Mengalami Amerika (14): Di Minnesota Serasa di Salatiga

Oleh: Api Sulistyo

Ini cerita sederhana dari akhir pekan kemarin. “Ayo akang mbakyu weekend ini kita bermusic ria buat nambah gairah hidup,” begitu bunyi pesan di WA band kami Pusaka Jawa. Pesan itu dikirim oleh Sudirno atau yang lebih akrab kami panggil Cak Dir, penggebuk drum kami. Sebetulnya belum lama sejak kami tampil bersama untuk memeriahkan hari kermerdekaan kita yang ke 72 dua minggu sebelumnya. Tetapi rasanya kok sudah kangen. Pesan di WA kami itu tentu saja langsung mendapat sambutan positip dari anggota lain. Berhubung alat musik kami berada di rumah Cak Dir, tentunya masuk akal kalau kita bermusik ria di rumahnya yang terletak di pinggiran kota Saint Paul, Minnesota di bagian utara. Setelah berbagai tanggapan akhirnya dengan agak bercanda saya tuliskan di WA kami, “Jumat jam 6:00pm. Dok dok dok. Keputusan bass player tak boleh diganggu gugat.”

Sebetulnya rumah Cark Dir itu hanya sekitar 20 menit dari rumah saya dan sebelum jam 6:00 sore saya sudah berangkat dari rumah. Tetapi,karena pas jam pulang kerja, jalanan agak macet dan saya terlambat sekitar 15 menit. Sesuai rencana saya membawa krupuk bawang dan minuman. Cak Dir yang juga trampil dalam bidang memasak, telah mempersiapkan rawon buat kami.

Ketika saya parkir, saya lihat mobil Agus, guitaris, kami sudah ada di depan rumah Cak Dir. Sambil menunggu kehadiran teman-teman lain, kami bertiga pergi ke lantai bawah (basement) dan mulai memainkan beberapa lagu dari Chrisye untuk sekedar pemanasan. Memang kami tidak berada di Indonesia, tetapi lagu-lagu Indonesia membawa hati dan rasa kami dekat dengan Indonesia. Tak lama kemudian Pratiwi dan Nancy datang dengan membawa masakan spesial: tahu goreng dan sate ayam. Jadi lengkap sudah hidangan makan malam kami: nasi hangat dengan rawon dan sambal, ditambah dengan krupuk, tahu goreng, dan emping mlinjo dari Agus. Sangat sederhana tapi kebahagiaan kami begitu istimewa karena bersama orang-orang yang kami rasakan sebagai saudara. Sayang sekali salah satu penyanyi kami, Cindy, tidak bisa hadir karena mempersiapkan diri menyambut kedatangan mamanya yang datang dari Indonesia. Cindy, we missed you.

Acara makan tentu menjadi bagian yang sangat menyenangkan. Saling ejek adalah ciri khas masyarakat Indonesia. Bahasa Jawanya ‘nyek-nyekan’ dan karena kami sudah saling kenal sehingga tidak tersinggung atau sakit hati. Cak Dir, Agus, dan saya memulai band kami lebih dari 10 tahun yang lalu. Kami ingin sering kumpul-kumpul untuk menawar kerinduan akan Indonesia. Selain itu dengan band ini kami tidak begitu bosan selama musimdingin ketika suhu udara ada di sekitar minus 20 derajad Celsius. Sejenak kami bisa menepis kebosanan dan mencoba untuk menghangatkan diri.

Secara bergantian kami menyanyikan berbagai jenis lagu, dari lagu pop sampai lagu dang ndut. Bahkan Agus mencoba memperkenalkan lagu karangannya sendiri yang sebetulnya cukup bagus. Saya tidak begitu aktip dalammenyanyi karena kurang mahir bermain bass dan menyanyi pada saat yang sama. Selain menyanyikan lagu-lagu yang sudah kami kenal, kami juga mencoba lagu-lagu baru yang mungkin suatu hari kami berksempatan untuk menampilkannya.

Beberapa kali kami diundang untuk memeriahkan acara-acara masyarakat Indonesia di Minnesota seperti lebaran, tujuhbelasan, dan holiday party di akhir tahun. Kami pernah pentas juga untuk acara ulang tahun, acara budaya internasional, maupun Indonesian Night yang digarap oleh PERMIAS (persatuan mahasiswa/i Indonesia di Amerika Serikat) Minnesota. Memang kami bukanlah pemusik profesional. Sejauh saya tahu kami tidak ada yang bisa membaca musik atau not balok. Kami juga tidak berencana untuk mengarang lagu dan mulai rekaman serta menjual lagu-lagu kami. Setiap hari kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing dan kegiatan keluarga kami. La terus band ini untuk apa dan mau apa?

Kami senang menjadi bagian dari acara lebaran. Melihat teman-teman meluangkan waktu bersama, bernyanyi dan menari. Kami senang bisa ikut memeriahkan acara tujuh belasan, dan kami ikut senang bisa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia di Minnesota atau MIS (Minnesota Indonesia Society).

“Jam sebelas kita selesai ya,” begitu usul Cak Dir sebagai tuan rumah sambil duduk di belakang drumnya. Kami akhiri jumat malam kami dengan makan lagi dari yang tersisa. Sambil ngobrol dan nyek-nyekan tiada henti di tengah malam. Kadang kami berbicara juga tentang keluarga dan anak-anak kami. Selama empat jam lebih kami bersama malamitu. Makan makanan Indonesia. Ngomong bahasa Indonesia atau Jawa. Nyanyi lagu-lagu kenangan dari Indoneia. Memang raga kami berada di Minnesota, tetapi malam itu hati kami serasa di Salatiga. Salah satu pemain kami berasal dari kota sejuk ini.

Copyrights@2017StoryLighthouse. All Rights Reserved.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s