Mengalami Amerika (12): Rentangkan Sayapmu Putriku

Oleh: Api Sulistyo

Saat yang telah diharap dan dirisaukan itu akhirnya tiba juga. Putri kami yang kedua, Ingrid, meninggalkan rumah kami dan mulai ‘hidup baru’ sebagai mahasiswi di University of Minnesota (UofM).  Proses pindahan ini terjadi pada hari Selasa, tanggal 29 Agustus, 2017. Sebagai orangtua saya merasa bangga tapi was-was juga karena tidak akan tahu lagi suka-dukanya. Tetapi, semua ini adalah bagian dari proses untuk menjadi manusia yang dewasa dan bertanggung-jawab.

Tanda-tanda bahwa Ingrid akan meninggalkan kami sebetulnya sudah terbaca sejak satu setengah tahun yang lalu. Segera setelah dia naik kelas dua SMA, kami mulai mengunjungi beberapa sekolah yang dia senangi. Kami sekeluarga mengadakan perjalanan ke Chicago dan mengunjungi beberap kampus di sana. Hal serupa kami lakukan dengan beberapa sekolah di negara bagian Wisconsin. Tentu saja kami juga mengunjungi University of Minnesota (Uof M) yang hanya dua puluh menit dari rumah kami. Dan tanda berikutnya yang muncul adalah ketika dia menerima surat dari UofM. Amplopnya gede dan tebal isinya. Dengan deg-degan kami bersabar menunggu supaya Ingrid sendiri yang membukanya. Dan dengan senyum lebar serta wajah bangga dia mengatakan, “Saya diterima di UofM.” Universitas ini memang menjadi pilihan utamanya. Saya kira ada pengaruh dari kakaknya yang juga kuliah di kampus ini.

Selama musimpanas tahun ini, Ingrid sedikit demi sedikit mulai mempersiapkan diri proses pindahnya ke kampus. Dia berkenalan dengan anak SMA lain, Cath, untuk menjadi teman kos. Dan mereka senang sekali karena akhirnya mereka bisa tinggal satu kamar di kos-kosan. Ada beberapa teman SMA lain yang dia kenal yang tinggal di tempat kos yang sama. Paling tidak pada awalnya dia tidak akan merasa sendirian.

Pindahan

Pada hari yang sudah ditentukan oleh pihak kampus, Ingrid harus melapor pada jam 11 pagi. Barang-barangnya sudah dikemas dalam beberpa koper dan kotak plastik. Sebagian besar barang-barang itu sudah kami masukkan ke dalam mobil sehingga kami tidak repot pagi harinya. Sebelum jam 11 kami, Ingrid, istri saya, sahabat keluarga (Ramon) dan saya berangkat ke kampus menaiki dua mobil. Perjalanan cukup lancar dan kami tiba di samping kos-kosan dalam 20 menit. Saya melihat beberapa students memakai kaos warna kekuningan mendorong keranjang untuk mengangkut barang. Mereka ini ternyata students yang jadi relawan. Berapa dari mereka membantu kami membawa masuk barang-barangnya Ingrid ke lantai tiga. Warna kekuningan sesuai dengan maskot UofM, Golden Gophers.

Seorang petugas berseragam seperti polisi datang menghamipir kami. Dia menyodorkan tiket parkir supaya kami tidak harus bayar. Begitu semua barang diturunkan kami harus pergi dan parkir mobil di tempat yang sudah ditentukan. Sebetulnya hanya satu blok dari tempat kos. Proses ini membuat pindahan berjalan lancar. Perlu diingat bahwa ada sekitar 50 ribu mahasiswa di UofM Minneaplis. Dan pagi itu pasti ada ribuan mahasiswa/i baru yang masuk kos-kosan.

Ketika kami sampai dia ruang kos di lantai tiga, ternyata Cath sudah ada di sana bersama keluarganya. Anaknya ramah sekali dan orangtuanya kelihatannya orang baik. Ingrid pernah diundang ke rumah mereka untuk mankan malam dan untuk saling mengenal. Besarnya ruang kos kira-kira 4 meter x 6,5 meter. Masing-masing student mendapatkan meja kursi belajar, kloset pakaian, dan tempat tidur. Perabot lainnya harus dibawa sendiri dari rumah seperti kulkas, microwave, kursi malas kipas angin, dst. Kami berada di tempat kos dan membantu mengatur barang-barang. Dan akhirnya kami pun pergi meninggalkan Ingrid, Cath, kos-kosan, dan kampus UofM.

Kapan pulang?

Ada semacam anggapan di antara banyak remaja di Amerika bahwa mereka harus keluar dari rumah orangtua mereka ketika menginjak umur 18 tahun. Umur inilah biasanya mereka mulai kuliah. Begitu masuk kampus seakan mereka tidak akan ‘pulang’ kampung lagi ke orangtua. Jadi mereka berusaha sedapat mungkin untuk tidak pulang kecuali ada alasan sangat untuk itu. Mungkin merasa malu dengan teman-temannya kalau sering pulang. Kalaupun mereka pulang, lebih tepatnya mereka itu berkunjung. Padahal mereka cuma beberapa menit dari rumah dan tentu boleh pulang kapan saja. Yang jelas Ingrid akan kami minta pulang kalau ada acara keluarga misalnya perayaan Thanksgiving di bulan Nopember dan perayaan Holiday Season di akhir tahun. Saya yakin dan berharap akan ketemu Ingrid sebelum Nopember.

Semoga Ingrid mendapatkan pendidikan yang tebaik demi masa depannya. Semoga doa-doa kami membantu keberhasilannya.

Copyright@2017StoryLighthouse. All rights reserved.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s