Mengalami Amerika (16): Kami Hanyalah Tukang Parkir

Oleh: Api Sulistyo

Hampir dua minggu yang lalu ada perhelatan cukup akbar di sekolah anak kami, SMA Eastview, yang terletak di daerah Apple Valley, negara bagian Minnesota, USA. Anda pingin tahu apa yang terjadi? SMA dengan jumlah murid sekitar 2000 siswa/i ini menjadi tuan rumah kompetisi marching band yang diikuti oleh lebih dari 20 SMA dari berbagai lokasi di Minnesota. Peserta dibagi menjadi dua bagian AAA dan AA berdasarkan besar kecilnya SMA dan jumlah peserta marching band. Kalau setiap sekolah melibatkan 150 siswa, berarti di Sabtu siang yang agak sejuk itu, ada sekitar 3000 siswa/i SMA tersebar di halaman sekolah.

Peristiwa keren yang selalu terjadi di awal musim gugur ini tentu saja menuntut persiapan dan pengelolaan yang serius demi keberhasilannya. Dari pihak sekolah tentu saja memiliki para pembimbing yang kompeten di bidang musik, kareographi, perancang model, tata rias, dan tata panggung,dst. Pokoknya komplit seperti halnya pentas profesional.

Seperti tahun-tahun sebelumnya panitia meminta orangtua murid untuk membantu. Dua tahun yang lalu saya menjadi relawan menjaga pintu pagar untuk penonton. Tugas utama saya adalah menutup pintu pagar supaya tidak ada penonton yang mondar-mandir selagi pentunjukan berlangsung. Waktu ada break, mereka boleh keluar masuk lagi. Tahun yang lalu saya bertugas menjaga pintu untuk para peserta marching band. Pokoknya kalau show lagi berlangsung mereka harus berdiri di tempat, tidak membuat gaduh dengan alat musik atau perlengkampan mereka lainnya sehingga mengganggu yang sedang pentas.

“Kamu mau menjadi relawan di bagian apa?” istri saya bertanya.

“Ya terserah saja. Pokoknya ikut saja sesuai kebutuhan,” jawab saya ringan, seakan tak ada beban. Saya memang tidak memikirkan banyak tentang apa yang akan saya lakukan. Saya hanya ingin menjadi bagian dari peristiwa yang penting bagi sekolah dan anak-anak, termasuk anak kami, David Sulistyo. Dengan berada di sana saya ingin memberikan pesan bahwa kami mendukung keterlibatannya dalam marching band yang telah dia tekuni selama dua tahun terakhir. Dia bermain trombone.

Relawan

Jam dua siang lebih sedikit kami memasuki gedung sekolah dari pintu masuk belakang di lantai bawah. Seorang ibu duduk di belakang meja menyambut kami dengan senyum lebarnya. “Kalian mau jadi relawan?” sapanya sambil memandangi kami berdua. “Siapa nama keluargamu?” lanjutnya. Dia mencari nama kami di daftar relawan. Begitu menemukan nama kami dia mengatakan, “Kalian bertugas menjadi tukang parkir di tempat parkir atas, di utara gedung sekolah.”  Di atas meja ada nama-nama relawan. Kuambil nama saya dan istri saya untuk disematkan di dada. Ibu yang ramah itu ternyata relawan juga. Dia memberi kami masing-masing rompi warna oranje dan lampu tangan khusus untuk tukang parkir yang berwarna oranje juga. “Terima kasih atas bantuannya. Silahkan pergi ke tempat parkir atas. Relawan lain sudah berada di sana,” ibu itu mengarahkan kami.

Begitu kami sampai di tempat parkir, saya lihat ada lima tukang parkir lain yang kumpul di bawah pohon. Kami mendekati mereka dan memperkanlkan diri. Kami semua relawan dan tidak tahu persis apa yang harus kami lakukan. Seorang pengendara golf cart datang mendekati kami. Kudengan namanya Kurt. Ternyata orang inilah yang menjadi penanggung jawab tempat parkir. Di belakan golf cartnya ada kotak berisi botol air dingin. Kurt adalah karyawan sekolah.

Setiap sekolah sudah diberi bagian khusus di mana mereka harus parkir kendaraan mereka. Ada satu sekolah yang datang dengan sembilan truk dan bis. Tanpa instruksi khusus kami akhirnya menemukan tugas kami masing-masing. Saya menempatkan diri di ujung tempat parkir dan mengarahkan para sopir kemana mereka harus parkir. Belum pernah dalam hidup saya menjadi tukang parkir untuk mobil, truk, dan bis. Saya pernah membantu jadi tukang parkir di kampus sambil nunggu dia lewat. Atau di gereja waktu kampung kami pas jatah tugas parkir.

Tempat parkir itu perlahan menjadi padat dan kami mulai kesulitan bagaimana mengatur mereka. Beberapa sopir kelihatan kehilangan kesabaran mereka. Bahkan ada bis yang nyenggol kendaraan lain sehingga lampu belakangnya pecah. Begitu semua sekolah sudah hadir sesuai jadwal, sebetulnya tugas kami sudah selesai. Mereka bisa meninggalkan lokasi kompetisi sesuai jadwal mereka.

Ada rasa canggung, gugup, ragu-ragu, tidak mampu, tidak mengerti dst waktu kita menjadi relawan. Relawan yang lain juga merasakan hal serupa. Mereka relawan juga. Yang diperlukan salah satunya adalah kemauan untuk bekerja sama dengan orang lain dan merasa OK dengan keadaan yang tidak menentu. Ada untungnya juga lho kalau jadi relawan. Kami tidak harus beli tiket untuk nonton kompetisi. Memang harga tiket masuk hanya US$7.00 (tujuh dollar).

Pada malam harinya kami sempat menyaksikan penampilan beberapa sekolah termasuk show dari SMA Eastview. Mereka telah berlatih sejak musim panas. Penampilan mereka begitu mengesankan. Sebagi tuan rumah SMA Eastview ikut tampil tetapi tidak dinilai oleh dewan yuri. Panggung penonton penuh sesak oleh 700an supporter. Warung sekolah pun ramai menjual makanan dan minuman yang dilakukan oleh relawan juga. Saya lihat pasangan bapak ibu teman dari anak kami ikut menjual makanan. Program marching band masih akan berlangsung sampai pertengahan bulan depan. Semoga anak kami mendapatkan pengalaman yang berharga dari peran sertanya di marching band.

Selamat dan sukses untuk SMA Eastview. Sampai ketemu lagi tahun depan dengan lebih meriah.

Eastview Marching Band website:

https://www.eastviewbands.com/marching-band

Copyright@2017StoryLighthouse. All rights reserved.

   

2 thoughts on “Mengalami Amerika (16): Kami Hanyalah Tukang Parkir

  1. Oom Api, I’m following your interesting stories. To see how Indonesian like you stay in US and contribute to the society there, rasanya kok enggak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di banyak tempat di Indonesia juga ya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s