Di Antara Dua Karantina

Ditulis oleh: Rosaryanto

Roma, Pertengahan Juli 2020

Karantina Indonesia

Sudah bertahun-tahun saya tinggal di Roma, Italia.  Berkunjung ke Indonesia adalah salah satu kesempatan yang selalu saya tunggu-tunggu setiap tahunnya. Betapa menyenangkan berjumpa dengan teman-teman lama dan bernostalgia, menikmati cemilan jajan pasar, memanjakan mata dan lidah dengan hasil bumi di Cikole. Itu hanya beberapa saja. Maret tahun 2020 ini sangat berbeda. Saya merasa enggan sekali terbang ke Indonesia. Belum pernah saya merasakan keengganan seperti itu. Tidak biasanya! Hari itu, beberapa jam sebelum berangkat, koper masih terbuka, belum terisi rapi. Benak saya masih bertanya-tanya, “Pulang tidak ya?”

Faktor utama yang membuat saya ragu ialah virus Corona yang bernama Covid-19. Sejak awal Maret 2020, Negara Italia sudah menetapkan lockdown untuk beberapa kota, khususnya di daerah Utara. Kota Roma belum memberlakukan strategi itu untuk menangkal sang Corona. Virus sudah menyebar ke seluruh negara, tetapi tidak begitu terasa di Roma. Para turis masih terlihat banyak, bahkan ada pula yang masih ‘berani mati’ berciuman di sekitar taman-taman.  Sore itu, tanggal 12 Maret 2020, saya akhirnya berangkat, transit di daerah Arab, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 13 Maret siang menuju sore.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta hati saya sangat lega. Apalagi situasi di Terminal 3 tampak tenang-tenang saja. Saya bahkan tidak diwawancara lebih detail padahal dalam formulir yang harus diisi, saya mengatakan dengan jujur bahwa saya datang dari Roma. Setelah melewati pengukuran suhu badan, pengecekan lebih lanjut tak ada lagi. Suasananya sangat berbeda dengan bandara Fiumicino Roma yang baru saja saya alami sehari sebelumnya. Di sana, setiap 15 menit petugas bandara memberi pengumuman agar setiap orang dalam bandara menjaga jarak. Hampir semua orang menggunakan masker pada waktu itu. Di Cengkareng Jakarta, orang masih santai. Banyak yang tidak bermasker. Saya pun tidak mengenakan masker lagi. Lebih lega karena masker saya sangat mencolok. Masker itu sebetulnya nyaman dipakai karena memang bagus dan agak mahal. Bentuknya seperti masker milik pemadam kebakaran. Itu yang bikin saya merasa aneh.

Atas kebaikan seorang teman, saya mendapatkan transportasi mobil sewaan dari Jakarta menuju Bandung di mana saya akan tinggal. Semenjak memasuki mobil, perasaan saya kembali tidak nyaman. “Jangan-jangan sopirnya sudah kena virus”. Selama perjalanan dari Jakarta ke Bandung, masker keren itu saya pakai lagi. Kalau saya memegang sesuatu di dalam mobil, cepat-cepat saya lumasi tangan saya dengan hand-sanitizer. Ketika mata saya gatal, saya olesi dulu tangan saya dengan cairan beralkohol itu sebelum menyentuh pelupuk mata. Saya jadi merasa aneh sendiri dan geli…”Kenapa aku jadi begini…malah koyo wong edan” Untung kegilaan itu tidak semakin memburuk.

Bandung sudah hampir tengah malam ketika kami tiba. Semua barang bawaan saya semprot dengan alkohol sebelum masuk kamar. Begitu masuk kamar, seluruh pakaian, termasuk sepatu karet yang saya pakai langsung saya rendam dengan air sabun. Saya mandi keramas. Pikiran saya hanya satu: kalau saya terkena virus hendaknya tidak menulari saudara-saudari saya di rumah. Saya tidak mau menjadi pembawa virus. Sejak malam itu, saya mengisolasi diri selama 14 hari. Beberapa hari kemudian WHO mengumumkan bahwa situasi dunia saat itu dinyatakan sebagai pandemi. Akibatnya luar biasa, saya yang berencana tinggal di Indonesia selama tiga minggu terpaksa harus memperpanjangnya sampai hampir 4 bulan. Tetap tinggal di rumah hampir sepanjang waktu selama di Bandung bukan hal mudah. Betapa banyak sahabat dan saudara yang tak terjumpai. Berapa variasi kuliner asyik ala Bandung yang tak tercicipi. Aaaahh… Untunglah saya tidak mengalami kebosanan.

Saya menyatakan kepada orang-orang di rumah bahwa saya akan melakukan isolasi mandiri, menjauhkan diri dari orang lain, makan terpisah dan tidak keluar kamar, jika tidak perlu, selama dua minggu. Isolasi mandiri adalah karantina yang diselenggarakan bukan oleh negara melainkan secara pribadi di rumah sendiri. Saya memperlakukan diri sendiri sebagai pesakitan. Meskipun belum ada test yang valid, menganggap diri terkena virus sehingga selalu berusaha untuk tidak menulari orang lain adalah sikap mulia. Itu pendapat saya. Banyak orang baik yang membantu saya dengan mengirimkan masker, hand-sanitizer, hand-soap, vitamin, madu, dan lain sebaginya. Beruntungnya saya! Selama itu, bahkan sampai kini, muka ini selalu dibalut masker. Tangan sering kering karena dalam sehari bisa dicuci berkali-kali.

Pelayan Kehidupan

Ada dua hal unik yang mewarnai kehidupan saya selama masa pandemi di Indonesia. Yang pertama adalah tergugahnya hati saya setelah mencermati betapa Indonesia tidak begitu siap dengan peralatan medis dalam menghadapi Covid-19 yang mulai merebak saat itu (Maret 2020). Dalam bulan pertama virus ini menyerang Indonesia, beberapa tenaga medis terinfeksi dan bahkan ada yang meninggal dunia. Berita kematian dari berbagai penjuru mulai mencekam, apalagi mengenai kawan kelas saya sendiri semasa SMA terinfeksi. Ada juga orang yang saya kenal menjadi korban. Bahwa akhirnya dia pergi menghadap Sang Pencipta dalam waktu kurang dari seminggu sejak masuk rumah sakit sungguh menciutkan hati. Perpautan antara ide-ide, berbagai perasaan, keinginan dan pengetahuan, serta hasrat untuk berbuat sesuatu berkecamuk jadi satu. Saya tidak pernah mengalami hal yang demikian sebelumnya.

Tindakan apa yang harus saya perbuat? Keputusan saya ialah: dukung tenaga medis, lindungi mereka sekuat tenaga. Apa daya, saya ini orang papa yang bekerja tanpa menghitung upah. Namun begitu, selalu ada jalan bagi niat tulus. Saya menghubungi dua-tiga teman yang saya yakini memiliki keprihatinan yang sama. Karena merekalah akhirnya terkumpul uang untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan para tenaga medis dalam tugas pelayanan mereka melawan Covid-19 ini: baju hazmat, face-shield, sepatu boot, masker, sarung tangan. Kami mengirimkan barang-barang itu ke rumah sakit-rumah sakit non-pemerintah yang menurut penilaian kami pada waktu itu memang perlu dibantu.

Dana habis, bantuan terhenti otomatis. Apa lagi yang bisa saya buat untuk para tenaga kesehatan ini? Saya hormat, salut, dan care pada mereka. Lantas, dengan bantuan saudara, saya dan beberapa teman SMA saya dulu membuat Cover Lagu untuk para tenaga kesehatan ini. Judul lagunya “Kau Tak Kan Sendiri” yang sekaligus memberi kekuatan bagi mereka yang sakit karena Covid-19. Karya itu bisa ditemukan di youtube grup kami “Sympathetikos”. Itu istilah Yunani yang artinya kira-kira “Bersimpati kepada Hyang Ilahi”. Lagu kedua pun muncul setelah itu. Judulnya “Hamba Menyanyi”, sebuah lagu Nasional yang kami persembahkan untuk seluruh warga Indonesia untuk bersatu hati melawan pandemi dalam naungan Pancasila Sakti. Tampaknya akan muncul pula lagu yang ketiga. Nantikan saja!

Cerita Silat

Hal kedua yang terasa unik ialah bahwa masa pandemi ini bagaikan masa permenungan agung. Ah, bukankah itu hal biasa? Bagi saya, itu unik karena bacaan saya selama permenungan agung itu bukanlah buku-buku suci atau buku-buku filsafat. Bacaan saya kembali pada cerita silat dari penulis kecintaan semasa muda dulu: Asmaraman Kho Ping Ho. Mungkin Anda tersenyum karena Anda juga mengenalnya atau bahkan sama nge-fans-nya dengan saya.

Selama empat bulan tinggal di Indonesia, di Bandung khususnya, saya mendengar banyak berita kematian. Banyak orang mengetuk hati saya meminta doa atas saudara atau teman-teman mereka yang sakit dan mengalami kesulitan ekonomi. Ada juga berita yang membikin hati geregetan karena beberapa wakil rakyat yang tidak sensitif malah berfoto-foto dengan baju APD (Hazmat) yang harusnya dipakai oleh para tenaga medis dalam tugas pelayanan mereka. Kisah-kisah silat Kho Ping Ho, selain menghibur, membantu saya untuk merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut: kesakitan, kematian, kemiskinan, nafsu kuasa, dll.

Inilah beberapa contoh nasihat (saya bahasakan lagi) yang saya baca. “Tidak perlu menangisi orang yang sudah mati, karena sebetulnya itu hanyalah menangisi diri sendiri” Tanpa menghentikan rasa iba terhadap diri sendiri, kita tak akan mendapatkan kemajuan. “Nafsu itu bagaikan kuda, kita membutuhkannya sebagai energi tetapi harus dikendalikan dengan benar. Kalau sampai menjadi liar, kuda-kuda itu akan membawa kereta hidup kita ke dalam jurang” Nafsu-nafsu liar tidak bisa diobati atau diubah dengan pengetahuan. Nyatanya ada banyak orang yang tahu dan mengerti bahwa korupsi itu buruk dan keliru, namun tetap saja mereka korupsi. Mengendalikan nafsu secara benar hanya bisa dilakukan dengan latihan yang sungguh dan kepasrahan kepada Tuhan. Seperti bermain silat, kalau ia tekun berlatih sejak kecil, ia akan semakin mengalami kemajuan dan menjadi lihai (tidak bergerak secara liar).

Ada juga kata-kata yang berasal dari Kitab tertentu dan diletakkan sebagai puisi atau lagu:

“Mengerti akan orang lain adalah bijaksana, mengerti diri sendiri adalah waspada. Menaklukkan orang lain adalah berjaya, menaklukkan diri sendiri adalah kuat perkasa. Mengetahui batas kecukupan berarti kaya, tidak mengenal cukup berarti murka (serakah). Enggan meninggalkan kedudukan akan terbelenggu, mati tanpa tersesat (=dalam kebenaran) berarti panjang usia.”

Ada juga pendapat tentang doa yang sesuai dengan pemahaman saya. Katanya, satu-satunya doa yang pantas kepada Tuhan adalah doa syukur. Kalau ada permohonan, hanya kerahiman Allah saja yang kita mohon: agar Ia mengampuni dosa kita dan membimbing perjalanan selanjutnya. Saya pikir, boleh juga tuh… Barangkali tidak mudah, namun bisa membawa ketentraman hati.

Senyum Dikulum

Situasi di bulan Maret – Mei 2020 memang tidak terlalu menenteramkan. Pembatasan berskala besar bagi para penduduk Indonesia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain menuai kepanikan. Ada yang panik karena khawatir tidak ketemu anggota keluarganya, ada yang panik karena takut ketularan virus Corona, ada juga yang panik karena pemasukan mereka menurun drastis. Jalanan di Kota-kota sepi dari kendaraan dan orang. Polusi sangat berkurang. Suasana tampak tenang tetapi pikiran banyak orang semakin tegang. Di lain pihak, ketegangan ini memicu kreativitas banyak orang di dunia, termasuk di Indonesia.

Kreativitas yang muncul sangat berguna untuk melenturkan ketegangan pikiran dan kepanikan emosi. Ini sehat secara psikologis. Banyak peristiwa lucu dan bahkan menjadi candaan di balik kengerian virus yang diam-diam mengancam itu. Entah disengaja atau tidak, daya kreativitas yang berkembang itu menguntungkan kebahagiaan manusia Indonesia.

Di antara teman-teman pun kadang terjadi kebodohan yang menggelikan. Karena tidak biasa menggunakan masker, sering kali makanan hampir masuk ke mulut barulah kami sadar bahwa masker belum dibuka.

Kemelut akibat virus ini juga membawa banyak keluarga semakin saling memahami kesulitan pekerjaan pasangannya dan dinamika anak-anak mereka sebab mereka bekerja dan belajar dari rumah (Work from Home). Memang saya dengar ada juga yang malah kemudian mengalami krisis. Namun, sejauh pengamatan saya, banyak keluarga memetik keuntungan dan menemukan bahwa kebahagiaan bersumber di rumah. Bahkan bakat anak-anak yang sebelumnya tidak kelihatan bermunculan dan mengagetkan orang tua. Semoga senyuman bahagia tetap selalu ada dalam perjalanan waktu mendatang.

Karantina Italia

Sembari menantikan kesempatan yang tepat untuk kembali ke Roma, saya mengumpulkan barang-barang yang perlu saya bawa. Dua buah koper untuk beban 30 kg terisi penuh. Saya tersenyum sendiri karena keduanya terisi dengan makanan semua. Tak ada ruang lagi untuk pakaian saya, kecuali di ransel. Biarlah saya tinggalkan hampir seluruh pakaian saya di Bandung. Toh di Eropa sekarang ini musim panas, pakaian minim pun sudah cukup haha… Awal Juli 2020, menjelang empat bulan berada di Indonesia, akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket kembali ke Roma.

Perjalanan kembali ini juga tidak kalah menegangkan, namun saya sudah lebih siap dengan berbagai peralatan perjalanan. Lucunya, Semua orang/penumpang selalu diperingatkan untuk menjaga jarak di setiap bandara yang kami singgahi, namun di dalam salah satu penerbangan, penumpang penuh dan boleh dikata ‘tanpa jarak’ di dalam pesawat.

Sesampai di rumah di Roma, semua prosedur saya jalani untuk isolasi mandiri yang kedua. Tentu saja saya mengisi waktu karantina dengan cara yang berbeda. Situasi di Italia semakin membaik , namun di Indonesia, pasien Covid-19 yang baru masih bertambah terus.

Semoga kita semua tetap waspada, menjaga diri dan orang lain dengan penuh tanggungjawab dan cinta.

Terimakasih saudara-saudara dan para sahabat yang menerima saya dengan tangan terbuka selama terkunci di negeri sendiri. Salam Sehat!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s