Mengalami Amerika (39): Tetesan Cinta Bagi Nusantara

Ditulis oleh Api Sulistyo

18 Mei 2020

Saya memang bukan tipe penari. Kaku dan wagu. Ketika saya belajar menari untuk acara pentas di Mall of America, istriku saja tak percaya. Saya bisa lihat dari ekspresi wajahnya ketika saya pamitan untuk latihan nari. Memang banyak keterbatasan, tapi paling tidak saya punya kemauan.

Dan untuk pertama kali dalam hidup saya, saya belajar menari tarian Sirih Kuning bersama beberapa teman dibimbing oleh pelatih kami yang luwes, sabar, dan baik hati, Maria Hosmer.

Tulisan ini bukan tentang pentas kami, tetapi merupakan sajian ringan tentang Maria dan kegiatannya dalam merajut helai-helai minat dan bakatnya dalam menari.

Maria lahir di Kalimantan Tengah dan besar di Jakarta. Dia pindah ke Minnesota sejak musim panas tahun 2012 karena suaminya tinggal di Minnesota, negara bagian yang terletak di utara, berbatasan dengan Kanada. Maria berdomisili di Prior Lake bersama suami dan kedua putra mereka. Saat ini dia bekerja paruh waktu di salah satu toko retail.

Maria senang menari sejak kecil dan mulai les menari sejak umur 10 tahun walau sempat berhenti karena kesibukan sekolah dan kuliah.  Tetapi dia semangat untuk meneruskan menari sampai tahun 2012. Dia punya hasrat yang kuat untuk mempopulerkan tarian Nusantara di Minnesota termasuk tarian Bali, Betawi, Minang, dan Sumatra Utara. Terus apa yang dia lakukan untuk mewujudkan niat kuatnya itu? Yuk, kita simak bersama.

Maria terlibat langsung dalam melatih dan menentukan dandanan tarian untuk beberapa events penting. Selain bekerja sama dengan Permias (Persatuan Mahasiswa/i Indonsia di Amerika) dalam acara tahunan, Indonesian Festival, dia juga berperan aktif di International Festival. Namanya juga tercantum sebagai peserta aktif di Asian Festival yang digarap oleh Asian Media Access dan masyarakat Asia di Minnesota. Selain itu Maria juga membantu di berbagai acara di lingkup terbatas baik dari perseorangan, komunitas, maupun perusahaan.

Mengajar Nari

Dilandasi oleh minat kuat dan kemahirannya, Maria mulai mengajar nari sejak tahun 2012 dengan kelompok anak-anak.  Kehadiran putranya menuntut dia untuk berhenti mengajar sementara dan baru mulai rutin lagi sejak awal tahun 2018. Untuk kenyamanan peserta, “Kami latihan di rumah salah satu keluarga Indonesia, atau di mana saja yang mudah di jangkau oleh murid,” jelasnya.

Kesempatan berlajar nari ini terbuka untuk siapa saja yang berminat: ibu-ibu, bapak-bapak, mahasiswa, pelajar, dan anak-anak. “Peserta tidak harus memiliki bakat, tidak harus orang Indonesia, asalkan berminat, bisa ikut,” demikian ajakan Maria.

Mereka latihan bersama biasanya tiap dua minggu atau tiap bulan tergantung tingkat kesibukan peserta. Selebihnya latihan sendiri-sendiri di rumah dengan bantuan video/YouTube yang disepakati bersama. Sejak pandemik COVID-19, mulai pertengahan Maret semua peserta berlatih di rumah masing-masing.

Tantangan

Tidak semua kegiatannya berjalan mulus tanpa kendala. Pada kenyataannya ada beberapa tantangan yang harus dihadapi bersama. Berikut tantangan yang disampaikan oleh Maria.

Tidak semua peserta mampu membeli kostum yang harganya cukup mahal. Sebagai jalan keluarnya mereka sering kali memodifikasi kostum yang sudah ada atau yang bisa mereka temukan dari bahan-bahan setempat.

Waktu untuk latihan dan pentas juga sering menjadi kendala karena masing-masing penari memiliki kesibukan masing-masing, bekerja, sekolah full time, mengurus rumah tangga dst. Dan tempat tinggal mereka yang menyebar bikin sulit untuk menentukan kapan dan dimana mereka bisa berlatih.

Kendala klasik dari banyak kegiatan adalah dana. Maria menuturkan, “Hampir semua kegiatan ini dilakukan secara voluntary, sering kali kami tidak mendapat bayaran dari event organizer, sedangkan untuk latihan kami butuh biaya. Untuk pentas juga banyak yang harus keluar biaya pribadi (transport, make up, konsumsi) dan sebagian dari peserta tari adalah mahasiswa atau ibu rumah tangga.”

Tantangan lainnya menurut Maria adalah belum banyaknya orang setempat yang tahu tentang keberadaan komunitas Indonesia. Justru kenyataan ini mendorongnya untuk selalu terus memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat.

Semoga semakin banyak tetesan-tetesan cinta bagi Nusantara seperti ini. Suatu hari kita akan temukan taman indah dimana budaya dan nilai-nilai Nusantara tumbuh subur dan direngkuh oleh semakin banyak orang.

Selamat berkarya dan berjuang Bu Maria Hosmer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s