kurang pantas.

Di luar lingkaran arena ‘wacipi’ ada warung-warung yang penjual makanan dan cendera mata. Istri saya pingin sekali mencoba Fry Bread, makanan khas suku Indian. Sesuai namanya, makanan ini seperti roti digoreng dan rasanya gurih. Biasanya dimakan dengan daging atau sayuran di atasnya.

Kekaguman dan ketertarikan saya dengan suku Indian masih menyala. Kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan pengalaman yang saya dapatkan. Semoga foto-foto yang saya tampilkan di sini bisa berkata lebih banyak tentang tarian sakral tahuan yang mampu menggoncang jiwa dan rasa kita. Tahun depan saya ingin kembali ke tempat ini untuk mengurangi kehausan saya akan nilai-nilai suku Indian di Amerika khususnya suku Lakota.

Terima kasih kepada Romo Vincent Suparman Scj yang telah menjadi tuan rumah yang membuka pintu bagi kami. Sampai ketemu lagi di lain kesempatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s