Mengalami Amerika (17): Biarlah Kami Menjadi Supportermu

Oleh: Api Sulistyo

Acara kami akhir pekan ini cukup padat. Pada hari Jumat malam kami berkesempatan untuk menyaksikan penampilan marching band SMA anak kami, David Sulistyo. Mereka tampil pada setengah mainan sepak bola antar SMA. Sayang sekali tim sepakbola anak kami kalah. Tetapi penampilan marching band membuat pertandingan sepakbola menjadi lebih meriah.

Hari Sabtu adalah hari ulangtahun istri saya. Jadi, mau tidak mau harus melakukan sesuatu untuk merayakannya. Dan kami sudah ada rencana untuk makan bersama pada malam hari. Selain acara ulang tahun, pada hari Sabtu yang sangat panas itu anak kami yang bungsu, Alex Sulistyo, ikut lomba lari cross country dengan teman-teman time sekolahnya. Jadi kami memutuskan untuk menyaksikan lomba ini karena saya belum pernah melihat dia ikut lomba lari sejak dia bergabung dengan tim sekolahnya.

Dengan kopi panas di tangan, saya jadi sopir mengantar Alex ke lokasi lomba, di SMA Apple Valley yang hanya sekitar 15 menit dari rumah. Istri saya pun punya segelas kopi panas dan duduk di kursi depan. Sementara Alex duduk di belakang. Ketika kami tiba di SMA Apple Valley sebelum jam 8 pagi, kami lihat beberapa pelari berjalan menuju bagian belakang kampus sekolah. Tempat parkir sudah diisi oleh puluhan mobil. Panitia penyelenggara sedang sibuk dengan alat elektronik, garis-garis pembatas, dan beberapa orang di kantin subuk menata makanan dan minuman.

Lomba ini diikuti oleh beberapa SMA yang dibagi dalam kelompok lanjut (Varsity) dan kelompok awal (Junior Varsity). Pelari cewek dipisahkan dari pelari cowok dan jarak larinya juga berbeda. Pelari cowok menempuh 5 Km dan pelari cewek, 4Km. Sebetulnya banyak orang mulai tidak suka dengan pembedaan ini. Alex termasuk tim kelompok awal dan sebetulnya lomba dia akan dimulai jam 10:30 pagi. Jadi pagi itu kami punya waktu bebas sekitar dua setengah jam. Seperti yang sudah kami lakukan dalam beberapa minggu terakhir, waktu bebas ini kami pakai untuk jalan-jalan. Dan kami senang karena ada satu teman keluarga, Ramon Rentas, yang telah beberapa kali berjalan dengan kami.

Kami bertiga belum pernah jalan-jalan di tempat ini walaupun kami tidak asing dengan daerah ini. Ketita kami mulai jalan-jalan, kami melihat Alex dan teman-temannya melakukan pemanasan dengan bimbingan pelatih mereka. Kami berjalan di daerah pemukiman penduduk. Melihat rumah-rumah mereka serta pekarangan mereka dengan rerumputan and bunga-bunga. Beberapa kali kami melewati taman kota. Saya melihat beberapa pohon apel yang berbuah banyak dan tak pernah dipanen. Saya masih tidak mengerti mengapa orang tidak mengambil dan memakannya. Apel-apel itu berjatuhan dan membbusuk. Mungkin apel ini cuman untuk hiasan saja dan tidak enak dimakan. Mungkin orang takut mereka akan sakit kalau memakan apel itu. Entahlah. Dua setengah jam berlalu dengan obrolan sana-sini. Kadang ada tawa dan keras suara. Akhirnya jarak 9Km kami lalui dan kami kembali ke lokasi balap lari.

PR (Personal Record)

Tim SMA Eastview punya symbol ‘Lightening” atau kilat. Saya lihat para pelari pakai seragam dengan logo kilat. Lomba lari untuk cewek kelompok awal sedang berlangsung dan para pelari sebagian besar sudah memasuki garis finish. Masih ada waktu sekitar 15 menit sebelum Alex mulai lari. Kami duduk-duduk di tempat teduh menikmati air dingin. Para pelari bergerombol di sekitar garis start sesuai ketentuan. Mereka mulai pemanasan bersama-sama. Beberapa menit sebelum mulai setiap tim berdiri rapat dalam lingkaran dan meneriakkan seruan khusus mereka untuk saling memberi semangat. Akhirnya pistol pun berbunyi dan lomba lari dimulai.

Saya masih heran dengan kecepatan mereka. Tidak sampai 19 menit pelari pertama sudah melewati garis akhir. Baru satu kali dalam hidupku saya bisa lari 5Km di bawah 30 menit. Tetapi saya memang bukan pelari cepat. Setelah menunggu dengan tak sabar, akhirnya saya melihat Alex sekitar 200 meter dari garis akhir. Ketika dia semakin dekat, kami mulai memberikan dukungan padanya, “Go for it Alex. You can do it,” kira-kira begitu bunyi teriakan kami. Dia memasuki garis akhir beberapa detik sebelum menit ke 28. Menurut saya dia berhasil menyelesaikan lomba dengan baik mengingat dia baru ikut training dalam empat minggu terakhir. Saya yakin dia bisa memperbaiki prestasinya.

“I got PR Dad!” katanya waktu saya temui. Dia duduk di kursi sambil minum air. Maksudnya, dia memecahkan rekor pribadinya. PR diartikan personal record. “Saya PR dengan 36 detik lebih cepat,” lanjutnya. Wah, lumayan juga bisa PR. Semoga kedepannya dia bisa berlatih lebih giat dan prestasinya lebih baik juga.

Kami meluangkan waktu bersama di tempat teduh di sekitar garis akhir. Kami bahkan sempat melihat permulaan lomba berikutnya, kelompok lanjut putri. Tetapi akhirnya Alex harus bergabung dengan timnya dan kami meninggalkan tempat lomba. Saya senang bahwa saya bisa berada di pinggir jalur lari di dekat garis finish. Saya tidak tahu kapan lagi saya akan bisa mendapatkan kesempatan serupa. Kebanyakan lomba lari cross country terjadi pada jam kerja dan kalau ada lomba pada hari libur (akhir pekan) biasanya terjadi di tempat yang jauh. Saya masih berharap akan akan kesempatan lagi untuk menjadi supporter anak kami.

 

 

Copyright@2017StoryLIghthouse. All rights reserved.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s