Mengalami Amerika (13): Gotong Royong Gaya Amerika

Oleh: Api Sulistyo

Sejak kecil saya sering mendengar istilah gotong-royong. Saya dibesarkan di sebuah kampung di luar kota Klaten, Jawa Tengah. Sering saya ikut gotong-royong di kampung kami walaupun ‘senjata’ saya  hanyalah sebilah sabit. “Ayo gotong-royong,” begitu seru pak punggawa desa keliling kampung mengundang warga. Kami bergotong-royong membersihkan jalan, mengecat pagar, memperbaiki saluran irigasi dan tempat mandi umum dst. Itulah kehidupan desa yang melekat di hati saya.

Untuk mencari pemahaman tentang konsep gotong-royong, saya menjelajah di internet. Weladalah, ternyata konsep gotong- royong itu dianut juga oleh masyarakat di Singapura, Malaysia, dan Brunai. La saya kira konsep ini khusus milik masyarakat desa di Indonesia. Lebih jauh lagi negara maju pun punya konsep gotong-royong dengan istilahl ‘communal service’. Salah satu arti konsep gotong-royong adalah “kerja-sama anggota masyarakat untuk mencapai tujuan bersama.” Di sini saya mau bercerita tentang penerapan konsep gotong-royong yang kami alami di Amerika.

Pesta Lulusan

Peristiwa ini terjadi beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 17 Juni, 2017. Di hari yang cerah dan udara nyaman itu keluarga kami punya hajat ‘graduation party’ atau pesta lulusan anak kami Ingrid yang lulus SMA. Jauh hari sebelumnya dia bilang, “Pak, saya mau sate untuk pesta lulusan saya.” Tentu saja saya kanget dan mlongo. “Are you crazy?” tanya saya dalam hati. Memang saya cukup sering membuat sate daging sapi dan katanya enak. Pesta lulusan di Amerika itu biasanya dihadiri oleh ratusan anak SMA yang doyan makan. Terus berapa tusuk sate yang harus kami buat? Saya hanya berharap Ingrid akan lupa dan kita akan mempersiapkan hidangan berbeda.

Tetapi, di lain kesempatan Ingrid mengingatkan saya lagi bahwa dia meminta sate untuk pestanya. Waduh, mampus aku!!!! Ingrid sudah membuat undangan di Facebooknya. “Berapa orang yang kamu undang ke pesta? Tanyaku. Sambil agak tersipu dia bilang, “350 orang.” Gila, bener-bener mampus aku! Tentu tidak semua akan bisa datang. Seandainya yang datang 150 orang dan masing-masing makan dua tusuk sate, berarti kami harus membuat 300 tusuk sate.

Banyak persiapan lain yang harus dilakukan untuk persiapan pesta, seperti layaknya pesta lainnya. Membersihkan rumah dan pasang dekorasi. Merapikan kebun dan memasang tenda serta mengatur meja kursinya. Mempersiapkan jenis makanan lain serta minuman dan banyak sekali yang harus dipersiapkan. “Kapan kami bisa datang untuk motong daging dan nusuk sate,” tanya seorang kawan akrab, Sudirno, dari Salatiga yang bersemangat membantu. Weladalah, ada malaikat pembantu turun dari langit. Selain itu kami juga beruntung dibantu oleh kerabat Agus Santoso yang asli dari kota Kendal. Kami ini bagai ‘sedulur’ dan sering bertemu karena kami main musik bersama. Sudirno adalah penggebuk drum dan penyanyi kami sedangkan Agus main gitar dan juga menyanyi. Saya bagian menabuh bass. Beberapa hari sebelum pesta, kami mempersiapkan sate dan kami taruh di kulkas siap untuk dipanggang. Mereka bahkan datang dengan istri mereka. Terima kasih Cak Dir da Agus serta keluarga atas bantuannya. Wah, terasa seperti di kampng Jawa, bergotong-royong. Kami mempersiapkan sate paling tidak 400 tusuk.

Seuai undangan, pesta dimulai jam satu siang. Dua jam sebelumnya Cak Dir dan Agus serta beberapa teman lain sudah datang dan membantu persiapan terakhir. Ingrid dibantu oleh anggota keluarga lain, Tori, menghias ruang tamu, dan meja makan dengan foto-foto kenangan waktu SMA. Mereka menyediakan kotak untuk sumbangan dan kartu ucapan di ruang tamu dekat pintu masuk. Istri saya, Tami, dibantu oleh temannya dari kantor serta kenalan lainnya. Tak ketinggalan mertua saya ikut nimbrung juga. Beberapa tetangga juga datang untuk membantu kami. Suasana menjadi ramai dan meriah seakan keluarga hajatan di Indonesia dengan aroma sate daging sapi. Sebagai pelengkap kami memesan beberapa paket nasi goreng dan mie goreng dari restoran China di dekat rumah. Lengkap sudah suasana gotong-royong ala Amerika di rumah kami di Minneapolis, Minnesota. Sayang tidak sempat nggoreng krupuk.

Beberapa Kenangan

Awal musim panas adalah saatnya ada banyak pesta lulusan. Ingrid pernah mengatakan bahwa dia menghadiri lebih dari 10 pesta lulusan dalam satu hari. Kebanyakan mereka datang, makan minum sedikit dan pergi ke pesta lain. Dan saya merasa tersanjung bahwa mereka sempat duduk-duduk dan menikmati hidangan yang kami sajikan termasuk sate.

Pada saat pesta berlangsung kami sempat duduk-duduk mengobrol di bawah pohon. Udara hangat dan cuaca cerah membuat suasan semakin akrab. Anak-anak tentu saja tidak kami perbolehkan minum alkohol. Tetapi untuk yang dewasa (21 tahun ke atas) kami sediakan beer dan anggur.

Ketika pesta sudah selesai sekitar jam empat sore kami masih santai menikmati hari yang indah. Tidak ada lagi tamu yang datang. Beberapa anggota keluarga masih ada yang tinggal lebih lama. Dan akhirnya kami harus membereskan semuanya termasuk membersihakan dapur, mencuci piring dan membuang sampah yang penuh dengan tusuk sate.

Terima kasih semuanya yang telah bergotong-royong menyelenggarakan ‘graduation party’ untuk anak kami Ingrid. Tanpa bantuan kalian jelas kami tidak bisa melaksanakannya. Kami berada jauh dari Indonesia, tetapi konsep gotong-royong mempunyai nilai universal di berbagai komunitas.

Salam gotong-royong.

Ini link untuk pengertian tentang gotong-royong.

https://en.wiktionary.org/wiki/gotong-royong

 

Copyrights@2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s