Mengalami Amerika (28): Naik Kayak di Air Es

Oleh: Api Sulistyo

Sabtu siang, tanggal 2 Desember di Minnesota, negara bagian Amerika di bagian utara yang bebatasan dengan Kanada. Dalam perjalanan pulang dari lari-lari. Di dashboard mobil saya lihat bahwa suhu udara di luar adalah 47 derajad Fahrenheit atau sekitar 8 derajad Celcius. Saya terkejut. “Tidak mungkin,” pikir saya. Tidak mungkin ada suhu 8 derajad Celcius di Minnesota pada awal Desember. Tapi, rupanya memang itulah kenyataannya.

Begitu masuk rumah saya langsung teriak ke istri saya, Tami, “Mo, kamu mau berkayak. Ayo saya antar.” Sebetulnya saya tidak bertanya pada dia, tetapi lebih pada menyuruh. “Wah pasti akan menyenangkan,” jawabnya. Beberapa saat kemudian, saya membongkar kayak yang sudah saya simpan di garasi sebagai persiapan untuk musim dingin. Tami mulai membersihkan dan mempersiapkan mobilnya supaya saya bisa masukkan kayak, dayung, baju pelampung dst.

Sedianya dia akan berkayak di danau. Tetapi, kami tidak yakin kalau air danau sudah tidak membeku lagi karena beberapa minggu yang lalu selama beberapa hari suhu udara sudah mencapai jauh di bawah titik beku. Kami memutuskan untuk pergi ke danau Blackhawk yang terletak sekitar 3 Km dari rumah kami. Di tempat parkir saya lihat ada banyak mobil. Karena udara ‘hangat’ banyak orang yang ingin melakukan kegiatan di luar rumah seperti jalan-jalan, main di taman dengan anak-anak, bersepeda, lari-lari atau kegiatan lainnya.

Kami bisa membawa mobil kami sampai ke pinggir danau. Air kelihatan sangat tenang dan tak ada ombak sama sekali. Saya pun mulai curiga. Jangan-jangan air danau sudah menjadi es. Dan memang benar. Saya turun dari mobil dan berjalan menuju air danau. Kuinjak air danau dan es yang ada di permukaan airpun pecah. Tidak mungkin Tami bisa berkayak di danau yang permukaan airnya sudah menjadi es.

“Ayo kita ke sungai Minnesota saja. Saya yakin airnya tidak beku,” usul istri saya.

Untung sungai ini juga hanya beberapa menit dari rumah kami. Begitu sampai di sungai, saya lihat juga ada banyak mobil di sana dan beberapa orang bersepeda bersama. Pohon-pohon sudah tak berdaun. Rumput sudah menjadi coklat. Debit air sungai sangat rendah karena tak ada lagi air dari darat masuk ke sungai karena sudah membeku. Saya bawa kayak ke pinggir sungai dan saya lihat Tami membawa beberapa bantal dan selimut. “Kenapa bawa itu semua? Untuk apa?” tanyaku setengah protes.

“Lihat saja yang akan saya lakukan,” katanya. “Wah, sombong sekali orang ini,” suara batin saya.

Ternyata bantal itu dia taruh di bagian bawah kayak. “Saya tidak mau pantat saya kedinginan,” katanya. Saya hampir tak bisa menahan ketawa. Orang mau naik kayak kok pantatnya malah membeku. Air sungai sudah menjadi dingin walalupun tidak membeku. Bagian bawah kayak cepat menjadi dingin. Selain itu Tami juga memakai pakaian tebal berlapis, topi hangat dan kaos tangan.

Kata kayak itu sebenarnya diasosiasikan dengan cuaca panas, air hangat, celana pendek, dan topless untuk laki-laki. Tetapi, di Minnesota kata kayak bisa diasosiasikan dengan udara dan air dingin sedingin es.

Sambil menunggu Tami saya duduk di mobil sekalian istirahat karena masih capek dari lari-lari. Tiba-tiba saya lihat seorang laki-laki bersepeda seakan langsung mau masuk ke air sungai. “Orang ini gila apa ya?” tanyaku dalam hati. Saya membayangkan dia teriak-teriak minta tolong untuk keluar dari air sungai sambil berenang bersama sepedanya. Apa yang akan dia lakukan? Ternyata dia ingin mencuci sepedanya yang kotor dengan lumpur. Dari ukuran ban sepedanya yang berukuran besar/tebal, saya tahu bahwa dia sudah mempersiapkan sepedanya untuk musim dingin juga. Ban berukuran besar akan lebih aman untuk melewati salju dan es.

Sebelum jam lima sore, pemandangan mulai gelap. Saya lihat Tami mulai kembali dari ‘penjelajahannya’ di sungai Minnesota. Mungkin ini adalah kegiatan naik kayak yang terakhir untuk tahun ini. Percaya atau tidak dia berkayak 111 kali. Tahun lalu dia berkayak 108 kali. Jadi dia memecahkan rekor atas namanya sendiri. Selamat Mo? Tahun depan mau berapa kali?

Hari yang indah memang sudah layak dan sepantasnya untuk dinikmati.

Copyright@2017StoryLighthouse. All Right Reserved.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s