Bersepeda Di Kota Almere, Belanda

Oleh: Nanang Sumaryadi

Juni tahun 2016 aku mendapatkan cuti 3 minggu. Terima kasih banyak kepada bapak dubes karena telah memberikan ijin cuti kepadaku untuk pulang sejenak bertemu dengan keluarga. Segala rencana sudah aku susun dengan rapi dan tinggal direalisasikan. Tanggal 9 Juni 2016 siang, aku sudah bersiap untuk berangkat ke bandara Zanderij. Dijemput oleh temanku yang berprofesi sebagai sopir taksi yang bernama Bapak Harold. Bapak Harold ini sangat fasih berbahasa jawa. Tidak hanya bahasa Jawa ngoko tetapi juga bahasa Jawa krama. Usut punya usut rupanya dia selalu menjadi langganan pembawa acara di setiap acara kebudayaan Jawa, dan peranannya di masjid sangat luar biasa. Selama perjalanan ke bandara, Pak Harold banyak cerita tentang keinginannya untuk berkunjung ke Indonesia, tempat leluhurnya. Keinginan itu tumbuh ketika waktu masih kecil, simbahnya sering bercerita tentang tanah kelahirannya yaitu tanah jawa. Selain itu, dia sering buka internet untuk memenuhi rasa ingin tahunya tentang Indonesia dan keindahannya. Dan ketika sampai di bandara, dia menyampaikan permintaan kepadaku sebuah  oleh-oleh buku dalam bahasa Jawa. Dengan senang hati aku katakan akan aku usahakan.

Setibanya di bandara Zanderij, aku masih harus menunggu kurang lebih 3 jam sebelum masuk pesawat. Biasalah urusan birokrasi imigrasi di bandara. Akhirnya setelah diumumkan melalui pengeras suara bahwa pesawat yang membawa aku ke Belanda sudah siap, penumpang beranjak dari kursi duduk menuju gate yang disediakan. Perjalanan terbang dari Suriname ke Belanda kurang lebih sekitar 8 jam. Berhubung pesawat terbang malam, aku bisa tidur nyenyak di dalam pesawat. Bangun sejenak karena dibangunkan oleh pramugari untuk ditawari makan dan minum. Setibanya di Bandara Schiphol, Amsterdam, planning pertamaku adalah keluar dari bandara Schiphol. Melihat secara lebih dekat bagaimana indahnya Belanda tanpa sekat jendela-jendela kaca bandara. Namun tiba-tiba perasaan deg-degan muncul. Hal itu disebabkan oleh sugesti cerita teman-teman yang pernah merasa dipersulit pihak imigrasi Belanda. Katanya super ketat-lah  bila ingin keluar Belanda dan lain-lain. Namun karena begitu besar keinginanku untuk melihat Belanda dari dekat dan juga karena sudah ada janji dengan teman untuk bertemu, maka kubulatkan tekad menghadapi “killer”-nya petugas imigrasi Belanda. Antrian di pintu imigrasi semakin pendek, hatiku semakin bergemuruh. perasaan takut tidak diijinkan keluar semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya giliranku. Ketika petugas imigrasi wanita menyapaku dengan senyum manisnya dan mengatakan good morning and how are you mister, langsung hilang sudah semua ketakutanku. Dengan semangat, aku jawab good morning madam and i’m fine because always happy disertai senyum yang paling manis sedunia pokoknya. Dia tertawa dan menanyakan tujuanku mau kemana. Aku jawab saja tujuanku ke Indonesia tetapi aku ingin keluar sebentar untuk bertemu temanku yang sudah menunggu diluar, sambil kutunjukkan tiket terusanku dari Belanda ke Indonesia. Sungguh puji Tuhan, pasporku langsung distempelnya dan diserahkan padaku sambil mengatakan: happy nice day and enjoy in Netherlands mister. Kubalas dengan kata Dank u wel mevrouw sambil ku masukkan paspor ke tas ranselku. Dia agak terperanggah dan aku membalasnya dengan senyum. Mungkin dia pikir aku tidak bisa berbahasa belanda, padahal senyatanya memang hanya kalimat itu yang paling aku hapal. Setelah berjalan keluar, aku diam sejenak untuk menata hati dan pikiran karena jujur ini sungguh mimpi yang menjadi kenyataan.

Langkah pertamaku setelah keluar dari ruang imigrasi adalah mencari wifi gratis karena aku perlu mengontak temanku yang bernama Mas Simon Latin. Maaf nama lengkapnya aku kurang tahu, tetapi itu nama berdasarkan akun facebooknya. Mas Simon Latin adalah orang Jawa Suriname yang sudah menetap di Belanda. Dia mempunyai istri bernama mbak Cholifah binti Sarban berwarga negara Indonesia, asli Ponorogo. Komunikasiku dengan keluarga mas Simon sebenarnya sudah terjalin lama, mungkin sebelum aku bertugas ke Suriname. Namun kita pernah jumpa darat di Suriname saat ada acara Charity Bazaar di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Setelah mendapatkan wifi, akhirnya aku dan Mas Simon Latin beserta Mbak Cholifah bertemu. Mereka berdua mengantarku minum kopi dulu di Starbuck dan foto-foto di sudut bandara. Bahkan Mas Simon Latin juga menerangkan padaku bahwa taksi-taksi yang parkir di bandara adalah taksi listrik. Sebenarnya ingin mencobanya tetapi setelah ditunjukkan harganya jadi agak mengkeret nyaliku. Berhubung waktu transitku kurang lebih hanya 8 jam, maka selekasnya Mas Simon Latin membelikan aku karcis tiket kereta api untuk membawaku ke rumahnya di kota Almere. Posisi stasiun kereta ada di lantai bawah tanah bandara. Jadi setelah membeli tiket kereta di loket, kita mencari tangga ke bawah tanah. Ada dua kereta yang ditawarkan kepadaku, mau naik kereta Sprinter atau Intercity. Aku memilih kereta intercity karena di dalam keretanya ada jaringan wifi. Dan bila dilihat rutenya, jalan menuju ke Almere lebih singkat waktunya daripada kereta Sprinter. Perjalanan naik kereta Intercity sungguh menyenangkan. Kereta berjalan tidak terlalu cepat, sehingga aku dapat menikmati perjalanan selama di dalam kereta. Setelah kereta berjalan kurang lebih satu jam, akhirnya aku tiba di kota tempat Mas Simon dan Mbak Cholibah tinggal, yaitu Almere.

Sekilas setibanya di stasiun Almere, suasana tenang, nyaman dan tidak bising sungguh sangat terasa. Selain itu, hawa sejuknya kota Almere akan selalu kuingat. Kereta Intercity berhenti di gedung bagian atas stasiun. Setelah turun dari kereta, kita turun melalui tangga untuk keluar stasiun Almere. Stasiun Almere keliatannya berada di sentral kota Almere, karena setelah keluar kita menjumpai banyak toko-toko perbelanjaan dan langsung berdampingan dengan stasiun bus. Yang menarik buatku adalah banyak sepeda yang diparkir di sekitaran stasiun, termasuk sepeda Mbak Cholifah dan sepeda motor mas Simon. Dalam benakku apa mereka tidak takut hilang ya, karena jelas aku tidak melihat ada tukang parkir disana. Setelah dari stasiun, aku dibonceng Mas Simon naik sepeda motornya menuju rumahnya, sedangkan Mbak Cholifah mengayuh sepedanya. Kembali kekagumanku muncul, rupanya jalan-jalan di Almere sudah diatur rapi sehingga menciptakan rasa nyaman bagi penggunanya. Jalur bus ada sendiri, jalur sepeda ada sendiri dan jalur mobil ada sendiri. Namun harus perlu diingat kita harus berjalan di sebelah kanan, berkebalikan dengan Indonesia yang selalu berjalan di sebelah kiri. Perjalanan dari stasiun ke rumah Mas Simon kurang lebih memakan waktu 10 menit.

Pengalaman menarik lagi ketika di rumah mas Simon adalah ketika aku diajak mbak Cholifah belanja di Supermarket. Rupanya kebanyakan orang Belanda sudah jarang menggunakan uang cash untuk membeli sesuatu. Kata mbak Cholifah semua dibayar pakai card dan tentu saja card tersebut sudah ada deposit uangnya. Aku membayangkan sungguh terasa mudah dan simple, kemana-mana hanya membawa card saja. Di Supermarket mbak Cholifah membeli bahan-bahan masak karena tadi belum sempat masak dan mencari bahan makanan  yang cepat saji karena aku jam 12.00 sudah harus meluncur kembali ke bandara untuk boarding penerbangan ke Indonesia. Setelah makan siang bersama dan sekiranya waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, Mas Simon dan Mbak Cholifah mengantarkan aku kembali ke bandara. Rencananya sama seperti waktu datang, aku dan mas Simon naik sepeda motor sedangkan mbak Cholifah naik sepedanya. Namun aku berubah pikiran. Biarlah mereka bermesraan naik sepeda motor dan aku sendiri juga merasakan nyamannya naik sepeda di Almere. Saking asiknya naik sepeda, aku sempat bergaya macam-macam sebagai ungkapan kegembiraanku. Namun kembali harus diingat. Berjalan di sebelah kanan karena ini bukan indonesia. Mbak Cholifah sempat teriak-teriak ketika aku berjalan disebelah kiri, untung saja jalanan sedang sepi sepeda sehingga tidak membahayakan pemakai jalan lainnya. Setiba di stasiun, sepeda motor dan sepeda langsung diparkir di tempatnya dan kita langsung naik ke lantai satu tempat kereta Intercity berada. Setibanya di bandara, aku langsung di antar ke bagian imigrasi dan kita berpisah sementara di pintu pemeriksaan imigrasi.

Penulis, Nanang Sumaryadi, adalah anggota staff Kedutaan Besar Republik Indonesia di Suriname.

Advertisements

One thought on “Bersepeda Di Kota Almere, Belanda

  1. Seperti apakah kota itu, dibandingkan dengan jakarta atau kotaku? Bagaimana orang orang naik bis atau kereta di sana? Apakah ada larangan berbicara dalam kendaraan umum? Ramaikah jalan raya? Apakah mereka ngebut juga di jalan??apakah banyak yg berjalan kaki? Atau sepeda? Polisi? Bagaimana dengan supeemarketnya? Bagaimana gaya orang berpakaian? Apakah ada pengemis di sana? Pengamen, barangkali? Bagaimana pohon pohon di sana? Sungai? Taman kota? Soal pajak bagaimana? Hal hal apa yg kauacungi jempol dan membuat betah? Apakah …hehehe….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s